Setrika Untuk Sahabat

Ketika dia berulang tahun nanti, aku ingin memberikannya sebuah setrika. Kenapa? Sebab selama ini aku ngeliat pakaiannya yang dikenakannya nggak pernah rapi. Mesti kusut. Kentara sekali lipatan-lipatan gak teratur di pakaiannya. Duh, aku jadi iba.

Sebenarnya, pengen sekali dua kali aku menegurnya. Menanyakan kenapa bajunya nggak pernah disetrika. Namun, aku langsung bisa ngambil kesimpulan, meski tanpa bertanya terlebih dahulu. Ini temanku pasti nggak punya setrika. Tapi, mungkinkah? Secara, dia kan anak orang kaya. Setidaknya dia pasti punya pembantu yang bertugas untuk menyetrikakan bajunya.

Namanya Tanpa Koma. Ya, namanya Tanpa Koma. Nama yang lucu sekaligus aneh waktu pertama kali ia memperkenalkan diri. Seisi kelas langsung tertawa. Takjub. Heran. Kok, ada ya orang bernama begitu?

“ Namamu Tanpa Koma?” Aku bertanya lagi begitu ia kembali ke bangkunya. Kebetulan dia duduk di sebelahku.

“ Iya!”

“ Namamu aneh ya? Aku baru denger loh? Kok bisa orang tuamu ngasih nama begitu?” tanyaku lagi. Sok akrab. Padahal diam-diam, aku juga pengen punya nama yang aneh dan unik. Tapi, sayang orang tuaku begitu katroknya. Dia hanya memberiku nama yang pasaran banget. Slamet. Sebab, aku lahir dengan selamat. Cuman itu penjelasan singkat dari orang tuaku waktu kutanya tentang namaku.

“ Mmm… Tanpa Koma. Sempat sih aku nanya ortuku arti namaku. Mereka bilang, Tanpa Koma itu berarti tanpa hambatan. Kamu tau sendiri kan kalau tanda koma dalam bacaan, sering jadi pemenggal – penghambat menuju kalimat berikutnya. Nah, papaku ingin agar aku dalam hidup ini, tanpa hambatan. Selalu sukses. Begitu…”

Aku ber-ooo panjang.

“ Wah, asyik juga ya punya nama unik kayak Kamu!” pujiku dengan setengah hati. Jujur, aku juga ingin memiliki nama yang unik seperti itu. Namun yang pasti, harus ada maknanya. Sebab nama tanpa makna sama saja dengan manusia tanpa perasaan. Garing!

Sejak perkenalan itu, dia malah jadi sahabatku. Koma, aku memanggilnya demikian, memang anak yang baik. Selalu ramah pada setiap orang. Meskipun anak berada, ia tidak membeda-bedakan teman. Baginya, selama orang itu menerima Koma apa adanya, ia juga akan menerima orang tersebut apa adanya. Inilah kelebihan Koma yang patut aku contoh.

Di antara sekian kebaikan, keramahan, dan ketulusan hatinya, ada satu hal yang mungkin luput dari perhatian Koma sendiri. Apa itu? Baju-baju yang dipakainya. Kenapa? Selalu kusut. Belakangan ini entah kenapa aku mulai memperhatikan hal itu. Menyadari hal itu. Baju-baju Koma selalu kusut.

Ketika ia maju presentasi, misalnya, selain memperhatikan materi presentasinya, aku pun tak lepas dari kusutnya baju-bajunya. Hem yang kentara sekali lipatan-lipatannya.

Pun ketika ia baru keluar dari mobilnya, meski mematut diri di kaca mobil, namun aku seperti menyayangkan suatu hal. Koma kok sepertinya tidak merapikan bajunya ya? Apa tidak sempat disetrika? Atau baju itu dipakai pula untuk tidur? Tau sendiri kan kondisi baju berbahan kain setelah dipakai tidur? Pasti kusut semrawut!

Kalau hanya sekali dua kali seperti itu, aku mungkin tidak mempermasalahkan sampai menulisnya dalam bentuk cerita gini. Tapi, aku ngeliat ada sesuatu yang tidak beres dari diri Koma. Penampilan fisik sih oke, apalagi untuk ukuran cewek-cewek. Otak juga lumayan. Tapi, dandanan??? Bajunya selalu kusut. Tidak hanya hem, kemeja, tapi juga kaos.

Ada apa?

Tapi, aku memang bukan periset. Buat apa coba, aku meneliti kehidupan orang lain sampai sedetil-detilnya, meskipun ia temanku, sahabatku sendiri?

Ah, ya! Bulan depan dia bakal berulang tahun, kenapa tidak aku gunakan saja momen ini? Yihaaaa…sebuah bohlam raksasa menyala di kepalaku.

AKU AKAN MENGHADIAHKAN KOMA SETRIKA!!!

Huuuuppp!!! Tapi, karena uangku belum cukup untuk membeli setrika, aku akan menabung dulu. Menabung selama sebulan ini. Menyisakan uang sakuku sekitar lima ribu rupiah per harinya.

Ah, menabung memang banyak manfaatnya!!! Salah satunya, bisa beli setrika untuk Koma! Aku merasa jadi orang paling berjasa…

Surabaya, 26 April 2008

Adakah yang mau menyumbangkan setrika untukku? Biar aku gag perlu menabung lama. Biar setrikanya bisa aku bungkus dengan kado secepatnya dan tak perlu menunggu momen ulang tahun segala. Adakah? Oooooh… adakah???

Iklan

6 thoughts on “Setrika Untuk Sahabat

  1. insya Allah gag terkejut coz si Koma udah biasa kok nerima kejutan kayak gene…kayaknya gag perlu deh bikin kelanjutannya!!!cukup ampe di sini yah sayang…hohohoho

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s