Rumah Berselimut Buah ( Part II )

Okeh, setelah membaca bagian pertama dari serial Rumah Berselimut Buah, sekarang mari saya tunjukkan pohon buah-buahan lainnya yang ada di rumah saya – yang dulu.

Bagian samping kiri rumah, kalau dilihat dari depan, ada beberapa pohon buah di situ, antara lain: pohon nangka bubur, jeruk purut, jambu biji, dan pohon pisang.

Pohon nangka ini dibilang kerdil, boleh juga. Hamilnya aliasnya berbuahnya pun jarang-jarang. Posisinya di belakang berugaq (gazebo). Tidak ada yang menarik dari bentuk pohonnya selain buahnya yang montok dan siap dipanen. Maklum, namanya saja nangka bubur. Jika sudah masak, wanginya bisa menyengat hingga ke dalam rumah. Jika buahnya dibelah, tampaklah buahnya yang lebih nampak seperti duren, saking lunaknya, hingga menyerupai bubur. Pas dimakan, terasa serat-seratnya menyelinap di sela-sela gigi. Namun, nikmatnya itu, tak bisa dibandingkan dengan nangka biasa. Lezaaat…

Kalau nangka bubur juga enak dibikin bubur atau campuran kolak, lain halnya dengan pohon jeruk purut. Insya Allah di pohon ini, tidak ada hantunya. Buahnya amat bermanfaat, terlebih saat bikin pelecing. Perasannya dicampur ke sambel ulek. Bikin wangi dan lebih nge-taste. Tapi, awas, jangan dimakan mentah-mentah. Lidah Anda bisa terasa pahit berhari-hari. Ini buat campuran sambal. Dan, lidah Anda bukan sambal kan?

Jambu biji alias jambu batu. Ini jenis buah terbanyak kedua di rumahku, setelah pohon pisang. Jambu biji ini tumbuh di dekat kolam. Kalau masak, warna kulitnya kuning, bentuknya besar. Dimakan, akan tampak dalam buahnya yang berwarna putih atau kadang merah. Tergantung jenis jambunya apa. Tapi, enak kok! Manis. Cocok dimakan saat musim hujan atau pun musim kemarau. Juga bagi yang lagi mencret. Aku lebih suka mengobati mencretku dengan makan jambu biji yang masih kecil. Kecil, tapi mujarab. Coba aja!

Kita ke belakang lagi, tapi masih di sebelah kiri rumah.

Nah, di belakang sini, dekat dengan dapur, halaman rumahku masih cukup luas. Pohon buahnya so pasti ada. Di sana Anda bisa menjumpai mangga golek (gak tau bahasa Jawanya apa), nangka, mangga dodol, pohon sukun, dan jambu air.

Mari kita nikmati satu per satu!

Mangga golek ini bentuknya memanjang. Yang masih muda, bener-bener kecut. Bikin wajah jadi meringis masam kalau sempat mengigitnya daging buahnya. Tapi, kalau sudah matang, jangan tanya! Manisnya begitu menggoda. Plus dengan nuansa kecutnya. Tapi, sedikit. Kebanyakan manisnya. Lebih sering buahnya besar dan memanjang. Enak jadi pencuci mulut. Tapi, yang muda pun, kadang dibikin beberoq (cacahan mangga muda dan disambel). Enak jadi teman nasi.

Ada pohon nangka lagi. Tapi, aku tidak akan bercerita banyak tentang pohon nangka ini. Maklum, bentuk pohonnya jelek. Tau Edi Brokoli? Nah, bentuk daunnya melingkat membulat seperti itu. Tak pernah berbuah. Mandul. Tapi, keluargaku sengaja membiarkannya di situ. Jadi penghias? Tidak! Lebih sering dijadikan tambatan buah-buah kelapa. Selebihnya, jadi tonggak untuk sabut-sabut kelapa yang masih muda. Untuk dikeringkan. Dan dijadikan bahan bakar. Begitu.

