Potong Bebek Senja


Kacau!

Benar-benar kacau!

Apa karena demam panggung? Apa karena nervous alias grogi? Entahlah! Atau mungkin gara-gara kurang latihan. Mmm…perhaps!

Itulah kejadian yang aku alami saat mengikuti lomba baca puisi se-Propinsi NTB di Gedung P&K Mataram. Waktu itu masih kelas satu. Entah dapat gosip dari mana, tiba-tiba saja guruku main tunjuk.

“ Tah, Kamu ikut lomba baca puisi, ya? Ini teksnya! Silakan dipelajari!”

Guruku ngasih teksnya sore hari, padahal lombanya besok pagi. Padahal ketika guruku menyodorkan teksnya, aku sedang berkeringat dan puyeng mengerjakan soal-soal Seleksi Olimpiade Fisika Tingkat Kabupaten. Praktis, hari itu dan besoknya lagi, aku mengikuti dua lomba. Hhhhh…sama-sama menguras energi.

Keluar dari ruang kelas, aku segera pulang menyiapkan pakaian dan tetek-bengek untuk lomba baca puisi esok hari. Azan maghrib, guruku pun datang menjemput. Perjalanan Selong – Mataram memakan waktu kurang lebih satu jam. Ada kesempatan buat latihan di dalam mobil. Waktu itu, nggak cuman aku, seorang partner lomba, dan guruku saja yang ikut. Kami satu mobil dengan kakak-kakak kelasku yang akan bertanding cerdas cermat. Ada Mbak Prima, Habibi, dan Marhadi. Mereka adalah Trio Macan sekolah kami dalam lomba-lomba akademis seperti itu.

Kami, kontingen lomba baca puisi, ternyata tidak satu penginapan dengan kakak-kakak kelasku itu. Sementara mereka nginep di Mereje, aku, partner lomba yang juga kakak kelasku, serta guruku diinapkan di Wisma Nusantara.

Guru Bahasa Indonesia yang mendampingi kami itu bisa kubilang tidak terlalu bisa deklamasi puisi. Nggak terlalu kompeten deh di bidang ini. Tapi, untung saja aku sudah punya pengalaman ikut lomba baca puisi sejak SD. Jadi, nggak terlalu asing. Tinggal gimana eksplorasi penghayatan saja. Memahami puisi jaman SD tentu saja beda banget ama puisi yang akan kubaca pas lomba besok. Lebih nyastra. Bahasanya ‘kelas atas’. Selain masalah teknik, seperti suara, intonasi, mimik wajah, dan bahasa tubuh, tentu saja penghayatan amat sangat dibutuhkan. Dan…bagian inilah yang sulit. Setidaknya, bagiku.

Aku masih ingat, aku hanya akan membaca satu puisi saja. Tidak ada puisi wajib dan puisi pilihan. Yang ada hanyalah, beberapa puisi, tinggal pilih salah satu saja. Ok! Sebelum tidur, aku dan kakak kelasku mempelajari puisi yang akan kami bawakan esok pagi. Untung boleh bawa teks. Puisinya rada-rada panjang. Dihapal dalam sekian jam, tentu saja nggak bisa. Belum menginterpretasi. Hhhhh….

Keesokan harinya, kami bangun lebih pagi. Mau mengulang latihan tadi malam. Untung di kamar penginapan kami ada cermin besar. Jadi, kami bisa latihan di depan cermin. Mencari ekspresi yang tepat. Meski, tentu saja kami tak leluasa. Pasalnya, ini penginapan, bukan lapangan bola. Kami latihan dengan mulut megap-megap kayak ikan mas koki lagi napas. Tanpa suara. Hanya bibir kami yang bergerak-gerak. Sesekali aku berteriak, pada bagian-bagian tertentu yang menurutku, harus teriak. Tapi, tetap saja. Teriakan yang ditahan. Kami nyadar, ada tamu lain di kamar sebelah.

Akhirnya, setelah mandi dan sarapan pagi, kami pun berangkat. Mending dijemput pake mobil. Ini nggak. Ke gedung P&K kudu naik angkot kuning khas Mataram. Bettapaaaa… Nggak enaknya, rutenya itu loh! Muter-muter. Tapi, nggak apa-apa deh. Itung-itung bisa liat hiruk-pikuk biar bisa rileks sedikit. Nggak nervous gitu. Tapi, begitu angkotnya berhenti di depan gedung lomba, hati ini kembali deg-degan.

Masuk ruangan lomba, ternyata peserta masih belum banyak yang datang. Aku mengambil tempat duduk yang enak biar bisa sekalian merhatiin peserta lomba yang lain. Wuiiihhh…tampang-tampang puitis jelas tergambar di wajah mereka. Banyak dari mereka yang terlihat tenang. Tapi, nggak tahu juga sih, gimana detak jantung mereka. Mungkin sama dag dig dug-nya denganku.

