keCANduan iTIK

” Ta, habis ini, kita mampir di warung pojok Jalan Soekarno-Hatta ya?”

” Itik panggang lagi?”

” Yup! Selain itu, apalagi? Gue cuman suka ama masakan itu.”

” Kamu nggak bosan, makan itik mulu? Lama-lama Kamu bisa berubah jadi itik beneran. Hwahahahaha…”

” Yeeeee! Udah, cepetan beresin laptop Kamu. Bentar lagi ruangan ini mau dikunci loh! Anak-anak udah pada di luar tuh.”

” Bentar lagi! Tinggal tiga puluh persen lagi donlod-annya!”

” Tiga puluh persen? Gila! Ini jam berapa? Di luar loh udah mulai gelap. Udah, Kamu cancel aja! Besok disambung lagi.”

” Wah, nanggung banget nih! Mumpung hot spot-nya gratisan.”

” Besok juga bisa kan?”

” Iya…bentar lagi! Tinggal dua file.”

” Kamu donlod apaan sih?”

” Lagunya Andity ama Hey-nya Sheila feat Ipang.”

” Andity yang Semenjak Ada Dirimu itu? Gue mau dong!”

” Makanya, sabar dulu. Bentar lagi selesai kok. Sepuluh persen.”

” Ok!”

Saat bersiap-siap mematikan laptopnya, Pak Bagong, penjaga gedung, datang. Dia mengacung-acungkan segerombol anak kunci. Kami mengerti. Perpustakaan mau ditutup.

” Mbak, dilanjutin besok aja!”

” Iya, Pak! Udah selesai kok!” kataku.

” Yuk, Sa!” ujar Tata sambil menggandeng tanganku.

” Mari, Pak!”

” Oya, monggo!” Pak Bagong menyilakan kami dengan senyumannya yang khas. Meskipun terlihat agak seram dengan kumisnya yang melintang tebal, namun kemurahan senyumnya membuat siapa pun akan merasa lega.

Setelah berada di luar gedung, kami pun langsung ngeloyor ke tempat parkir.

” Makan dulu apa shalat dulu?” tanya Tata.

” Shalat aja deh! Biar makannya bisa asyik, nggak keburu. Di masjid fakultas ekonomi yuk!”

” Ok deh!”

Setelah shalat maghrib berjamaah, aku dibonceng Tata langsung meluncur ke warung yang berada di sudut sebuah ruko di Jalan Soekarno-Hatta. Sebuah warung yang sederhana dan agak luas, namun tak pernah sepi dari pengunjung. Menunya banyak yang istimewa dengan harga yang bisa diadu. Tapi, aku yakin menu andalan yang bikin warung ini tetap ramai adalah itik panggangnya. Bumbunya benar-benar beda dan cocok sekali di lidah. Enak banget deh!

” Eh, itu mobilnya Dimas, kan?”

” He’eh. Iya. Iya. Anaknya pasti lagi di dalam. Wah, kebetulan banget!” seruku.

” Yeee… Elo naksir ya?”

” Ah, siapa sih cewek yang nggak naksir ama dia?”

” Yawdah. Yuk ke dalam! Gerimis nih!” ujar Tata sambil menggandeng tanganku.

Di dalam warung tenda yang dibuat di sudut depan ruko ini, ternyata sudah banyak diisi pengunjung. Padahal tadi di parkiran, aku hitung hanya ada lima motor. Eits…Jangan salah! Meskipun motor di parkiran sedikit, tapi mobil-mobil yang berderet di area parkir yang agak jauh dari parkir motor adalah bukti kalau warung ini benar-benar digemari kalangan atas juga.

” Ta, duduk di pojok aja!”

Kami berjalan beriringan di antara meja makan. Sambil berjalan ke arah meja yang kosong, aku celingukan kiri kanan mencari posisi duduknya Dimas.

Dimas, cowok yang jadi idola di kampus. Dia tinggi, ganteng dengan senyuman yang bikin cewek langsung semaput, juga berprestasi. Anaknya juga tajir dan baik banget. Dia seringkali mentarktir teman-temannya. Kalau ada teman yang tidak punya boncengan, dia tak segan-segan mengajak untuk diantar pakai Jazz-nya. Aku tahu ini semua karena menjadi salah satu pengagumnya. Secret admirer. Pengagum rahasia.

