Natal Vanila & Rumah Pelangi

Vanila berdecak kagum. Matanya berbinar. Sedetik kemudian, ia langsung bersorak.

“ Pa, inikah rumah baru kita? Rumah pelangi dalam dongeng Papa itu? Beneran kan, Pa?”

Papa hanya tersenyum. Lalu melirik ke arah mama yang baru saja menurunkan kakinya dari mobil. Mama membalas dengan senyum.

Vanila langsung berlari ke arah rumah barunya. Kaki mungilnya menginjak rerumputan hijau yang tumbuh di atas jalan kecil yang menuju rumah. Sepanjang kiri kanan jalan itu ditumbuhi tanaman bunga beraneka warna. Sebuah kolam kecil di tengah taman depan rumah begitu jernih airnya dengan ikan-ikan kecil warna emas.

Begitu Vanila sampai di pintu rumah yang tentu saja masih terkunci, ia membalikkan badannya, melihat sekeliling. Senyumnya terkembang. Kakinya yang bersepatu polkadot merah ia hentak-hentakkan di lantai marmer. Rambutnya yang dikepang dua, ia goyang-goyangkan. Dia benar-benar gembira.

Aku pun ikut bahagia.

“ Ma, es krimnya langsung dimakan, ya? Haus nih…” rajuk Vanila pada mamanya.

“ Iya, Sayang! Bantu mama bawa tas ini, dong!” kata Mama sambil menyerahkan sebuah tas kecil milik Vanila sendiri. Berisi buku tulis, kotak pensil, dan tentu saja botol minumannya. Pulang sekolah, Vanila dijemput papa sama mamanya. Lalu, kami berlima dengan supir, langsung ke rumah baru. Rumah yang lama sudah habis masa kontraknya. Sekarang kami punya rumah sendiri. Vanila menyebutnya, Rumah pelangi. Warna-warni.***

“ Mo, Vanila kangen banget sama Papa. Kapan ya Papa pulang? Nanti kalau Papa pulang, Vanila mau dibawain sekotak cokelat. Mmm…enaaaak…!!!”

Aku diam saja. Sepatah kata pun tak menyahut.

“ Sebentar lagi kan Natal? Kamu mau hadiah apa, Mo? Biar nanti aku ngomong sama Papa agar Kamu dibelikan sesuatu. Barbie? Spiderman? Batman? Robin Hood? Lillo? Atau Little Mermaid?” Vanila kembali berceloteh.

“ Ah, kalo Spiderman, nanti Kamu diajak loncat-loncat dari satu gedung ke gedung lainnya. Aku takut kalau Kamu sampai jatuh. Batman? Aku benci kelelawar. Giginya tajam, hobinya keluar malam, suka keluyuran. Pokoknya, jangan sampai deh Kamu berteman dengannya. Oya, gimana kalau Little Mermaid? Dia kan suka menyelam di laut. Kita juga sama-sama penyuka laut. Bukannya begitu, Mo?”

Aku tak menanggapi. Teman mainku sudah lumayan banyak. Kalau Natal tahun ini aku diberikan seorang atau beberapa teman lagi, aku mau-mau saja. Punya banyak teman itu menyenangkan.

Pintu kamar Vanila dibuka. Mamanya masuk. Sementara Vanila cuek saja. Tak sedikit pun hiraukan kehadiran mamanya. Ia terus bercerita.

“ Mo, mau nggak tukeran? Aku jadi Kamu dan Kamu jadi Aku. Kayaknya asyik deh, Mo! Mau ya? Hayooo… Mau kan?”

Aku membisu. Kupandangi mama yang berdiri di samping ranjang Vanila. Tangannya bersedekap. Lalu, ia geleng-gelengkan kepala. Napasnya terhembus, berat.

“ Vani, mandi dulu dong, Sayang! Kamu nggak kangen sama teman-teman sekolahmu?” Mama berkata dengan lembut. Diraihnya kepala Vanila dan mengelus rambutnya mesra. Inilah yang dilakukan Mama setiap pagi selama dua bulan terakhir ini.

“ Mo, natal ini papa pulang, kan?”
Aku tak menggangguk. Juga tidak menggeleng. Jujur, pertanyaan yang sangat sulit bagiku. Apalagi mama.

“ Sayang, mandi dulu, ya? Habis itu, kita sarapan. Mama sudah nyiapin sarapan kesukaan Kamu di meja makan. Roti keju selai pelangi.”

Mama pun meraihku dari pelukan Vanila. Gadis manis berparas seperti Jasmin, pacarnya Aladin itu, tak protes. Ia diam saja menundukkan kepala. Menyambut tangan mama yang terulur padanya, lalu turun perlahan-lahan dari atas ranjang. Agak enggan. Ya, hanya mama yang mampu membuatnya luluh. Bi Imah atau Bi Iyem, dua pembantu di rumah ini, tak pernah sanggup menghadapi Vanila. Gadis yang belakangan ini mulai jarang senyum itu, selalu ngamuk. Ia akan melempari mereka dengan bantal atau benda-benda lain yang ada di dekatnya, seperti buku-buku, vas bunga, botol parfum, juga kalung batu etnik. Bahkan, aku pun pernah dijadikan alat melempar. Sakit sekali rasanya ketika tubuhku terbentur pada lantai.

