Go Rock Cambink!!!

Aku tahu, Cambink pasti sedang gelisah. Gelisah tingkat tinggi, tepatnya. Aku bisa liat dari tatapannya yang nanar. Tingkahnya yang tidak mau diam. Berkali-kali ia hentakkan kakinya ke tanah. Lehernya yang terjerat ‘tali kemesraan’ ia goyang-goyangkan. Tampak sekali ia ingin lari. Lepas. Bebas. Menikmati kembali hari-hari indahnya bersama teman-teman di peternakan. Duh, Cambink! Segitunya…

Aku, Enong, Abib, dan Jahed sebentar lagi akan menjadi saksi sekaligus pelaksana eksekusi. Di antara kami berempat, jujur, hanya aku yang tidak tega dengan aksi sadis yang akan kami laksanakan beberapa saat lagi. Selain cinta binatang, sungguh aku juga takut ngeliat darah. Proses penyembelihan si Cambink, bagiku nggak cuman siksaan fisik bagi dia, tapi juga siksaan batin buat diriku pribadi. Ya Allah… Haruskah aku menyaksikan pembantaian ‘suci’ ini???

“ Tah, ini bukan pembantaian! Jadi, sebagai pencinta binatang sekaligus insan yang beriman dan bertakwa pada Allah SWT, Kamu harus bisa bedain, mana bantai mana bunuh. Mana petai, mana jengkol, mana kedelai. Okeh?” Abib, kakak kedua, menasihatiku.

“ I know! Gw tau. Taoq ku. Saya tahu. Tapi, aku belum bisa terima cara elo2 pada memperlakukan si Cambink!!! Aku gak masalah lagi ama istilah bantai atau bunuh atau sembelih. Tapi, caranya itu loh?! Apa nggak ada yang lebih hewani lagi?!” protesku.

“ Tah, Kamu belajar agama kan? Kamu tahu arti kasih sayang kan? Tiap hari merasakan kasih sayang itu kayak gimana kan? Pernah belajar biologi kan? Ngerti psikologi kan?” cecar Jahed, kakak tertua.

“ I know! Gw tau. Taoq ku. Saya tahu. Emang, hubungannya apa? Jangan sok intelek gitu deh, Kak! Ngeluarin istilah macam-macam tapi bikin orang pusing, cuma buat gagah-gagahan doank! Apa bukan sok namanya?!

“ Tah, kami tau kalo Kamu tuh aktivis lingkungan. Penyayang binatang. Tapi, kalau keras kepala Kamu udah keluar, dibanting sekeras apapun, kepala Kamu nggak bisa juga penyok. Hahahaha….” Enonk terbahak-bahak, diikuti oleh bahakan dua saudaraku yang lain.

“ Gak lucu! Lelucon jayus!!!”

Haaahhhh… Si Cambink ngomong? Dia bisa ngomong? Barusan…

Kami semua terpana. Mulut kami menganga seperti gua. Mata kami terbuka lebar, selebar daun pepaya. Oh, ini pasti hanya ilusi saja! Aku, si pembuat cerita, juga tidak percaya!

“ Siapa yang ngomong?” Jahed bertanya. Sebuah pertanyaan konyol yang siapapun di sana tak bisa menjawabnya.

“ Si…siii… Cammmm…mmmm…Biiink?” Abib tergagap.

“ Bink, Kamu ya yang ngomong barusan?” Kini, Jahed beralih pada si Cambink. Seekor kambing jantan yang masih remaja. Masih muda. Lumayan ABG (Alim, Baek hati, Copan). Makanya, aku nggak akan tega ia disembelih. Sangat tidak tega.

“ Bink, jawab!!!” Enonk maju ke depan si Cambink. Dia melototin si Cambink. Makhluk yang dipelototin cuman diem aja. Kayak pendekar yang udah nggak bisa berkutik lagi.

“ Tah, tadi yang nyahut bukan Kamu, kan?” tanya Jahed.

“ Not me! Bukan gw. Ndeq!”

“ Jadi, si Cambink? Gituuu?”

“ Tau! Tanya aja ama si Cambink!” ujarku cuek.

“ Bink, jawaaaabbb!!!” Si Enonk teriak hingga mengejutkan kami semua.

Abib maju juga. Di tangannya ada sepotong ranting kayu. Lalu, tanpa ba-bi-bu, ia lecut pantat si Cambink. Berulang-ulang. Dengan beringas. Agar si Cambink buka suara?

“ Kak, hentikan! Itu perbuatan bodoh! Seperti membuang garam ke sayur asin! Nggak nyambung!” Aku teriak sejadi-jadinya. Di mata seorang pencinta binatang seperti aku, sungguh ini keterlaluan.

“ Kak, apakah ini ajaran agama kita? Nggak kan? Menyiksa binatang sama aja dengan menyiksa hewan. Agama ngajarin kita berkasih-sayang. Nggak cuman sesama manusia, tapi juga makhluk hidup yang lain. Kakak nyadar kan? Pada tahu kan? Kan?”

“ Kambing bodoh! Tolol!” umpat Enonk. Dua kakakku yang lain ikut bersumpah-serapah. Ngeluarin kata-kata sampah.

“ Oke! Daripada ngeributin siapa yang ngomong barusan, mendingan kita sembelih saja si Cambink sekarang! Ini waktu makin siang saja. Biar kita cepat bagi-bagiin daging si Cambink pada yang berhak nerimanya, ” putus Jahed.

Abib dan Enonk mengangguk hampir bersamaan.

“ Kak, tidakkah kalian dengar pintaku. Sekali ini saja. Kumohon. Jangan sembelih si Cambink. Aku nggak mau dia dikorbankan sedemikian rupa. Bayangkan deh sakitnya digorok, dikuliti, dan dinikmati dagingnya! Pasti enak…I love daging kurban gitu loh!!! Hahahaha…”

Enonk, Abib, dan Jahed terpana. Dalam hitungan detik, aku berubah jadi setan Cambink. Kambing maniak. Hahahaha…

PS: Selamat Hari Raya Iedul Adha 1428 H

Semoga Keteladanan Ibrahim dan Ismail bisa kita resapi dan laksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Amiiin…

Iklan

6 thoughts on “Go Rock Cambink!!!

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s