Pengen Mancung, Malah Hidung Bisulan


Ini kejadian waktu aku masih es-em-pe kelas tiga. Aku punya teman, Doni namanya. Dia itu gak tau kenapa, punya kebiasaan yang rada-rada nggak lazim. Seringkali ia kulihat narik-narik idungnya. Apa karena ia pengen mancung yah? Aku perhatikan idungnya, yeah…tinggi, pesek…gitu. Motifnya apa ya? Aku bener-bener penasaran.

Setiap kali ngobrol, tak pernah terlewatkan mataku ngeliat hobinya ini. Apa karena mau ngapus keringat yang berembun di idungnya itu? Atau dia komedo-an? Atawa… arrrghhh… tauk ah! Yang pasti, ia lebih sering narik idungnya dengan kedua belah tangannya. Artinya, idungnya ia jepit lalu diurut, ditarik perlahan ke bawah. Jadilah ia… MANCUNG SETENGAH MATANG!!!

Dan…alangkah tololnya aku! Bukan tolol sih, cuman aku itu orangnya pemerhati banget. Aku lebih suka jadi pemerhati alias observer sekaligus peniru alias imitator. Kalo ada sifat, sikap, perilaku, atau kebiasaan orang yang menurutku ‘asyik buat ditiru’, yeah…aku nggak segan-segan menirunya. Pokoknya, masih suka jadi pengekor deh waktu itu. Kalo sekarang mah…justru sedang belajar jadi trend setter. Panutan, tepatnya. Tentunya dalam hal-hal yang baik.

Nah, karena sifat peniruku masih besar saat itu, jadilah aku meniru kebiasaan si Doni. Whadda f**k!!! Dari sekadar iseng ngikutin, eh jadi kebiasaan. Udah biasa, eh…keseringan.

Aku sih enjoy-enjoy aja dengan kebiasaan baruku itu. Dan…Doni juga masih kayak gitu. Jadi, ketika ngobrol gitu ama temen2, aku suka refleks mencet hidungku dan menariknya ke bawah. Motivasiku sih, buat bersihin keringat yang nempel di idung. Tapi, lebih dari itu, aku makin suka memperhatikan perkembangan hidungku. Adakah hidungku mengembang, maju ke depan, maksudku. Adakah mancung telah bertengger di hidungku yang ‘modis’ ini.

Aku pun makin terobsesi punya hidung mancung. Kayaknya keren tuh anak jangkung kayak aku punya idung yang jangkung juga. Makin gagah dan pede rasanya diri ini. Apalagi predikat murid ‘pinter’ kebetulan udah melekat sama aku. Duileeee…sombongnya! Makanya, tubuh tinggi, plus idung mancung, ditambah otak yang tokcer, kan…mantab banget tuh!

Namun, Allah rupanya belum ngijinin aku punya idung mancung. Makanya, DIA nurunin ‘azab’ atas keinginanku yang nggak syukur nikmat ini. Istilahnya, aku tuh dikasih peringatan oleh Allah gara-gara aku mencoba mengubah ciptaan-Nya.

Apakah hadiah terindah yang diberikan oleh Allah untukku itu? Owlala… Gen-gen di hidungku makin gak terkontrol perkembangannya. Sistem syaraf di hidungku terganggu. Ada rasa sakit yang tiba-tiba hadir seiring dengan kebiasaanku narik-narik idung sendiri. Ketika aku sujud waktu shalat, apalagi. Sakit di idungku terasa banget saat berciuman dengan sajadah.

Aku pun mulai rajin nengokin idungku di depan cermin. Adakah sesuatu yang berubah? Menjadi mancungkah? Apakah usahaku men-training hidungku udah berhasil? Atow… Owlala… Idungku justru kelihatan memerah. Merah kayak buah ceri. Ujung idungku juga terasa agak keras. Kalo dipencet, adoooowww… sakit!

Aku mencoba bersabar. Aku yakin idungku sedang mengalami metamorfosis untuk menjadi mancung. Yeah, udah resiko. Inilah proses. Penuh dengan rasa sakit dan air mata. Ya, aku sampai ngeluarin air mata saat kupencet idungku dan yang terasa adalah sakit.

Aku menunggu dan menunggu. Namun, hidungku terasa membengkak ujungnya. Terasa panas dan agak padat kalo dipegang. Lalu, kuperhatikan sekali lagi di depan cermin. Aku pikir keajaiban itu telah datang. Yups, HIDUNGKU EMANG BENER BISULAN!!!

Dari hari ke hari, ujung idungku makin membulat. Kayak idung om badut. Merah, padat, sakit. Aku jadi nggak bisa konsen belajar, karena keinget terus ama idungku. Shalat pun demikian. Makanya, ketika sujud, yang kutempelkan di lantai adalah dahiku, tanpa mengikutsertakan idungku yang ‘mancung palsu’ itu.

Di sekolah pun aku jadi nggak pede. Aku menghindar berlama-lama ngobrol dengan teman. Mereka mau nggak mau pasti akan merhatiin idungku yang sexy, bahenol, dan mirip pentol itu. Padahal…sakiiit!

Tak tahan, aku pun mencoba terapi turun-temurun peninggalan kakekku. Di keluarga kami memang ada orang-orang tertentu yang sering pantatnya bisulan. Salah satunya, aku. Lantas, aku sendiri pun heran, “Kok, tumben ada bisul tumbuh di idung? Biasanya kan di pantat???” Untuk ngurangin rasa sakit, juga biar bisulnya cepat ‘meledak’, ibuku nyaranin untuk ngolesin cabe rawit merah nan mentah dan bersahaja itu di ujung idungku. Gak mempan, pake alternatif lain. Biji pala diulek-ulek sampai lembut dan diairi sedikit, lalu idungku pun dimasker. Terasa panas. Idungku pun makin bernas. Bernas bisulnya. Pertanda bentar lagi mau brojolan.

Akhirnya, saat yang kutunggu-tunggu pun tiba. Bisul di hidungku, pecah. Nanahnya keluar. Aku meringis tak tertahan sakitnya. Namun, entah kenapa daya tarik idungku belum juga habis-habis. Aku lagi-lagi berdiri di depan cermin. Memandang dan meratapi idungku yang udah ileran oleh nanah itu. Pun, setelah nanahnya keluar, di idungku tercipta sebuah lubang kecil mirip kubah Gunung Rinjani. Oh…betapa seksinya!

Namun, sejak saat itu, aku tersadar. Aku memang khilaf. Aku tak mensyukuri pemberian Tuhan. Aku tidak menyadari betapa hidungku adalah ciptaan Tuhan yang tak boleh ku utak-atik seenaknya. Aku harus menerima apa adanya. Sebab, aku sangat yakin, HIDUNGKU TIADA DUANYA. Tidak ada replikanya!

I’m unique! You’re too…


Thanks to Doni

Gimana kabar idungmu, Don?

Iklan

6 thoughts on “Pengen Mancung, Malah Hidung Bisulan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s