Vanila akan berteriak histeris. Memanggil papanya agar segera mengusir dua pembantunya tersebut. Bi Imah dan Bi Iyem tentu saja ketakutan. Mereka kapok masuk kamar Vanila. Tapi, giliran mamanya muncul, gadis itu perlahan-lahan tenang. Seolah-olah peri penyelamatnya telah datang.***

Papa Vanila adalah sosok papa yang sangat penyayang pada semua anggota keluarganya. Ia
baik hati, jarang marah, murah senyum, dan pintar mendongeng. Meskipun sering pulang larut malam karena lembur, namun ia selalu menyempatkan diri ke kamar Vanila. Mendongengkan sebuah cerita untuknya. Tak jarang Vanila yang sudah tertidur, terbangun karena lampu kamar yang dinyalakan. Papa akan mendongeng sampai Vanila tertidur lagi. Sebelum keluar, papa tak pernah lupa memberi sebuah kecupan di kening Vanila.

Papa Vanila juga tipe pegawai yang rajin dan jujur. Prestasi kerjanya di kantor terus meningkat. Seringkali ia direkomendasikan untuk mewakili perusahaan dalam berbagai pertemuan. Biasanya ke luar kota. Ke luar negeri juga pernah, meski cuma tiga kali. Singapura, Malaysia, dan Australia. Minggu depan, rencananya papa akan terbang ke Negeri Samurai, Jepang.

“ Vani, Minggu depan kan Papa mau ke Jepang? Kamu mau dibawain oleh-oleh apa?” tanya Papa suatu sore sambil duduk-duduk di beranda samping rumah. Rumah pelangi. Warna-warni.

“ Wah, Vanila sih sebenarnya pengen ikut, Pa!”

“ Tapi, sayangnya nggak boleh…” ujar Papa mendahului. Lalu terkekeh.

“ Uuuuhhh…Papa! Kapan dong Vanila diajak ke luar negeri? Kan, enak tuh, Pa! Bisa lihat pemandangan bagus. Bisa belanja di mall. Bisa jalan-jalan. Main salju. Terus, bisa lihat pelangi dari dalam pesawat. Asyik banget deh, Pa! Nggak kebayang di kepala Vanila…”

“ Suatu saat nanti, Kamu pasti akan Papa ajak ke luar negeri. Sama mama Kamu juga.”

“ Sama Elmo juga!!!”

Lalu tubuhku diguncang-guncangkan keras. Kulihat ekspresi bahagia terpancar di wajah Vanila. Gadis kecil yang menginjak remaja ini tampak makin manis saja. Aku yang katanya akan diajak ke luar negeri, hanya bisa terdiam.

Hari Minggu yang tenang, musibah itu datang. Pesawat Papa jatuh dihantam badai taifun bulan Oktober. Hingga dua bulan, jenazahnya belum ditemukan. Mama hanya bisa pasrah. Sementara Vanila belum sepenuhnya menerima kepergian papa. Jiwanya terguncang. Rumah pelangi diliput suram. Tak lagi warna-warni.***

Ini malam Natal.

“ Ma, hujan salju! Hujan salju turun di kamar Vanila! Bagus banget, Ma! Difoto dong, Ma!”
Vanila berteriak kegirangan. Tangannya tampak memegang gunting dan sebuah bantal yang telah sobek. Bulu-bulu putih isi bantal itu berhamburan di kamarnya yang gelap. Kamar yang sengaja ia matikan lampunya.

Vanila kembali mengambil sebuah bantal. Menusuknya, mengguntingnya, dan mengeluarkan isinya. Lalu, ia hamburkan bulu-bulu ringan itu ke atas langit-langit kamarnya. Turun lagi sebagai salju. Salju di mata Vanila.

Mata Vanila benar-benar berbinar. Tak sesayu hari kemarin dan kemarinnya lagi. Dari sore tadi ia bercerita terus. Ngomong sendirian. Mengajak aku berbincang. Namun, entah sampai kapan, mungkin seterusnya, aku takkan mampu bicara. Menjawab pertanyaannya. Menyela bicaranya.

Tiba-tiba…

Pintu kamarnya diketuk. Gagangnya bergerak ke bawah. Perlahan terbuka. Sesosok bayangan panjang jatuh di lantai. Setahuku, bukan bayangan mama.

Rumah pelangi kembali warna-warni.
***

Surabaya, 7 Desember 2007

Iklan

4 thoughts on “Natal Vanila & Rumah Pelangi

  1. masfathin said: Sederhana sekali bahasanya Tah 🙂 aku kudu belajar banyak ini 🙂

    Pake bahasa tingkat tinggi, takutnya pembaca gak ngerti.Apalagi sasaran pembacanya kan umum, apalagi ini kolom Deteksi buat pelajar.hehehe… Mariii kita belajar bareng, Cek.

  2. nunikutami said: Ini yang dimuat di jawa Pos kan? Ohh bahasanya ngepop ya? Aku pikir yang nyastra ato literer gitu…

    Saya juga pernah nyoba ngirim ke kolom Sastra yang hari Minggu itu.Tapi, gitu. Masih berat, menurut saya. Nyastra nian. Sasaran pembacanya pun lebih terbatas kayaknya.Oya, ini untuk kolom Deteksi-nya Jawa Pos yang terbit di Surabaya 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s