Laptop Pemberian Bapak

Semenjak punya laptop, pengennya ngetik mulu. Pengennya nulis mulu. Belajar jadi ‘agak’ terlantar. Makan jadi tidak teratur. Lapar, makan. Tapi, kalau sedang asyik nulis, ide ngalir deras tak bisa dihentikan, makan di-pending dulu.

Sebenarnya nggak sehat juga lama-lama seperti ini.

Aku jadi malas keluar kosan. Paling keluar cuma untuk beli makan atau sekedar melepaskan penat setelah berlama-lama duduk di depan laptop. Keluar untuk nyari udara, setelah pusing membaca. Keluar untuk melancarkan peredaran darah, setelah lama tidur. Ketiduran setelah baca buku…

Aku belum berani mengaku bookaholic. Jika membandingkan diriku dengan pembaca-pembaca lain yang lebih senior dan lebih punya budget untuk beli buku atau yang hobi ‘mengeram’ di perpustakaan dan lebih suka pinjam di book rental, maka aku merasa belum apa-apa. Aku masih jadi pembaca biasa. Belum dalam tahap addicted.

Ini juga masih belum seberapa jika kubandingkan diriku dengan para mereka yang menggeluti dunia tulis-menulis. Para penulis, di bayanganku, adalah representasi dari mereka yang tergila-gila dengan buku. Sebab, kegiatan menulis mereka dimodali oleh asupan membaca. Semakin banyak referensi yang dibaca, semakin berpeluang untuk menulis sesuatu dengan tajam dan terarah. Semakin banyak nutrisi bacaan yang mereka masukkan ke dalam otak, semakin berkesempatan untuk menulis berbagai macam buku. Itulah kelebihan mereka.

Aku sendiri masih belajar untuk menjadi bookaholic. Aku ingin rajin membaca dan lebih rajin lagi membaca. Cita-citaku yang ingin menjadi penulis, mau tidak mau ‘memaksa’ku untuk rajin-rajin membaca. Membaca apa saja. Biar pengetahuanku tak cetek. Biar pemahamanku tidak berat sebelah. Biar aku punya modal untuk menulis. Minimal sebuah cerita.

Maka, untuk mewujudkan hal itu, aku sudah mempersiapkan diri sejak kecil untuk suka dengan aksara. Lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca. Lebih mengakrabkan diri dengan perpustakaan. Lebih memilih diberi hadiah buku ketimbang barang-barang lain. Lebih suka membawa tas ke mana-mana dengan buku-buku di dalamnya. Lebih sering mendatangi toko buku ketika berjalan-jalan di mall. Lebih merasa senang jika ada pameran buku. Lebih bersemangat lagi ketika ada kesempatan bertemu dengan penulis dan penggila buku.

Lalu, agar terjadi keseimbangan, agar pengetahuan yang kubaca tidak hilang, maka aku perlu mengikatnya. Ikatlah ilmu dengan menulisnya. Ucapan Ali bin Abi Thalib ini begitu merasuk di otakku. Sebagai tindak lanjut, aku pun mulai belajar menulis. Karena lebih suka menulis di layar komputer ketimbang di atas kertas dengan tulisan tangan, aku pun minta dibelikan laptop saja. Biar praktis, mudah dibawa ke mana-mana, jika ada ide bisa langsung dituangkan, serta yang lebih penting: hemat listrik. Dengan memakai laptop, paling tidak aku bisa mengurangi biaya kos dengan memangkas bayar listrik dibandingkan menggunakan PC yang jauh lebih banyak menyedot listrik yang imbasnya, mahal pula tarif yang dikenakan oleh bapak kos.

Ya, aku tidak memungkiri jika banyak jurnal, puisi, cerpen, opini, dan tulisan-tulisanku yang lain terlahir lewat ketikan di papan tuts laptop. Maka, sebagai bentuk ‘balas jasa’ku pada bapak yang sudah membelikan benda ini, aku berjanji pada diri sendiri untuk menghasilkan sesuatu yang bisa dibanggakan. Sesuatu tersebut dalam impian sederhanaku adalah menghadiahkan sebuah buku yang lahir dari tanganku sendiri. Buku yang materinya aku kerjakan di laptop. Laptop pemberian bapak.

Iklan

8 thoughts on “Laptop Pemberian Bapak

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s