Tau Apa Sih Tentang Kartini?!

Tadi sore, usai UTS Mandarin, aku sempatkan diri membeli koran Kompas edisi Sore yang digelar di emperan gedung A Fisip. Sebenarnya, bukan tanpa apa-apa sih aku beli. Yeah, siapa tahu ada berita menarik. Kebetulan juga harganya kan murah. Cuman seribu perak gitu.

Sampai di kosan, aku segera sholat Ashar. Hmmm…Rupanya ujian Asas-asas Manejemen dan Bahasa Mandarin tadi cukup menyita energi juga. Namun, rupanya Allah ngerti keadaaan kami, khususnya pas Mandarin tadi. Pas detik-detik terakhir, pengawas pada lengah semua. Ada yang sudah jadi dan nyerahin kertas ujiannya, yang sudah kelar pada sibuk ngerumpi, yang lain juga berkutat dengan tugas yang harus dikumpulin saat itu juga, dsb. Nah, kesempatan ini gak disia-siakan oleh banyak temanku, termasuk aku. Nah loh, udah pada tau kan kelanjutannya gimana? Hehehehe…

Okeh, balik lagi ke Kompas!

Nah, karena kebetulan kemarin adalah tanggal 21 April yang mana identik ama Kartini Day, so berita-berita di Kompas gak jauh-jauh juga dari perayaan Kartini Day. Apalagi yang rubrik Jawa Timur. Di situ terliput kalo Perusahaan Kereta Api Indonesia ngasih tiket gratis bagi ibu-ibu rumah tangga (yang sudah menikah), untuk naik kereta kelas ekonomi rute Surabaya – Kertosono – Blitar – Malang PP. Enak banget ya! Tapi, special only for women loh! Yang udah menikah lagi. And it just for yesterday getolow

Yeah, Kartini gituh! Itu salah satu poin plus-plus dari momentum Hari Kartini.

Next, berkaitan dengan momen Kartini, di Rutan Medaeng juga diadakan “ Lomba Menulis Surat Cinta untuk Suami”. Pesertanya ya ibu-ibu yang jadi tahanan gitu. Mereka berlomba-lomba untuk mencurahkan isi hatinya pada sang suami di luar sana, sementara mereka berada di balik jeruji. Beberapa surat yang dibaca oleh peserta mampu membius ibu-ibu lainnya hingga menangis berkeping-keping. Surat yang menyentuh, yang ditulis dari hati yang terdalam oleh perempuan yang bernasib kurang mujur: JADI TAHANAN.

Kartini memang luar biasa! Dia bisa menginspirasi ibu-ibu untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Ya, emansipasi! Agar suami mereka – laki-laki – bisa mengerti dan menghargai perempuan.

Selanjutnya, ini nih artikel paling seru dan menggugah yang ditulis oleh wartawan berinisial A10. Terkait dengan Kartini, dia ngeliput berbagai aktivitas seremonial untuk mengenang Ibu Kartini. Acara yang diliput itu, antara lain: pemilihan busana terbaik di Akademi Sekretari Widya Mandala Surabaya dan Napak Tilas kehidupan jadoel zaman Kartini di Sekolah Dasar Good Wins (Goodwins School) Surabaya.

Meskipun terlihat sebagai liputan yang ‘biasa’ gitu, namun si wartawan peliput acara mampu menyelipkan ide kritikalnya.

Tulisannya dibuka dengan penggalan surat Kartini pada Ny Van Kol, 21 Juli 1902.

“ Pergilah. Laksanakanlah cita-citamu. Kerjalah untuk hari depan. Kerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas di bawah hukum yang palsu tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Pergi. Pergilah. Berjuanglah dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi.”

Terus, si wartawan nulis begini.

Itulah sepenggal surat Kartini untuk kaum perempuan. Tetapi entah di mana pesan itu terselip. Ingar-bingar peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April itu masih didominasi dengan parade kebaya dan pemilihan kostum terbaik, tak sedikit pun menggaungkan pesan yang tercantum dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, mahakarya pahlawan bangsa itu.

Lalu, dia mencontohkan acara pemihan busana terbaik di Akademi Sekretari Widya Mandala Surabaya. Acara yang bertajuk “A Tribute to Kartini“ itu, seluruh civitas akademika diwajibkan mengenakan busana daerah (bukan batik). Kata salah satu dosennya, “Tujuannya, untuk lebih menjiwai perayaan ini dan mengingatkan kembali nilai-nilai emansipasi yang diperjuangkan Kartini.”

Si wartawan pun menulis begini.

Namun, Cecilia – nama sang dosen – tidak menerangkan nilai emansipasi apa yang ingin diwujudkan melalui kewajiban berbusana daerah itu, selain bahwa kegiatan kuliah dan administrasi berlangsung seperti biasa. Busana yang paling banyak mereka pilih adalah kebaya variasi, yaitu brokat yang tembus pandang pada bagian bahu dan lengan serta bawahan kain batik yang beberapa terbelah sampai di atas lutut.

Sampai sini, saya langsung disadarkan. Deg! Sebeginikah pemaknaan emansipasi yang diperjuangkan oleh Kartini itu? Pamer busana. Itu pun dengan busana yang… ah… Baca ulang deh kalimat yang saya tebalkan dan beri color merah itu!

Terus, kalimat selanjutnya yang menyentak saya adalah mengenai komentar Ira Trivera (20), mahasiswi angkatan 2005.

“ Seru! Saya jadi belajar memakai kebaya.”

