Sekardus Cemilan di Depan Pintu Kosan (cerita tak bersambung)


Oh, so sweet…

Perjalanan balik dari Malang ke Surabaya naik kereta, yang aku bayar dengan seribu pengorbanan, darah, dan air mata, akhirnya berujung senyum simpul a la Nyi Roro Pentul. Hahaha…

Begitu menginjakkan kaki di bumi Surabaya, ada sekelebat panas yang mendera. Cuaca Surabaya, segimanapun mendungnya, tetap saja menyimpan bara-bara magma. Dan, aku pun tak langsung jatuh cinta. Aku justru muak. Ingin rasanya berlari kembali sepanjang rel kereta api menuju Makobu (Malang, Kota Bunga). Halah…

Namun, aku tak jua menurutkan keinginan semuku itu. Tak akan. Sebab, kembali ke Malang, berarti siap-siap mengungsi lagi. Membawa baju-baju beberapa lipat saja. Bawa peralatan mandi yang makin menipis (gimana gak menipis, kan sering dipake?). Lalu, tanpa memberitahu-tempe my babe (bokap, maksudnya), aku pun tak segan-segan mengeruk mesin ATM. Mencakar-cakar kartu ATM untuk mendapatkan beberapa lembar duit. Aku habiskan tanpa banyak memikirkan. Walhasil, kere-lah dakuuu… huhuhu…

Maka, dengan meluruskan niat dan memantapkan iman, aku pun berkemas-kemas tadi pagi, berangkat ke Stasiun Kota Baru Malang, dan menaiki kereta pukul tujuh lewat sepuluh menit. Aku berangkat dengan ransel di punggung, tas laptop di bahu, dan kantong plastik di leher. AKU… SEDANG… OSPEK…

Begitu naik kereta, di bayanganku hanyalah agar bisa mendapatkan kursi. Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak bisa diraih. Kereta penuh. Yang tersisa hanyalah ruang untuk berdiri. Aku tak menggumam. Aku tak protes. Aku sudah terbiasa dengan kondisi ini. Tapi, tumben pagi ini tak biasa. Aku berdiri, dari Malang ke Surabaya, berjejal di kereta ekonomi, tiga jam lamanya. Subhanallah…

Di dalam kereta, aku berjumpa dengan beberapa mahasiswa dari Kota Pelajar, Jogjakarta. Mereka baru saja menyelesaikan kegiatan pelatihan di Universitas Brawijaya. Berbincang dengan salah satu di antara mereka sepanjang perjalanan, lumayan membuat suasana sedikit cair, tidak penat, dan tidak terlalu melelahkan. Awalnya, aku sempat heran juga. Mereka mau ke Jogja, tapi kok ke Surabaya? Akhirnya, dari info mereka, aku tahu kalau mereka sedang ‘tersesat’. Sebelumnya, lebih sering bolak-balik dengan bis. Sementara kereta Malang-Jogja akan berangkat nanti sore, dan mereka sudah kadung berada di stasiun, akhirnya diputuskan untuk kembali ke Jogja lewat Surabaya.

Tiba di Stasiun Gubeng, Surabaya, kami pun ber-sayonara. Mereka menunggu kereta tujuan Jogja di peron, sementara aku segera melangkahkan kaki keluar stasiun. Tidak ada yang menjemput. Hanya ada supir taksi, supir angkot, dan abang becak yang berebut menghampiri. Ah, aku jalan saja ke kosan. Meski lumayan jauh, aku meniatkan diri untuk sekalian olahraga kaki. Meski terlihat aneh, olahraga siang-siang dengan tubuh dipenuhi barang bawaan, tapi aku tak peduli. Aku ingin hidup seribu tahun lagi…

Salah satu hobiku adalah mengukur jalan. Aku lumayan suka jalan-jalan. Pure jalan kaki. Ketika berada di sebuah kampung tertentu, maka aku suka kelayapan jalan kaki. Masuk gang, keluar gang. Aku tidak perlu takut tersesat. Yang penting, tahu arah mata angin, punya insting kuat, yeah…lanjut! Kalau pun tersesat, cara paling tidak cerdik yang aku lakukan adalah balik lagi ke titik semula.