Sekalipun, aku tidak pernah bertatap langsung dengannya. Apalagi ngobrol empat mata. Jantungku pasti langsung copot. Aku memang mudah grogi di depan cowok ganteng.

Meskipun aku sering diejek Tata karena bisanya cuma jadi pengagum rahasia doank, tapi aku cuek aja. Apalagi jika aku ketahuan heri – heboh sendiri – jika melihat Dimas. Aku pasti jadi bahan olok-olokan. Pengagum rahasia penderita ayan! Payah!

” Sasa!” Sebuah suara memanggilku. Suara yang aku kenal. Siapa lagi kalau bukan Dimas.

Aku celingukan. Menoleh kiri kanan depan belakang. Saat hampir mencapai meja tujuan kami, Tata mendadak berhenti. Dia berbalik arah ke belakang.

” Heh…Dimas?”

Aku membalikkan badanku. Dimas ternyata duduk memunggungiku ketika kami berjalan tadi. Saat mata kami bertatapan, dia tersenyum. Oh, Tuhan! Kuatkanlah jantung, hati, dan paru-paruku ini. Aku berusaha senyum meski kikuk. Semoga senyumku terlihat anggun di mata Dimas. Semoga sehabis makan itik panggang, Dimas menembakku. Menyatakan cintanya padaku. Loh?

” Sa? Sa? Kamu baik-baik saja kan?” Tata menggerak-gerakkan tangannya di depan wajahku yang terpana kayak orang bego lagi sekarat.

” Kalian berdua aja?” tanya Dimas membuyarkan ke’bego’anku.

” I…i…iya!” jawabku terbata-bata.

” Loh, Kamu kok sendirian? Mana gangstermu?” tanya Tata.

” Halah! Gangster apaan? Aku nggak suka gangster-gangsteran.”

” Thomas, Bagas, Gentong, Diaz, Elka, Ranu?”

” Bukan geng kali! Mereka cuman teman biasa aja kok! Kebetulan aja sering maen sama aku.”

” Nggak bareng mereka?”

” Nggak! Tadi aku dari rumah Pak Hidayat. Pinjam buku dan diskusi ama beliau. Pulang dari sana, laper, aku langsung ke sini.”

” Ooooo…” Mulutku membentuk bulatan. Persis ikan mas koki yang mau muntah.

” Kok berdiri terus? Sini, duduk!”

Aku yang baru tersadar dari ‘tidur panjang’ melongok ke arah Tata. Dia menganggukkan kepala.

Dengan malu-malu, aku pun mengambil posisi duduk yang agak lumayan strategis. Di depan Dimas tapi agak ke samping dikit. Soalnya, Tata yang duduk persis di depan cowok pujaanku itu. Sungguh, seperti mendapat meteor runtuh aku bisa berada di dekat cowok yang smart, cool, dan tajir itu. Oh, my dear!

” Kamu pesen apa? Biar aku yang nraktir kalian!”

” Beneran? Duh, Kamu baik banget sih Mas!” kata Tata.

” Ah, nggak kok! Baru sekali ini nraktir kalian masa dibilang baik.”

Tata mengalihkan pandangannya ke arahku. Aku masih belum mampu bicara dengan normal. Lidahku masih dipelintir-pelintir rasanya.

” Sa, kok diem mulu?” suara Dimas menyadarkanku.

” Ng…Nggak ada apa-apa, kok! Lagi pengen nikmatin gerimis aja!”

” Nikmatin gerimis? Hey, ngawur! Nikmatin gerimis ya di luar. Sasa emang gitu, Mas. Kalau lagi kesengsem sama seseorang, bawaannya pasti diam. Diam-diam menikmati… Hehehehe…”

” Ih, jangan ngeledek ah!” Suaraku aku manja-manjain.

” Pesan apa, mbak?” Tiba-tiba seorang pramusaji mendekati meja kami.

” Kamu apa, Mas?”

” Aku udah pesen kok tadi. Ayam taliwang sama jus melon. Kalian apa?”

” Mmm… itik panggang dua sama es jeruk dua. Iya kan, Sa?”

Aku mengangguk.

Suara hp Tata berbunyi.

” Sebentar ya? Mamaku nelpon.” Tata segera melangkahkan kakinya keluar. Di dalam warung memang ramai.

Begitu Sasa menjauh, aku kikuk sendiri. Semoga Sasa nggak lama bicaranya. Biar aku nggak terlihat seperti kambing beku.

