Laskar Matahari

Mereke bertujuh; Elis, Ina, Ira, Wati, Enang, Fatah, dan Ijang. Mereka berdiri di atas dermaga pagi. Menikmati aroma laut yang menguar di bawah siraman matahari pagi. Hangat, namun menguatkan hati.

Biru laut mereka pandangi. Camar melayang jadi incaran mata. Lelaki nelayan di kejauhan, membawa kabar dan peradaban, menjadi bidikan pandangan. Bebuih ombak putih menari-nari di permukaan pasir. Selepas itu, hilang. Kembali menarik diri ke tengah padang air mahaluas. Laut.

Bertujuh di atas dermaga labuhan haji. Matahari memandikan punggung dengan hangatnya yang wangi. Desau angin yang tertiup dari jantung samudera, seperti bersiul-siul manis di telinga. Awan keperakan, hasil persilangan air dengan matahari, merambat di atas tepian cakrawala.

Elis menghadap ke utara. Meninjau kicau beburung pagi. Merekam suara-suara merdu alam ke dalam memori. Membaca alunan hijau mereka, tuk disimpan di dalam album kenangan berpigura hati.

Ina menghadap ke timur. Menelaah jejak matahari yang kian meninggi. Mengikuti kepakan sayap sang surya yang meniti tangga langit. Silau tak dirasa. Hanya ketakjuban luar biasa. Raja siang ini, tak lagi menjadi biasa seperti hari-hari sebelumnya. Ada rancangan maharumit yang tak henti-henti dikagumi, disyukuri.

Ira membalikkan badan, menatap lurus ke selatan. Bebatu karang tersembul di permukaan dangkal pesisiran. Koral, karang, ganggang, dan kepiting pasir, berserakan, berlonjakan di pantai. Menyambut hari sejak subuh tadi. Mengisap energi yang dikirim Sang Dia untuk menjalani hari-hari penuh tasbih. Inginku sentuh mereka lalu membawa seserpih ke rumah, bisiki hati Ira, sendiri. Ah, biarkan saja mereka nikmati hidup. Aku tak mau ganggu harmoni mereka.

Wati kini menyibak pemandangan di baratnya. Sehamparan nuansa hijau berdiri dalam tonggak rayunya. Ya, deretan pohon-pohon kelapa melambai dengan daun-daun bergelora semampai. Menyambut matahari dan lelaki nelayan yang habis ditelan laut malam tuk menjaring Yang Menggelepar. Tegak, lurus, menatap langit di atas mereka. Namun, terbayang pula di mata Wati regukan manis sang air kelapa muda untuk dinikmati. Ah, betapa akan segarnya dada ini.

Enang, Fatah, dan Ijang. Bertiga mendongakkan kepala. Memandang serabut-serabut halus awan bergaris berlatar langit biru. Udara manis berebut menghinggap paru-paru. Seekor camar melintas, berebut perhatian tiga pasang mata yang sedang terbuka. Sungguh kecil diri ini. Itu rasa yang seketika menjelma setelah bercermin diri pada bentangan langit tak berujung. Mana barat, mana timur, mana utara, mana selatan. Semua hablur dalam titik penciptaan agung. Mahakarya Tuhan. Sekali lagi, diri ini serasa kecil.

Labuhan haji di pagi hari. Menitip salam untuk semesta pengagum diriNya.

Iklan

12 thoughts on “Laskar Matahari

  1. ninamulhadi said: Wekekekek…Adaaaa kek’nya laskar matahari….(pake logat lombok -gunung sari-) nih ngomongnya

    araq so!mene kan? pake logat pancor abesss

  2. hehehehe…ya iyyalah US!!!seccara gituuu… sekalian mo promosi labuan haji neh!siapa tau promosi kayak gini, terus bupati ngeliat n baca, kita pun bisa dijadiin duta pariwisata LOTIM..hehehehehehehehe…MIMPI KALEE YEEE..

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s