Inaq Tegining Amaq Teganang


Pada zaman dahulu, hiduplah seorang petani miskin dengan istrinya di sebuah gubuk tua. Sang petani bernama Amaq Teganang dan istrinya bernama Inaq Tegining. Mereka sehari-hari bekerja di ladang yang tak seberapa luasnya. Kehidupan mereka sangat sederhana, hanya mengandalkan hasil ladang semata. Namun, mereka tetap bersyukur.

Sudah hampir empat puluh tahun mereka berumah tangga, namun belum jua dikaruniai seorang anak. Mereka tak pernah berputus asa. Mereka tak pernah mengeluh. Mereka yakin, Tuhan memang belum berkenan memberikan momongan pada mereka. Berbagai cara sudah mereka coba. Namun, hasilnya tetap saja nihil.

Pada suatu malam, Inaq Tegining bermimpi. Rumahnya dimasuki rembulan yang bersinar dengan terangnya. Dia pun terbangun. Keringat membanjiri tubuhnya. Benar-benar mimpi yang aneh. Sampai shubuh menjelang, dia tak bisa memejamkan matanya. Perasaan kalut menyelimuti hatinya. Namun, ia tak bercerita pada sang suami. Ia jalankan aktifitasnya seperti biasa. Seharian bekerja menyiangi tanaman di ladang, cukup ampuh baginya untuk melupakan mimpi anehnya.

Malam hari sebelum beranjak ke peraduan, Inaq Teganang sempat teringat pada mimpinya tadi malam. Ia mencoba untuk tidak tidur lebih awal. Ia berbicang-bincang dulu dengan suaminya.

“ Amaq, payu keh Side minaq telage leq deket bebaleq ino? ( Pak, jadi nggak bikin kolam di dekat saung itu?)”

“ Insya Allah, payu, Seninaq-ku! Laguq Amaq masi meta kance juluq. Mun mesaq-mesaq, Amaq ndeq kuat. ( Insya Allah, jadi, Istriku! Tapi, saya masih nyari teman dulu. Kalau sendirian, saya nggak kuat).”

“ Nggih, keh! Mun ngeno jeq, becatan be de meta batur! Laun mun ne wah jari, kan deq te perlu jaoq-jaoq lalo mesiram. Endah mun te sembahyang, ndeq te perlu turun jaoq joq kokoq! ( Iya! Kalau begitu, cepetan aja nyari temen! Ntar kalo udah jadi, kita kan nggak perlu repot-repot untuk mandi. Juga kalau mau shalat, kita nggak perlu turun jauh-jauh ke sungai di bawah).”

“ Tenang bae! Ahad ine, Insya Allah Amaq mulai nggali tanaq ino! (Tenang aja! Minggu ini, Insya Allah saya akan mulaikan penggalian tanahnya!)”

“ Ndeq de ngantok keh? Leh, wah abang ruan matande! Uwah bis kupinde? (Bapak nggak ngantuk? Mata Bapak kayaknya udah merah gitu! Udah habis kopinya?)”

“ Mun bi ngantok, tindoq wah juluan! Meletku gitaq terang bulan ine. Bagus epe manjuran… (Kalau Kamu ngantuk, tidur aja duluan! Saya mau ngeliat bulan purnama ini. Indah sekali…)”

“ Nggih, keh! Mun ngeno jaq, tiang tindoq wah juluan! Lelah tiang ne. ( Ya udah! Kalo gitu, saya duluan tidur ya? Saya capek sekali.)”

Inaq Tegining masuk ke dalam rumah, bersiap-siap tidur. Sementara suaminya, Amaq Teganang, asyik sendiri menikmati bulan purnama. Segelas kopi dan sepiring ubi bakar masih mengepul, menemani Amaq Teganang. Rokok di jemarinya juga tampak menyala. Sekali diisap, asapnya menghembus memberikan hangat di dadanya.

Malam makin beranjak larut. Bulan juga makin meninggi. Suasana di sekitar persawahan mereka tak kalah senyapnya. Maklum, mereka tinggal di tengah sawah yang membentang luas. Tetangga terdekat pun berjarak satu kilo dari rumah mereka. Di saat-saat seperti ini, hanya suara jangkrik, kodok, dan hewan malam lainnya yang terdengar. Serak burung hantu dan sepoi angin malam juga sering meningkahi. Dingin tak bisa dihindari. Apalagi kabut kadang-kadang datang menyelimuti.

Di tempat tidur, Inaq Tegining belum juga memejamkan matanya. Meski ngantuk, namun bayangan mimpi tadi malam, masih menghantui
nya. Pertanda apakah itu? Bunyi kentongan pertama lewat tanpa pejam yang berarti. Dua kali, tiga kali, akhirnya mata Inaq Tegining terpejam dengan sendirinya. Bilaman kantuk telah menyerbu dengan dahsyatnya, seseorang takkan kuasa menolaknya.

Amaq Teganang pun sebenarnya sudah lama melepaskan lelah. Ia tertidur di bale-bale bambu yang hanya dilapisi tikar pandan. Lelah menyergap, tidurlah obatnya.

Kali ini, giliran Amaq Teganang yang bermimpi. Dalam mimpinya tersebut, ia melihat rembulan yang bersinar sangat terang memasuki rumahnya dari atas. Ia pun terbangun dengan bersimbah keringat. Mimpi aneh. Tak pernah sekalipun ia bermimpi seperti ini. Ada apakah gerangan? Ia bertanya-tanya dalam hati. Gelisah, ia pun tak bisa memejamkan mata lagi. Apalagi kokok ayam jantan mulai mampir di telinganya. Ia bangun, mengambil air wudlu’ di pancuran, lalu shalat tahajud dua rakaat.

