Gangster Pencinta Gorengan

Aku, Raka, Ijank, Eva, dan Elis tergabung dalam NINE O’CLOCK. Sebuah gangster yang mulai terbentuk sejak kami kelas dua SMA. Gang ini berdiri atas prakarsaku dan secara tidak resmi aku diangkat sebagai ketua gang. Olala…

Di dalam gang ini, kami mempunyai nick_name sendiri-sendiri. Aku, misalnya biasa dipanggil Mie Kriting. Raka disebut Om Gorilla Coklat. Ijank lebih familiar dengan Mie Oyeng, Mie Ebuzz, ato Mister Rakam. Sementara duo hawa, Eva dan Elis masing-masing kami panggil dengan Miss Keboon dan Papuq Ogot.

Entah apa yang menyatukan kami. Awalnya sih gara-gara kami satu kelompok tugas. Karena ngerjakannya suka pindah dari satu rumah ke rumah lain dan kelompok kami itu-itu saja, akhirnya kami pun kompak membentuk sebuah gangster. Gangster yang (kalo tidak salah) terbentuk pada bulan puasa ini, kami ikrarkan dengan nama NINE O’CLOCK.

Namanya kok gitu ya? Nine O’clock? Jam Sembilan? Nggak ear catching banget! Tapi, begitulah. Kemunculan nama ini bisa disebut faktor kebetulan juga. Saat itu kami berlima sedang asyik nongkrong di ruang tamu rumahku. Masih pagi menjelang siang. Nah, begitu tercetus keinginan untuk bikin gang, jam dinding yang nangkring di dinding ruang tamuku pun jadi sumber inspirasi.

” Gimana kalo Nine O’clock saja? Jadi, setiap kali kita kumpul-kumpul kayak gini, yeah…pada jam sembilan. Nggak kepagian, juga nggak kesiangan. Gimana?”

Akhirnya, semua koor setuju. Sejak saat itulah kami bernaung di bawah bendera Nine O’clock. Nama ini juga yang kami perkenalkan di kelas. Teman-teman yang lain pun akhirnya pada maklum. Nine O’clock itu adalah sekumpulan anak-anak dengan beragam back ground yang terdiri dari Fatah, Raka, Ijank, Eva, dan Elis.

Sejak resmi menyandang status member of Nine O’clock, kami makin sering saja kumpul-kumpul. Tidak hanya untuk belajar kelompok atau diskusi tugas, tapi juga rujakan, ngerumpi (curhat2an), shalat jamaah, sunrise bareng, makan bareng, atau beol bareng… hehehehe…

Di sela-sela kegiatan ngumpul kami itulah, GORENGAN akan diusahakan SELALU HADIR. Itu kalo sang tuan rumah (kami gantian jadi tuan rumah), tidak punya stok makanan kecil atau pun besar untuk dihidangkan. Jadi, inisiatif paling instan adalah ngumpulin duit, beli makanan di pasar atau pinggir jalan. Kalau di pasar, biasanya beli nasi bungkus atau nasi pecel. Sedangkan di pinggir jalan, kami punya langganan GORENGAN.

Sejak gorengan merajalela di kotaku (hehehe…hiperbolis banget), kami jadi punya makanan alternatif. Gorengan yang berupa pisang goreng, tempe goreng, molen, ubi goreng, bakwan, tahu goreng, singkong goreng, tape goreng, gabin goreng, dan goreng-goreng lainnya termasuk panci goreng dan kursi goreng adalah makanan favorit kami. Sering mengonsumsi gorengan, jadilah kami PENCINTA GORENGAN.

Nggak bosan? Ah, kami punya seribu satu cara untuk menyiasati agar tidak kecanduan gorengan. Salah satu caranya adalah dengan tidak melulu beli gorengan. Sedangkan, seribu cara lainnya masih dalam tahap perencanaan. Enaknya, gimana yah? Ada yang mau kasih masukan nggak?

Begitulah salah satu slide kenangan terindah kami di bawah label “NINE O’CLOCK”. Makanya, setelah lama tidak berjumpa karena kesibukan dan kuliah yang berbeda (Aku di HI UNAIR Srby, Eva di Kimia UII Jogja, Elis di Biologi UNRAM, Ijank di Matematika UNRAM, dan Raka di AKPOL Mataram), kami pun jarang bertemu. Ketemu terakhir yeah…ketika lebaran tahun kemarin.

Makanya, liburan semester ini akan aku manfaatkan untuk bernostalgia dengan tiga anggota Nine O’clock (Elis, Raka, Ijank. Eva nggak bisa pulang). Nah, karena yang tiga di Lombok sana, so it’s time to gathering. Mudik gituloh… Nikmatin gorengan bareng-bareng, cerita ngalor ngidul bareng, dan bareng-bareng lainnya.

Uhmmm…alangkah asyiknya!!!

soerabaia, 200108

Iklan

9 thoughts on “Gangster Pencinta Gorengan

  1. boleh tuh mbak!!!welcome!!ntar selain bisa makan gorengan, mbak juga bisa kan sharing ilmunya ma kita2? apalagi ilmu bahasanya!!! MAU BANGEEEEEEEEEEEETTTTTTTT

  2. lafatah said: Nah, ini nih pendapat seorang ahli gizi…Tapi, sesekali nggak apa2 donk 🙂

    hehe.. bukan ahli gizi ko.. 😀 dulu sih suka, tp skrg porsinya agak dikurangi dikit, soalnya gampang radang, 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s