Untuk mengusir nervous, aku sempat menyapa beberapa peserta lomba. Nanya nama, asal sekolah, ukuran sepatu, punya ayam berapa di rumah, dan suka main gasing apa nggak! Hehehe….nggak dink! Aku cuman nanya nama dan asal sekolah mereka doank kok! Terus, mereka ke sini sama siapa, yang wakilin sekolah mereka berapa anak, dsb. Pokoknya, basa-basi tanpa gizi deh!

Kalau nggak salah, setelah dilakukan pengundian, aku dapat nomor urut ke-26. Yeah, nomor 26. (Lupa-lupa inget soalnya). Okeh. Lumayan jauh. Jadi, aku masih sempat memetakan kekuatan lawan. Halah…

Silih berganti para peserta naik ke atas panggung. Penampilan mereka bagus-bagus. Apalagi yang cewek-cewek. Suara mereka bisa melengking dengan jernih. Ekspresi mereka juga sangat meyakinkan hingga penonton bisa diajak masuk ke dalam puisi yang mereka bawakan. Four thumbs up deh buat mereka!

Tibalah giliranku.

“ Nomor urut dua puluh enam atas nama Lalu Abdul Fatah…”

Jeng-jeng-jeng-jeeeeng… Backsound yang kucipta di dalam hatiku, langsung berbunyi.

Dengan langkah tegap, aku naik ke atas panggung. Kutatap dewan juri yang terdiri atas sastrawan lokal itu. Lalu kuanggukan kepala. Tak lupa kuedarkan pandangan pada penonton. Tebar pesona, lebih tepatnya.! Kekekekeke….

Dan di sinilah kedodolan, kebobrolan, kegrogian, dan kekacauan itu dimulai…

Aku kan bawain puisinya Hamid Jabbar. Judulnya “Potong Bebek Angsa”. Tapi, entah dari mana wangsit itu kudapatkan. Wangsit yang menyesatkan. Wangsit yang membuyarkan konsentrasiku. Wangsit yang membuatku merasa berubah jadi sekecil upil. Aku salah membacakan judulnya. Bener-bener goblok deh rasanya pas aku bilang.

“ Hamid Jabbar dalam karyanya Sepotong…Bebek…Senja…”

Alamaaaak!!! Reputasiku hancur saat itu juga. Dewan Juri sempat terpana. Para penonton menganga mulutnya. Sekilas kulihat ekspresi guruku yang memandangku. Seperti dibisikkan, lanjutkan! Ulangi dari awal!

Aku pun mulai dari awal. Membaca judul puisi dengan perasaan yang sudah kacau balau. Aku jadi tidak mampu mengeksplorasi ekspresi. Setiap bait yang kubaca, terasa hambar di hatiku.

Benar-benar lomba baca puisi yang tidak akan kulupakan seumur hidupku. Aku akan tetap mengingat sastrawan Hamid Jabbar yang puisinya aku bawakan. Dan, aku pun semakin mengenang beliau ketika beberapa bulan kemudian, beliau pamit menghadap Illahi Robbi…

Oya, nomor pesertaku masih aku simpen loh di buku harianku!!! J

Iklan

12 thoughts on “Potong Bebek Senja

  1. lafatah said: Dan di sinilah kedodolan, kebobrolan, kegrogian, dan kekacauan itu dimulai… Aku kan bawain puisinya Hamid Jabbar. Judulnya “Potong Bebek Angsa”. Tapi, entah dari mana wangsit itu kudapatkan. Wangsit yang menyesatkan. Wangsit yang membuyarkan konsentrasiku. Wangsit yang membuatku merasa berubah jadi sekecil upil. Aku salah membacakan judulnya. Bener-bener goblok deh rasanya pas aku bilang. “ Hamid Jabbar dalam karyanya Sepotong…Bebek…Senja…”

    hayahhhmk na sebelom naek panggung baca doa dulu fatah

  2. iya nih!!! bener banged… kayaknya terlalu sibuk ama peserta yang lain, so lupa gitu baca doanya…heeeeeeuuuuuhhh…kacau banget deh waktu itu!!! turun dari panggung, udah lesu gitu. nggak ada harapan menang…

  3. meylafarid said: kekeke…ko bisa melenceng gt sih???? pasti bawainnya senja hari :))

    nggak niih!!!justru baca puisinya siang2 gitu…tapi, kebetulan ada peserta sebelum saya yang dalam puisinya nyebut kata2 “Senja”eh,,,kok jadi inget terus ama kata itu. So, kebawa deh di puisi saya…

  4. FATAH, kamu suka nulis-nilis di dunia maya ya….aku juga lagi mengeksplorasi bakat terpendamku yang slama ini lom muncul….liat aja nanti tulisan puitis dan rumus-rumus terkenal yang udah menggumpal di otak dan hati itu….mungkin dengan menuangkan di blog kaya gini bisa meringankan beban dan insyaAllah bermanfaat buat khasanah keilmuan….dan juga seni….dan yang pasti CINTA……marhadigmu.multiply.com

  5. Ping-balik: Mana Daunmu? | Setapak Aksara

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s