Berburu Adenium Hingga Batu

Sehabis Jumatan, aku ama Ndutz, temenku, berburu tanaman hias, adenium. Tanaman yang sedikit pun tidak memiliki keistimewaan di mataku itu, kami buru hingga Batu, Malang. Sebelumnya, kami nyari di Splendid, tapi koleksi adeniumnya sedikit. So, si Ndutz mutusin untuk mencari di Batu. Aku sih, oke2 aja! Yeah, sekalian cuci mata. Kan, pemandangannya bagus tuh!

Sebenarnya, nih adenium dipesan sama adiknya si Ndutz di Lombok sana. Tadi malam, dia tiba-tiba nongol di kamar asrama tempatku menginap selama berada di Malang. Dia, turun di Juanda, langsung ngebut ke Malang. Kehujanan di Porong hingga Malang. Basah deh si Ndutz! Aku cuman bisa berurai air mata melihat kedatangannya yang basah kuyup itu. Aku sedih… (halah!!! Nggak banget dink!)

Ternyata, selain untuk menghabiskan libur tenangnya sebelum UAS di Malang, si Ndutz juga punya misi lain, yaitu Nyambut Taun Baru n Berburu Adenium tentunya. Aku diajak buat nemenin nyari. Yawdah, daripada tidak ada kegiatan di asrama sehabis Jumatan, so ngikut aja!

Sepanjang perjalanan, kami ngobrol. Tapi, aku lebih banyak diam. Selagi menikmati pemandangan yang indah dan maknyus di kiri kanan jalan, aku memang nggak suka diganggu. Aku akan lebih banyak diam, menikmati, meresapi keindahan, dan menghirup udara segar dan dingin khas Malang – Batu – Ngantang.

Aku agak was-was juga sepanjang perjalanan karena mendung menggelayut di atas Bumi Apel. Apalagi jalanan di Payung hingga Ngantang, berkelok-kelok licin karena hujan yang sempat turun. Tapi, ah! Si Ndutz jago joki motor. Aku tenang-tenang aja di belakang.

Kami singgah di beberapa tempat sebelum akhirnya mendapatkan sembilan batang adenium dengan berbagai macam variannya. Adenium yang kami dapatkan, antara lain: adenium putih, ungu, merah darah, dan kuning. Semuanya belum berbunga. Harganya pun variatif. Mulai dari Rp 7.500,- hingga Rp 35.000,-. Untuk sembilan tanaman, termasuk tanaman Gelombang Cinta, si Ndutz ngabisin duit 175 ribu rupiah. Bener-bener hunting tanaman deh kami siang itu.

Ketika pulang, kami ketemu hujan, masih di sekitaran Ngantang. Terpaksa deh kami berhenti di sebuah warung dan menikmati kopi susu panas. Badanku yang mulai kedinginan, sedikit terhangatkan dengan menyeruput kopi susu manis nan lezat dan nikmat itu.

Hmmm…

Berburu adenium hingga ke Batu. Asyik sih asyik! Tapi, dari Ngantang hingga balik lagi ke asrama, semua tanaman, aku yang pegang di belakang. Bikin tanganku lumayan pegel. Tapi, gak apa-apa deh! I love this journey! Secara aku juga suka lihat bunga. So beautiful! Tapi, khusus buat adenium, jujur, aku nggak tertarik. Nothing special! Tanamannya ijo! Apalagi yang dibeli ama si Ndutz. Sama sekali nggak ada bunganya. Aku lebih tertarik pada tanaman jeruk mandarin, ekor kera, melati, juga mawar-mawar aneka warna, dan tanaman hias lainnya yang cantik dan nyentrik.

Adenium… Hatiku belum bisa tertambat pada sosokmu…

Aku lebih suka sainganmu yang lebih harum, cantik, dan menarik. What’s that?

Malang – Batu – Ngantang

Sore, menjelang maghrib

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s