Tapi, begitu tanya mengenai masterpiece Kartini – Habis Gelap Terbitlah Terang – Ira dan sejumlah mahasiswi lain mengaku tidak tahu isi buku itu.

Nah loh!!! Lewat pernyataan di atas, saya dan pembaca lainnya sepertinya sengaja digiring oleh si wartawan, “SEJAUH MANA SIH KITA TAU KARTINI? LO TAU GAK? NGERTI GAK ISI BUKU BELIAU YANG BERISI MUTIARA-MUTIARA PEMIKIRAN BELIAU? NGERTI GAK? KALO NGGAK NGERTI, TERUS NGAPAIN HEBOH-HEBOH NGERAYAIN KARTINI??? NGAPAIN COBA???!!! EMANSIPASI SEPERTI APA SIH YANG KALIAN USUNG LEWAT ACARA SEMACAM ITU, HAAAHHH???”

JAWAB AKU!!!

Suravaya, 22 April 2008

Sementara jika pertanyaan itu aku tanyakan pada diriku sendiri, aku pasti akan dengan culunnya geleng-geleng kepala. Tapi, masih mending. Sebab, aku dari kaum laki-laki. Gimana, kaum perempuan? Ngerti Kartini gak?

Iklan

7 thoughts on “Tau Apa Sih Tentang Kartini?!

  1. Insya Allah cukup paham….Memang yang sangat disayangkan kenapa yang dijadikan perhatian adalah penampilannya ibunda Kartini, sehingga bagi yang ‘malas’ mencari tahu lebih dalam, hanya mendapatkan informasi tentang penampilannya saja…. Tentang bagaimana berkebaya, bersanggul…. Padahal banyak sekali yang bisa digali dari seorang Kartini….. tentang bagaimana kecewanya dia ketika dia tidak bisa memahami ayat Al-Qur’an, bagaimana tadinya dia mengagungkan kehidupan barat tapi kemudian meralatnya setelah mengenal Islam….. dan banyak lagi…. Terima kasih nggih… sudah membahas ini…

  2. Ga ngerti.. terus terang aku belum pernah baca buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang katanya masterpiece itu. seumur hidup (udah 24 tahun) aku juga belum pernah ikut perayaan Kartini kecuali dulu waktu SD sering menyanyikan lagu dengan tajuk Ibu Kita Kartini. itu pun sering ku plesetkan menjadi Ibu Kita Khairani (itu nama ibuku) saat mengajarkan lagu itu pada adikku. bukannya tidak menghargai sejarah atau berterima kasih pada perjuangan Kartini di masa lalu, tapi Ibuku lebih mengajarkanku menjadi wanita versi minang kabau yang dilambangkan sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang (Kupu2 rumah adat Minang Kabau). sebelum Kartini lahir, kerajaan Minang Kabau sudah dipimpin oleh Raja wanita, namanya Bundo Kanduang. Nah kalau perjuangan Bundo Kanduang memimpin kerajaan dan membangun sistem pemerintahan sehingga menjadikan Minang Kabau satu-satunya kawasan yang menganut sistem Matrilineal, aku tahu. semuanya ada di Tambo (buku) adat kami. kapan2 aku baca buku karya Kartini dech…

  3. kartini itu cuma pemikir, dia bukan pahlawan yang bertindak. Dan bukankah siapapun bisa menjadi pemikir? Cuma masalahnya, dia datang dari dan kepada juga pada waktu yang tepat. Datang dari anak bupati kepada orang2 terkemuka pada waktu agame belum bisa melunturkan adat dan kebiasaan kuno yang kolot.

  4. salut dengan pemikiran Kartini, yang pada zamannya adalah masa perempuan ‘dilarang’ berpikir dan ‘nurut’ aja.seharusnya semangatnya lah yang kita ‘peringati’ ya??*sambil tepuk tgn buat KARTONO yg posting ttg kartini ini:D*

  5. Ulasan yg menarik. Gw mo jawab kalo gw ngerti Kartini karena gw banyak baca tentang artikel buku2nya. Tentang bagaimana pengalaman bathinnya dan semangat2 mempelajari agama Islam dalam akhir hayatnya. Cuma yg gw gak ngerti, ngapain bikin postingan ini kalo kamu juga gak ngerti dan malah ngelempar pertanyaan kepada para perempuan tentang arti Kartini ini. Jadi kalo mereka gak ngerti dan belum pernah baca tentang buku Kartini apa mereka gak perlu ikut ngerayain Kartinian? Banyak anak kecil yg didandani ala Kartini oleh ibunya padahal tau apa mereka tentang Kartini? Ok, mungkin moment perayaan ini kurang pas untuk mengusung emansipasi dengan cara heboh2 bikin acara seperti itu. Tapi tolong ambil positifnya aja. Coba bayangkan kalau orang udah pada males berkebaya (katakanlah itu yg sudah dimodifikasi… gak usah jauh2, baju kebaya pengantin skrg jg sdh hampir seperti itu, brokat yg transparan dsj) dan juga gak ada lagi perayaan yg semangat mengenakan baju daerah (yg biasanya moment nya emang lbh pas di hari Kartini)… apa gak makin ilang tuh semangat kebudayaan kita?Gw rasa lebih baik mengkritik sekaligus menjelaskan tentang arti Kartini terlebih dulu. Jangan bertanya dengan huruf2 Kapital, sedang dalam akhir kalimat hanya bisa bilang dengan culunnya tidak tau juga kalau ditanya, tapi masih mending karena kebetulan gendermu laki2, jadi gak perlu menjawab ato gak perlu tau tentang itu. Maaf ya kalo ada perkataan saya yg menyinggung.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s