Menejemen Kemos: Gue Out Of Control


Senyum itu sedekah.

Senyum berlebih, itu berkah.

Senyum tak terkontrol, itu bencana(h). hehehehe…


Mpers yang saya cintahi dan saya sayangi sepanjang hari tanpa henti-henti. Hmmm…***penyakit hiperbolik mulai kumat***

Saya mau curhat nih! Perhatiin baek-baek ya? Jangan hiraukan yang laen! Jika Anda nyoba klik-klik link yang laen, berarti Anda tidak perhatian ama saya. Saya bakal ngambek. Saya bakal mogok makan selama dua jam. Saya juga bakal ngelapor ama Pak RT. Ngadu kalo saya tuh mulai kurang beres. Loh???

Okeh, back tu beck! (Ini kan acaranya Becky Tumewu di Metro TV?)

Senyum…Smile…Kemos (bahasa Sasaknya).

Manusia mana di muka bumi ini yang gak bisa senyum??? Manusia dikasih bibir buat senyum. Kalo gak senyum, dia bukan manusia. Ato kalo pun dia manusia, giginya pasti ompong ato gak pernah sikat gigi ato lagi sariawan.

Senyum itu ibadah, lebih tepatnya sedekah. Nah, ini dia masalahnya. Saking terinspirasinya dengan hadis ini, cieeee…., saya pun terkadang senyum tak pandang bulu. Bulu yang keriting, saya senyumin. Bulu yang lurus, saya senyumin. Yang gimbal juga iya. Yang bulunya berombak, iya. Yang bulunya lebih mirip gelombang tsunami pun, saya lemparin senyum. Intinya, saya senyum tanpa liat bulu. Bulu ketek, apalagi.

Inilah kebiasaan saya. Sebagai pendatang baru di dunia selebritis, huekkksss…, pendatang baru di Tanah Jawa maksudnya, saya menerapkan prinsip ini kuat-kuat di bibir saya. Ketika bertemu dengan orang baru, ketika diajak ngobrol, ketika masuk warung, ketika di dalam kendaraan umum, saya tersenyum pada orang sekitar. Tapi, karena saya masih normal, so pasti senyumnya liat suasana. Nggak sekedar tebar pesona, senyum unta, nyengir kuda, tapi terpenting dari itu semua adalah JAGA IMEJ. Senyum jaim. Yeah… ces’t moi!!!

Tapi, adakalanya, jika hati saya sedang berbunga-bunga (beneran tumbuh loh bunga-bunga dari hati saya, hehehe), maka senyum pun jadi tak terkendali. Lempar senyum sana-sini. Apalagi sama orang yang lebih tua dari saya, paling gampang banget buat saya lemparin senyum. Karena saya ngelempar senyum, mereka pun menangkap senyum saya itu, lalu dikunyah mentah-mentah hingga bikin saya hampir saja muntah-muntah. Untung saja sampai detik ini tidak ada nenek-nenek yang naksir sama saya. Kalo ada, alamaaaaaaaaaaakkkkk…mendingan kabur aja! Balik ke kandang. Kampung halaman. Tanah Lombok yang pedes namun tetap kucinta.

Senyumlah! Tapi, jangan setengah-setengah…

Senyumlah dari hatimu yang paling tulus.

Senyum yang ikhlas, tidak hanya mendatangkan simpati, namun juga dicatat sebagai sedekah. Berpahala gitu looooo….

SENYUMLAH!!!

Hayooo…Senyum!!! Yang manyun, gak mau senyum, pasti belon cikat gigi…

Iklan

6 thoughts on “Menejemen Kemos: Gue Out Of Control

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s