Rumah Berselimut Buah ( Part III )

Setelah berkeliling rumah saya, mulai halaman depan, samping kiri rumah, hingga belakang, sekarang saatnya menuju bagian kanan sampai ke belakang sana. Yuuuk! Marrreee…

Sebenarnya, sebelah kanan rumah saya – yang dulu, lebih rame, lebih variatif, dan lebih luas lagi pekarangannya. Bisa dibilang, bagian kanan dikhususkan untuk kebun. Kebun yang arealnya dibagi berupa petak-petak kangkung yang di pematangnya digerogoti oleh pohon… (sekali lagi) buah-buahan.

Seiring berjalannya waktu, rumah saya pun mengalami pemekaran. Kebun yang dulu sekaligus menjadi tempat bermain yang asyik, kini sedikit demi sedikit tapi pasti, mulai disesaki oleh bangunan. Bapak saya membangun rumah (cukup besar) di situ. Bibi saya pun tidak ketinggalan. Dia bikin rumah juga. Bibi saya yang satunya lagi, bikin ruko. Pokoknya, jengkal kebun yang tersisa untuk tanaman, kini sudah mulai menyempit. Dan, saya pantas bersedih untuk itu… (sungguh! Bukan sedih yang dibuat-buat. Sebab kenangan banyak tercipta di situ. Kebun rumah saya – yang dulu).

Okeh, saya mulai saja bercerita. Cerita tentang pohon buah-buahan, sesuai dengan judul tulisan ini.

Di samping kanan rumah, ada banyak pohon buah bertebaran. Mulai mangga golek, pepaya, pisang aneka jenis, jeruk sunkist, jeruk purut, pohon apukat, mangga arumanis, mangga dodol, dan paling kanan belakang sendiri, pohon jambu apel. Hmmm… tuh, kan! Lumayan banyak.

Mangga golek, ditanam oleh nenek. Cangkokan sih. Makanya, pohonnya kerdil gitu. Tapi, jangan salah sangka dulu. Biar pun kecil, tapi buahnya lumayan banyak dan besar-besar. Kecil-kecil si cabe rawit yeahhhh….

Jeruk purut dan jeruk sunkist-lah yang mengapit pohon mangga golek ini. Si purut berpohon tinggi, berbeda 150 derajat ama si sunkist. Kadang kalau buahnya lagi over gitu, kami memetiknya untuk dijual ke pasar oleh ibuku. Kan gak semuanya toh dikonsumsi sendiri? Emang berapa sih yang dibutuhkan untuk perasan sambel? Paling cuman satu dua. Daripada mubazir, mending dipetik, lalu dijual. Lumayan duitnya. Bisa dibelikan bahan dapur yang lain. Ya kan?

Pisang anek jenis? So pasti. Ada pisang raja, pisang kepok, pisang kapal (panjang dan kurus – mirip pesawat terbang), pisang tembaga (warna kayak tembaga – tapi rasanya agak aneh di lidah), pisang susu (kecil tapi manis), pisang ambon, dan entah apalagi namanya. Ini nih jenis pohon yang paling banyak di rumahku. Dominan banget lah! Dia ada mulai kanan depan, kiri depan, hingga ke kanan belakang. Pisang dan pisang. Makanan monyet? Tidak juga! Kami sekeluarga doyan juga kok makan siang. Dimakan segar, direbus, dibakar di dalam tungku tanah liat, dikripik, dipisang-goreng, dikolak, dan dibikin campuran kue, hmmm… Pisang emang bisa dibikin banyak variasi deh!

Terus, ada pohon mangga arumanis. Kalau yang ini, lebih besar dan lebih tinggi pohonnya ketimbang arumanis yang ada di halaman belakang. Soal rasa, sama aja. Bahkan ini yang lebih banyak buahnya dan lebih sering kami gergogoti. Hehehe… Ternyata, gak cuman kalong aja yang hobi berburu mangga arumanis, kami pun juga begitu. Makanya, siapapun yang suka makan buah-buahan langsung di atas pohonnya, sering dijuluki si bukal alias kalong. Dan, aku yang paling sering mendapat julukan itu. Karena, sering banget aku makan jambu (air atau biji) atau makan mangga, langsung secara live di atas pohonnya. Abis, lebih punya taste gitu… huehhehe…

Nah, kali ini kita kenalan ama jenis mangga yang sedikit beda. Kami di rumah menyebutnya mangga dodol. Bukan dodol dalam artian gokil. Penamaannya mungkin karena bentuk buahnya yang imut dengan rasanya yang manis dan sedikit legit. Lebih enak dimakan segar. Buahnya yang tidak seberapa, namun manis, sungguh sering membuatku kangen. Dulu, aku suka makan mangga ini sambil main ayun-ayunan (kebetulan pamanku bikin ayunan dari ban bekas yang talinya diikatkan pada dahan mangga dodol ini). Sayang, pohonnya udah ditebang. Nggak seru! Lagi-lagi karena dampak pembangunan. Huuuuuuhhhhh…

Okeh, kalo udah selesai nikmatin mangga dodol, mari kita ke pohon buah selanjutnya. Tepat di depan musholla (kebetulan namanya Musholla Al-Fatah, diambil dari namaku. Huehehhe…), ada pohon jambu apel di situ. Jambu sama apel ngeblend jadi satu? Hohoho…tidak!

Begini Sobat! Ini termasuk jenis jambu air. Warnanya merah muda kehijau-hijauan. Agak mirip kulit apel memang. Namun, rasanya tak kalah rasa apel loh! Sama-sama manis dan maknyis and sometimes legitis!!! Biasanya sih berbuah limpah pas bulan puasa. Makanya, gag heran kalo sehabis tarawih, kami para mushollani ( istilah untuk yang sholat di musholla. Hehehehe…ngarang banget!), seringkali berburu jambu apel ini. Tapi, lebih sering nggak nafsu. Sebab, pasti perut udah kenyang abis berbuka. Apalagi ada buah lain yang lebih kuat tarikan magnetnya. Yups, mangga!!! Kami lebih sering nge-mangga daripada nge-jambu.

Selanjutnya, masih banyak sih pohon buah-buahan yang lain yang menghuni rumahku. Tapi, kok energi untuk nulisnya udah duluan drop yah? Hiks…maklum! Capek juga bayangin tuh buah-buahan! Sementara kini keberadaan mereka sudah banyak yang punah. Yups! Punah. Sebuah kata yang sangat menyakitkan.

Apalagi isi
kebun kami. Bikin diriku jadi gak nahan. Ngebayangin diriku nulis di sana. Atau maen laptop di atas pohon jambu. Atau duduk-duduk di salah satu dahan mangga sambil baca Supernova – Petir, yang tadi siang aku pinjam dari Dian. Oh, alangkah indahnya!

Tapi, semuanya sebatas khayalan. Khayalan yang entah… Bisa terwujudkan atau tidak. Meski. Di. Alam. Mimpi…

Surabaya, 8 Mei 2008

Menikmati dunia khayal bernama RUMAH – YANG DULU

Iklan

4 thoughts on “Rumah Berselimut Buah ( Part III )

  1. niwanda said: Menyenangkan sekalii…

    iya nih mbak!!!pulang sekolah, langsung naek ke atah pohon jambu. makan sepuas2nya di atas, kayak kalong.tapi, sekarang udah gede gini n pindah rumah, duuuhhhh..jadi kangen masa2 itu!

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s