Perempuan Montok dan Telur Ceplok

Seorang perempuan montok berpakaian warna-warni kayak pelangi berjalan dengan cita rasa seni yang tinggi. Dia berjalan dengan begitu anggunnya dengan sepatu berhak tinggi lima belas senti di atas permukaan tanah. Loh? Ini perempuan apa hantu jejadian? Aku sebagai penulis cerita hanya bisa menggeleng-gelenggkan kepala. Nggak tahu.

Aku sebut saja perempuan montok ini Lakan. Kebalikan dari Nakal. Aku sengaja memberi dia nama Lakan, agar sifatnya tidak nakal. Aku tidak suka perempuan nakal. Bagiku, perempuan seperti itu sudah jatuh derajatnya. Murahan, tepatnya.

Meskipun perempuan, tokoh dalam ceritaku ini, adalah perempuan montok, namun aku tidak akan membesar-besarkan kemontokannya itu. Cukuplah kau sebagai pembaca meng-angan-kannya saja di dalam kepala. Sebab, setiap kau adalah istimewa. Punya imajinasi sendiri-sendiri. Jadi, aku merasa tak pantas untuk memasung pikiran kau.

Perempuan montok jelmaan jemariku ini sedang memasuki sebuah kedai nasi. Ia tak malu makan di sana meskipun jika dilihat, ia cukup mampu makan di restoran mahal. Apalagi dia punya banyak kolega dan sahabat yang kaya-kaya. Dia sudah sering ditraktir oleh mereka. Tapi, kali ini sang perempuan montok ingin menikmati makanan di kedai sederhana.

” Nasi pecelnya, Pak! Pake telur ceplok ya?”

Dia memesan nasi pecel dengan tambahan telur ceplok.

” Minumnya jeruk panas, ya?”

Aku sebagai pembuat cerita, agak terkejut. Jeruk panas? Minuman jenis apakah itu? Lantas, aku membayangkan sebuah jeruk warna oranye yang panas. Jika kupegang, akan terasa sekali panasnya. Ah, jeruk panas. Lupakan.

Si perempuan montok mengluarkan kipas dari dalam tasnya. Kedai nasi ini memang tidak dilengkapi kipas angin. Apa karena posisinya yang berada di pinggir jalan hingga mengharapkan seliweran kendaraan menjadi putaran kipasnya? Kipas angin alami? Ah, aku tak yakin alami. Mana ada kendaraan yang tak mengeluarkan racun berbahaya untuk dikibaskan pada pengguna jalan yang lain? Para pengguna jalan merasakan sejuknya angin yang diakibatkan oleh seliweran kendaraan, sementara paru-paru mereka diam-diam dikotori oleh polusi… Arrrrgggh…

” Ini Jeng! Silakan dinikmati!”

Bapak pemilik kedai mempersilakan si perempuan montok.

” Terima kasih, Pak!”

Si perempuan montok segera menikmati sepiring nasi pecelnya lengkap dengan telur ceplok. Ia makan dengan lahap. Seperti tidak pernah makan seminggu saja. Atau, apakah nasi pecel yang dihidangkan oleh bapak pemilik kedai memang istimewa? Ah, apanya yang istimewa? Nasi pecelnya biasa saja. Hanya ada tambahan telur ceplok, rempeyek udang, dan kerupuk. Biasa, kan?

Hanya dalam hitungan menit si perempuan montok telah menghabiskan nasi pecelnya. Aku sebagai pembuat cerita, agak kaget juga. Selama hidupku, belum pernah aku makan secepat itu. Tapi, aku biarkan saja tokoh ceritaku menikmati makanannya. Siapa tahu, sebelum terlahir dari jemariku, ia belum pernah dikasih makan oleh Sang Pemberi Makan.

” Pak, telur ceploknya tambah lagi!”

” Pake nasi, Jeng? Tambah pecelnya juga?”

” Nggak, Pak! Telur ceploknya aja. Dua ya?”

Bapak pemilik kedai agak berkerut juga dahinya. Barangkali dia merasa heran dengan nafsu ‘telur ceplok’ yang dimiliki pembeli barunya ini, si perempuan montok. Tapi, peduli amat. Yang penting, berapapun telur ceploknya dibeli, harus dibayar pula segitu.

” Ini, Jeng!”

Di atas piring si perempuan montok telah terhidang dua telur ceplok yang cukup besar.

” Garpu dan pisaunya ada, Pak?” Si perempuan montok cepat-cepat meralat perkataannya. ” Garpu aja deh, Pak!”

Si perempuan montok sadar bahwa ini kedai nasi, bukan restoran mahal yang sering ia datangi. Kalau pun dia minta pisau, kemungkinan besar bapak pemilik kedai akan menanyakan pisau buat apa? Dan, jikalaupun ada, dia pasti akan diberikan pisau yang sudah berkarat hitam. Si perempuan merasa jijik. Dia pun menyeruput jeruk panasnya untuk menghilangkan bayangan jijik. Aku pun baru tahu ternyata jeruk panas yang dimaksud adalah minuman sari buah jeruk yang diseduh dengan air panas.

Sementara si perempuan montok asyik menikmati telur ceploknya, aku pun berlalu dari layar laptopku. Azan sudah memanggil dari masjid sebelah. Aku mau shalat dulu.

surabaya underkoper, ketika perempuan montok makan nasi pecel di sebelahku. aku jadi bertanya-tanya. perempuan montok ini memberiku tanda tanya besar. ya, hingga aku selesai shalat pun, perempuan ini terus saja menguntitku dengan pertanyaan besar. aku masih penasaran…

Iklan

11 thoughts on “Perempuan Montok dan Telur Ceplok

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s