Seminggu berjalan, selama itu pula mimpi yang sama mendatangi pasangan suami istri tersebut. Namun, tak ada yang mau membuka suara, menceritakan mimpi masing-masing. Hingga penggalian tanah untuk kolam dimulaikan, barulah Inaq Tegining angkat bicara.

“ Amaq… Taoq de keh? Seminggu ine, bilang kelem tiang berimpi siq pada. Impin tiang aneh. Bulan teriq lekan atas tipaq balen te. Araq ape jei? (Pak, tau nggak? Sudah seminggu ini saya bermimpi. Mimpi yang sama tiap malamnya. Mimpi saya aneh. Bulan jatuh dari atas menimpa rumah kita. Ada apa ya?)”

Amaq Teganang langsung menghentikan ayunan cangkulnya. Dahinya berkerut. Alisnya naik sebelah. Ia terdiam sebentar. Lalu berkata.

“ Kanso ne pada impin te? Amaq endah berimpi siq persis maraq ongkat bi. (Loh? Kenapa mimpi kita sama? Saya juga bermimpi, persis seperti apa yang Kamu katakan tadi).”

“ Pacun de keh? (Beneran, Pak?)”

“ Nggih! Amaq endah bilang kelem ndeq bau tindoq. Gare-gare mimpi siq aneh ino! ( Ya! Saya juga tiap malam nggak bisa tidur. Gara-gara mimpi yang aneh itu!)”

“ Araq ape ah? Tande rejeki ato…(Ada apa ya? Pertanda rezeki atau…)”

“ Insya Allah, rejeki. Ongkat dengan toaq jeq, mun te berimpi ndait bulan siq besinar terang, ino pertande mun rejeki gen dateng. Mudahan so! (Insya Allah, rezeki. Kata orang tua, kalau kita bermimpi didatangi rembulan, itu pertanda kalau kita bakal dapat rezeki yang tak terduga. Mudah-mudahan sih)”

“ Amiiin…”

Seharian, Amaq Teganang mampu menggali sedalam satu setengah meter, seluas tujuh meter persegi. Ia hanya dibantu oleh Inaq Tegining. Tetangga yang dimintai tolong kebetulan sedang berhalangan. Tapi, mereka tetap saja mulaikan penggalian karena memang sudah diniatkan untuk mulai hari Minggu ini. Sebuah pekerjaan yang tak terlalu berat bagi sepasang suami istri yang sudah terlatih menaklukkan alam tersebut.

Malamnya, sepasang suami istri ini sepakat untuk tidak tidur. Meski capek mendera, namun mereka merasa malam ini akan ada kejutan buat mereka. Entah itu apa. Namun, firasat mereka mengatakan demikian. Kalau salah satu di antara mereka tertidur, satunya lagi akan membangunkan. Inaq Tegining tampak lebih segar daripada Amaq Tegining. Firasatnya lebih kuat berkata bahwa malam ini anugrah itu akan datang. Lain dengan Amaq Teganang yang lebih sering dibangunkan oleh istrinya.

Lama mereka menanti. Sudah lebih dari satu cerek kopi yang mereka habiskan. Tengah malam, perut mulai keroncongan, Inaq Tegining pun berinisiatif ke dapur. Ia siangi kangkung yang dipetiknya tadi sore. Ia ingin membuat pelecing. Kebetulan sekali Wak Bedul selepas isya tadi datang membawakan sembilan ekor ikan karper hasil usaha kolamnya. Inaq Tegining pun membangunkan sang suami untuk membantunya membakarkan empat ikan karper. Nasi yang m
engepul
, pelecing yang pedas, dan empaq karper tunuq yang dilumuri sambal tomat, serta lalapan segar hasil tani mereka, akhirnya terhidang di atas bale-bale bambu. Tanpa menunggu lama, hidangan panas itu pun mereka sikat habis.

Akhirnya, waktu yang mereka tunggu pun tiba. Ketika Inaq Tegining sedang membersihkan piring-piring yang kotor di belakang dan Amaq Teganang mulai menyalakan sebatang rokoknya, tiba-tiba saja kru Allez Cuisine Indosiar datang di gubuq mereka. Selain itu, Om Hangtuah alias Om Wisata Kuliner, salah seorang MPers yang banyak digilai pencinta kuliner, juga hadir untuk wawancara dan observasi langsung mengenai proses pembuatan pelecing.

Lain lagi dengan Kru Allez Cuisine yang sengaja datang jauh-jauh dari Jakarta, khusus untuk ngasih tantangan pada Inaq Tegining dan Amaq Teganang untuk mendemonstrasikan cara pembuatan pelecing di dapur mereka di Jakarta. Sebuah acara lomba memasak yang disiarkan seantero nusantara itu.

“ Ya Allah…Inaq, ine keh arti impin te siq bilang kelem ino??? ( Ya Allah… Inaq, inikah arti mimpi kita yang tiap malam itu???)”

Mereka bener-bener surprise! Nggak nyangka aja kalo ada seorang MPers bernama lafatah, Putra Lombok, secara diam-diam menyebarkan informasi makanan khas Lombok ini di dunia maya.

Subhanallah! Inikah arti mimpi mereka semingguan ini???

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s