Tolong, Jangan Bisuli Aku Lagi!!!

Duh, penyakit lama kumat lagi! Penyakit jaman SD. Dibilang penyakit sih, gak tau ya? Emang bisul di pantat termasuk penyakit gak, fren?

Tapi, itulah yang sedang aku rasakan saat ini.

Saat aku jauh dari keluarga, jauh dari Lombok tercinta, jauh dari surga dan neraka (ya iyyalah…secara masih gentayangan di bumi), aku kembali di-nostalgila-kan dengan sebuah bisul kecil yang nempel di pantat. Oughhh… Kenapa ini harus terjadi? Kenapa bisul ini mirip judul bukunya Radith yang keempat.

BISUL NGEPOT : DATANG TAK DIUNDANG, SEMBUH GAK BILANG-BILANG

Haruskah aku adukan bisulku pada malaikat maut? *loh? what for*

Tapi, inilah kenyataan yang tidak bisa aku pungkiri. Meski kadar bisulnya masih berupa embrio, namun terasa sakit kalau ditekan. Seperti ada sebutir mutiara yang ogah enyah dari pantatku.

Aku pun sujud syukur pada Tuhan Yang Mahakuasa…

Atas segala karunia-Nya yang di luar dugaan ini… *Allah…ampuni aku…*

Dulu, ketika masih SD, selain tipes, penyakit yang juga lumayan sering nyerang aku adalah BISUL DI PANTAT. Ini mungkin *mungkin loh ya* gara-gara pola mandiku yang kurang beradab dan kurang berpola. *ya iyyalah…mandi kok pake pola*

Terus, kemungkinan kedua karena aku agak kurang rajin mandi pake air bersih *emang mandinya pake air beras?*

Jujur, kalo bisulku tidak ditangani segera, maka yang terjadi adalah letupan emosi yang terlalu dini. Bisulku biasanya ditemani dengan panas yang menjalari seluruh tubuku. Ya, aku panas. Ujung-ujungnya, tepar di rumah! Terbaring dengan sarung, dan bisul yang makin ganas dan makin beringas, bikin pantatku panas dua belas derajas!!

Gaya duduk pun perlu modifikasi. Jangan sampe bisul yang sedang bersemi, tergencet pada alas duduk. Jangan sampe! Mending berdiri sepanjang hari di bawah matahari sampe pingsan ato kalo lagi di tempat tidur, pake gaya 69. hehehehe… apaan sih?!

Intinya, selamatkan bisulmu segera!!!

Jikalau waktu itu telah tiba, bisulku sudah seperti Merapi yang mau meletus, atau seperti lumpur Lapindo yang mau menghambur keluar, maka aku biasanya diminta untuk ngolesin pake cabe alias lombok yang masih seger. Bisa pake salep khusus untuk bisul. Cara lain, tuh bisul dilulur pake gilesan buah pala. Alternatif lain, pake tai idung. Ini resep turun-temurun dari kakek nenekku.

Katanya sih, keempat ingredients itu, bagus sebagai katalisator alias trigger agar bisulku cepat brojol. Dan, aku sudah membuktikan! Ternyata, benar! Semakin dipanas-panasi, bisul dengan sendirinya akan sadar diri bahwa memang sudah saatnya dia harus memuntahkan nanahnya.

Tapi, entah kenapa, manusia kayak saya *gak tau Anda*, biasanya ntu sering nggak nahan. Maksudnya, meskipun berdasarkan tesis kakekku, bentar lagi bisulku akan pecah dengan sendirinya, namun aku sering kali melakukan pijat khusus alias mencet-mencet tuh bisul. Padahal ujung-ujungnya yah…aku bakal meringis sendiri. Kadang terbahak-bahak, menertawakan diriku yang hinaaaa ini… *ouh…bisul. so sweeeeet…*

Obat dan pijatan pun bereaksi. Bisul pecah, sebagai bentuk tangisan pertamanya di dunia, aku pun sebagai induk – tempat sang bisul numpang nongkrong – langsung mengucapkan Alhamdulillah. Perjuanganku tidaklah sampai antara hidup dan mati, seperti perjuangan kaum ibu yang melahirkan bayinya. *terharu*

Setelah bisul pecah, langkah selanjutnya adalah sauna. What? Yuhuuu…Anda gak salah baca. Karena bisul itu kan mengandung nanah. Jadi, untuk membersihkan juga perlu cara khusus. Yup, sauna alias mandi hangat.

Tapi, karena aku belum mengenal apa itu sauna *secara aku masih SD*, aku pun membersihkan sisa-sisa pecahan bisul dengan berendam di kolam ikan. Ya, kebetulan di samping rumahku, ada kolam ikan. Nah, aku berendam di situ. Dan, tau gak Kawan, ada sesuatu yang geli di situ. Ternyata, ikan-ikan pudes – aku menyebutku demikian – (itu loh ikan2 kecil air tawar yang ada satu bintik putih di dahinya), mereka itu ternyata hobi juga nyundul-nyundul pantatku. Mereka itu dengan mulut mungilnya, diam-diam menaruh minat dan bakat pada bisulku yang pecah. Mereka makan tuh nanah! Iiiiiiiihhhh… jijaaaayyyyy abeeeeeeezzzzzzzz….

Itulah sekelumit perjuanganku membebaskan diri dari bisul.

Dan kini aku sedang digerayangi lagi. Nostalgia lagi dengan bisul. Ya Allah… Ampuni aku dan bisulku…



Surabaya, 10 Mei 2008

Meski kondisi kurang fit,

namun aku berusaha untuk tetap memberikan yang terbaik pada dunia

*halahhhhahahahahaa…*

Iklan

5 thoughts on “Tolong, Jangan Bisuli Aku Lagi!!!

  1. Aiyyyaaaahhh……keponakanku nyang catu ini lagi kena musibah rupanya…Bisul jg pernah ninggalin memory manis untukku, karena dia aku selamat dari ulangan matematika.Ceritanya, dalam surat ijin kutulis jujur kalo aku sedang sakit UDUNEN..mungkin Pak Guru jg pernah bisulen, shg beliau bersimpati dg nggak nyuruh aku nyusul ulangan.walhasil, nilai 7 bisa aku dapetin tanpa ikut ulangan, so simbiosis mutualis…..

  2. Kok bisa2nya berendam d kolam ikan.Saya juga pernah bisulan di ketiak waktu SD, Jadi kalo jalan tangannya ke angkat kaya orang aneh (bayangin sendiri) mo ga mau kalo ga bisa pecah telur kesayangan

  3. Kenapa kolam?Sebab, di dalam kolama ada ikan. Ikan2 suka bgt iseng nyium2 bekas bisulku. Mereka kenyang, aku pun terasa digelitik…Lucu bin geli bin jijay

  4. Simbiosis mutualisme yang diterapkan dikehidupan nyata nich ceritanya, bagus nich kalo ade q dikasih pr “berikan contoh hubungan simbiosis mutualisme dalam kehidupan sehari”.Wah bisa dapet seratus dianya

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s