Ofah ke-14

Meski bukan kakak yang baik, namun aku akan selalu berusaha menjadi kakak yang baik. Pun, di hari istimewanya, saat ia dilahirkan empat belas tahun yang lalu, ke dunia, ke alam yang akan ia singgahi seperti rehat sebentar di bawah pohon beringin. Ia, Ofah, adikku cewek paling kecil, berulang tahun.

Dan…

Di hari ulang tahunnya yang ke-14 ini, aku tak punya sesuatu buat dia. Sesuatu itu, barang, maksudku. Ya, aku tak punya. Dan, memang setiap tahun begitu. Kami sekeluarga sudah terbiasa tanpa hadiah barang. Di hari yang katanya, kesannya, dan sengaja disakralkan agar istimewa – alias ulang tahun, kami biasanya hanya saling berkirim doa, ucapan selamat “telah mencapai usia sekian”. Meski, selalu terucap “semoga panjang umur”, namun sadarkah kita, justru umur makin pandek. Kita, makin mendekati apa yang disebut HIDUP.

Ah, aku sok berfilosofi. Bukankah jika tulisanku ini dibaca oleh adikku, Ofah, tak yakin aku, dia akan mengerti. Mungkin perlu kalimat-kalimat yang sederhana. Agar ia bisa mencerna. Namun, ah… Ini tulisan kan bukan buat dia. Ini tulisan sengaja aku bikin untuk dibaca oleh diriku sendiri dan orang lain yang sempat membacanya. Jadi, aku tak menghalangii. Silakan! Ofah pun kalau mau baca, ya…monggo!

Ofah yang keempat belas…

Tadi aku sempat menelepon dia. Seperti biasa, aku lebih banyak ngomong ketimbang dia. Padahal sumpah, aku merasa berdosa. Aku seperti tidak memberikan kesempatan pada adikku untuk mengeluarkan pikiran, uneg-uneg, serta kecamuk pikirannya. Mungkin ini pula yang jadi karma bagiku. Saat teman-temanku di kelas pada bicara, aku pun jadi Ofah. Pendengar setia. Tanpa banyak bicara. Mendengar dan mendengar. Bicara ketika dipersilakan.

Namun, Ofah… Yakinlah! Percayalah! Mendengar itu lebih baik daripada berbicara. Siapa yang menjamin kau selamat dengan omonganmu. Lidahmu bisa lebih tajam, melukai, mencabik perasaan orang lain, meskipun kamu tak sadar itu. Maka, aku menyarankan, lebih baik diam. Dengarkan. Berbicaralah seperlunya dan pada tempatnya. Jika kau ingin bicara, silakan saja. Namun, tetap hati-hati. Jika lidahmu tak tahan diajak kompromi, sumpal ia dengan jalan “menajamkan indera pendengaran”-mu. Telingamu dua, lidahmu satu.

Ofah, kakak memang tak bisa memberi apa-apa. Duit sih ada, tapi duit bapak. Kalaupun kakak belikan Ofah hadiah, esensinya itu hadiah dari bapak. Jadi, hadiah yang murni dariku hanyalah yang bersifat non-materi. Apa itu? Mungkin sekadar doa, kata-kata penyemangat, motivasi buat Ofah.

Dan, bulan ini lumayan banyak teman-teman kakak yang ulang tahun. Di kelas diumumkan. Lewat friendster pun diingatkan. Namun, hanya ulang tahun Ofah yang kakak catat di reminder hp.

Ah, ulang tahun…

Hitung diri ya, Fah…

Surabaya, 8 Mei 2008

Hari ini ultah Ofah ke-14

Iklan

4 thoughts on “Ofah ke-14

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s