Sambil menunggu pesanan kami datang, aku pun merogoh saku, mengeluarkan hp. Ingin ber-sms-an aja. Biar nggak terlihat terlalu kaku di depan Dimas. Tapi, Dimas justru mengajakku ngobrol.

” Sudah sering makan di sini?”

” Iya.”

” Berapa kali?”

” Udah nggak kehitung. Saking seringnya. Hehehehe…” Aku terkekeh. Aku merasa kekehanku seperti nenek tua yang giginya tinggal dua dan hinggap di jendela.

” Kalau begitu, Kamu punya menu favorit dong?”

” Iya. Itik panggang. Aku suka banget. Dagingnya empuk, enak. Aku suka bagian dadanya. Bumbunya juga cocok banget di lidahku. Apalagi dimakan dengan nasi yang panas. Bener-bener aku banget…”

Dimas tertawa kecil. Aku merasa tersanjung. Dimas mulai memperhatikanku.

” Wah, Kamu penggemar itik juga, ya?”

” Iya! Sejak masih kecil dulu. Aku dulunya kan tinggal di desa. Kebetulan kakekku pelihara itik di rumah kami. Jadi, sejak kecil, aku sudah berkenalan ama masakan-masakan yang dibuat dari daging itik. Setelah pindah ke kota, aku jarang lagi makan itik. Nah, begitu tahu warung ini, aku jadi sering nostalgia dengan daging itik. Apalagi itik panggang…”

Aku merasa sudah tidak canggung lagi. Aku merasa aneh sendiri. Bisa sebegitu nyaman dan terbuka di depan Dimas.

Sasa belum muncul juga. Lama sekali sih tuh anak nelpon. Tapi, nggak apa-apa deh! Aku bisa lama-lama berduaan dengan Dimas. Kapan lagi dalam suasana seperti ini?

” Sa, aku pengen ngomong sesuatu sama Kamu…”

” Mmm…ngomong apa?”

” Ah, nanti aja deh. Nanti aku kasih tau lewat sms. Nomor hp Kamu?”

Haaah??? Dimas minta nomor hp gue? Oh, my God! Mimpi apa gue semalam?

Lalu dengan lancar gue pun menyebutkan satu per satu nomor hp gue. Mungkin nggak ya Dimas mulai tertarik ama gue? Kalo benar, ah…sungguh beruntung banget gue!

Sasa pun muncul. Pesanan kami datang. Kami menikmati makanan masing-masing dengan lahap. Apalagi aku yang sudah tergila-gila sama itik panggang. Tak secuil pun daging yang aku sisakan. Semua aku sikat. Meskipun demikian, aku tetap jaim di depan Dimas. Aku makan dengan berusaha tetap anggun, tapi pasti. Pasti habis, maksudnya.

Sebelum kami pulang, Dimas membayar semua makanan. Lalu, ketika hendak keluar, tanganku tiba-tiba ditarik oleh Dimas. Dia mengajakku menjauh dari Sasa yang sudah menyiapkan jas hujannya di motor. Aku seperti cewek bego yang dicocok hidungnya. Dimas mengajakku duduk di tempat kami semula.

Aku hanya bisa terheran-heran. Belum sempat aku menenangkan diri, Dimas pun berbisik di telingaku.

” Sa… Jujur aku mau bilang, Kamu CANTIK sekali.”

Dueeerrr!!! Aku langsung melayang. Perasaanku melambung hingga langit ketujuh dan tidak balik-balik lagi. Aku merasa menjadi cewek tercantik di mata Dimas. Aku dibuatnya terdiam seribu bahasa. Sungguh, di luar duga dan asa.

” Yuk, keluar!” Dia pun menggandeng tanganku.

Inikah yang namanya gayung bersambut? Inikah cinta itu? Cinta yang datang tiba-tiba. Tak pernah diduga. Anugerah Tuhan yang luar biasa.

Di atas motor Sasa, aku jadi makhluk paling pendiam. Sensasi ucapan si Dimas padaku masing terasa. Aku seperti disengatnya.

Masih menikmati setrum kata-kata itu, aku pun dikejutkan oleh hp-ku yang bergetar. Sebuah sms masuk. Kubuka.

Sasa, Kamu CANTIK banget! keCANduan iTIK, maksudnya… hwahahahaha…

Sender:

Dimas Ganteng

Iklan

4 thoughts on “keCANduan iTIK

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s