Dan…itu juga yang aku alami saat berjalan kaki dari stasiun ke kosan. Melihat sebuah gang yang begitu bahenol, cantik, dan menyegarkan, aku pun dengan kepedean tingkat tinggi, segera mengeksplorasi kaki-kaki ini. Mengajak mereka memasuki sebuah kawasan yang instingku mengatakan: “ Ada jalan pintas menuju kos-kosan!” Lalu, seperti yang Anda duga, aku berjalan hingga beberapa ratus meter, dan akhirnya… BUNTU!!! Dengan rasa capek dan haus yang mendera, akhirnya aku pun balik ke mulut gang yang aku masuki tadi. Dan kembali menjalani hidup normal sebagaimana pejalan kaki lainnya yang ingin ke Gubeng Jaya II/70. Itulah kos-kosanku.

Lalu, sebelum melanjutkan ekspedisi yang melelahkan, secara aku juga belum sarapan, maka aku berhenti dulu di sebuah gerobak pedagang es dan gorengan. Aku pun memesan segelas Es Cao. Dari dalam ransel, aku keluarkan sekotak kue yang aku dapatkan dari tahlilan tadi malam. Dua jenis makhluk berlainan jenis itu, aku masukkan dengan begitu sempurna ke dalam mulutku. Tapi, satu hal yang sempat menyeretku ke dalam gelombang jijay tak berperi adalah: aku makan di depan sebuah embong (sungai, red) khas Surabaya yang sedikit pun tidak artistik. Sungai yang airnya cokelat Milo dengan bau tak sedap dan menusuk di dada, serta sampah-sampah yang bergentayangan, bergerak bebas di dalam air sungai. Aku terdiam dalam nikmat es cao dan kue-kue. Oh, tidaaaakkkk!!!

Tibalah saatnya, aku memasuki kos-kosan. Dengan hati-hati dan perasaan selembut pelangi, aku membuka gagang pintu gerbang. Deritnya berbunyi. Pertanda, aku telah sukses sampai di kos-kosan. Alhamdulillah…

Naik di tangga, kebetulan kamarku berada di lantai dua, aku pun tidak terkejut lagi dengan pemandangan sejuk nan mengasyikkan. Sebuah kardus cokelat yang bertuliskan KEPADA dan PENGIRIM, segera membentukkan sebuah senyum tebal di bibirku.

Tahu kagak?! Di dalam kotak itu tersimpan berjuta kenikmatan, kerinduan, dan rasa kasihaaaan yang tertuju padaku.

Dengan nafsu tingkat mahir, aku pun mengambil gunting dan mulai merobek kardus cokelat itu. Aku terpana, tapi aku tak takjub. Isinya, seperti apa yang tertera di layar hp-ku dua hari yang lalu.

Tahu kagak, isinya apa?!

  • Enam bungkus kripik ubi,

  • Sekotak mika kue nastar,

  • Tiga kotak mika dodol nangka,

  • Sebungkus cemilan berbetuk bola dengan rasa asin pedas,

  • Sepuluh bungkus kecil kripik paru sapi, and the last…

  • Empat bungkus abon daging kambing qurban

Oh, terima kasih, Kakakku! Engkau baik sekali. Aku jadi terharu. Menyesali ketidakberdayaanku yang belum sempat mengirimimu sebuah apel batu, segenggam lumpur lapindo, seekor tikus got Surabaya (yang begitu banyak berkeliaran), dan apa lagi ya???

Sekali lagi, Alhamdulillah…

Iklan

4 thoughts on “Sekardus Cemilan di Depan Pintu Kosan (cerita tak bersambung)

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s