Agak ke belakang sedikit, tapi masih di sebelah kiri rumah. Sebuah pohon sukun menjulang tinggi. Puncaknya saja, mungkin melebihi pohon mangga dan jambu air di dekatnya. Namun, daunnya lebar-lebar dan agak jarang. Nggak usah diremehkan. Sebab, buahnya itu paling enak dibikin kripik. Aku sering loh bikin kripik sukun bareng ibuku dan sodara-sodaraku. Kakakku tukang jolok sukunnya, ibuku yang ngupas dan ngiris-ngiris, dan aku yang bagian penggorengan. Goreng, matang, aku langsung mencicipi. Snack gratis buatan sendiri. Kriukkk…kriuuukkk….

Berdampingan dengan pohon sukun, ada pohon jambu air. Buahnya, ada yang merah merona, putih pucat, tapi lebih sering merah muda alias pink. Jambu air, pasti berarir. Manis tidaknya tergantung musim. Kalau musim hujan, biasanya buahnya tidak manis. Rasanya datar. Kebanyakan air, kali. Nah, kalau musim agak kering gitu, biasanya sih buahnya manis-manis. Kecil atau besar, tetap manis. Lebih sering, kami naik, untuk ngambil buahnya. Tapi, kalau lagi malas, mending pake penjolok yang terbuat dari bambu panjang. Hati-hati juga loh kalau terlihat bintik cokelat kecil-kecil di pantat buahnya. Ada ulat tuh! Gak nikmat kan makan jambu berulat. Emang berani dirimu dengan ulat?

Well, gak terasa udah dua halaman word spasi 1,5 hanya untuk deskripsiin pohon buah-buahan yang ada di rumahku – yang dulu. Sekarang kita beranjak ke halaman belakang. Di sini, pohon buah-buahan masih mendominasi. Nggak cuman jambu air (lagi-lagi) dan mangga manalagi, tapi ada entry lain. Apa itu? Pohon sirsak. Yuhuuuu….

Jambu air ini gak jauh beda ama jambu air yang tadi udah aku deskripsiin. Maklum, jenis mereka sama dan sat
u sama lain pun, berdekatan. Hanya berjarak segalah aja. Mana yang lebih manis? Sama saja! Buahnya pun kurang lebih sama banyak. Nggak pernah ngitung sih! Tapi, nggak jauh bedalah.

Terus, mangga manalagi alias arumanis. Buahnya seharumanis namanya. Tekstur dagingnya lebih halus. Smooth. Selagi muda, dibikin rujak, oke-oke aja. Kalau sudah matang, dimakan segar, lebih maknyus! Mau pake cara konvensional alias dikuliti dulu pake pisau, lalu dipotong-potong, dan dinikmati? Boleh! Atau pake cara yang lebih manusiawi? Langsung dikuliti pake gigi. Lebih terasa tuh sensasi rakusnya. Hahaha…

Dan…inilah yang bikin beda, khususnya untuk halaman belakang. Yup, pohon sirsak. Kulitnya ditumbuhi duri-duri kecil nan lunak. Kalau muda, buahnya masih agak keras. Kalau sudah matang, baru deh! Dipejal pake tangan, terasa tuh lunaknya. Pertanda sudah matang dan siap dinikmati. Kalau dimakan segar, kurang seru. Mendingan dibikin es sirup sirsak aja. Dan, keluargaku lumayan sering membuatnya. Sedeeeeeppp….

Well, di bagian satu tulisan ini, aku udah bahas buah-buahan yang nangkring di halaman depan rumah. Terus, bagian dua, lebih ke arah samping kiri dan belakang rumah. So, biar postinganku gak kepanjangan hingga bikin MPers males mbacanya, mendingan aku penggal sampai di sini dulu deh!

Aku lanjutkan di postingan berikutnya. Rumah Berselimut Buah ( Part III ).

See ya there…

Surabaya, 8 Mei 2008

Makin jauh beranjak, makin rindu kurasa

Rumahku yang dulu – kapan aku bisa bernostalgia lagi bersamamu…

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s