Bantal di Atas Daun

Setumpukan daun oak yang kekuningan. Diam di atas tanah yang lembab. Bersilauan di antara hijau rerumputan. Kadang, satu jatuh. Menimpa yang lainnya. Semakin lama semakin banyak. Bertumpuk-tumpuk. Meski angin terkadang nakal menghempasnya jauh. Namun, magnet di antara daun-daunlah yang menyatukan mereka. Kuning. Bertumpuk.

“ Seperti itulah hidup.” Ada bisik yang mampir di telingaku.

“ Hmmm….”

“ Semuanya akan menuju satu titik akhir. Mati.”

“ Daun oak ini? Semula tunas, hijau bernas, kuning merona, makin menua, digelincir angin, jatuh… Begitu?”

“ Tepat!”

Aku sudah paham akan hal itu. Alam yang memberitahu. Sudah lazim. Jamak. Namun, bisik entah itu kembali ingatkan. Padahal, tak diingatkan pun, aku selalu ingat. Hidup itu di ujung yang satu, penghujung lainnya: mati. Berpasang-pasangan, kalau di dalam Al-Qur’an.

“ Lalu?”

“ Itulah kita. Merasa sudah terbiasa, merasa sudah paham, itu wajar, lantas kita lupa. Lalai. Tak hirau. Buat apa memikirkan itu semua? Tak ada yang perlu dipikirkan? Hidup ya hidup. Mati ya mati. Mutlak, itu!”

Bisik itu tak menyahut. Dugaku, ia pasti sedang berpikir. Menjawab tanyaku. Minimal, melontar komentar. Nyambung tidak nyambung, masalah belakangan. Yang penting, bersuara. Begitu kata para politikus pengumbar kata. Diam itu tak selamanya emas. Diam itu terkadang mati.

“ Membayangkan manusia tanpa otak…”

Nah, benar kan? Mulai menunjukkan ketidaksinkronan.

“ Esensi berpikir! Otak untuk berpikir. Bukan manusia namanya tanpa otak. Bukan manusia namanya kalau tidak berpikir. Paham?”

“ Lumayan…”

“ Lantas, untuk apa percakapan ini kalau bukan untuk dipikirkan? Untuk apa daun-daun oak itu berguguran kalau tidak untuk menjadi bahan pelajaran? Untuk apa ada siang, ada malam, ada orang jahat, ada orang baik, ada…”

“ Stop!!! Cukup! Aku sudah mengerti apa yang kau maksudkan! Jangan menambah-nambah contoh yang hanya untuk menunjukkan bahwa kau pintar, wahai bisik!”

“ Begitulah jika otak sudah terkontaminasi ion-ion negatif!”

“ Memangnya kenapa?” tantangku. Tatapku tajam pada sang bisik.

“ Semua hanya dilihat dari sisi buruknya saja! Dan, pernahkah kau berpikir bahwa di balik keburukan ada kebaikan. Di balik kebaikan, ada keburukan. Kebenaran itu relatif! Sekali lagi, kebenaran itu relatif!”

“ Diaaaaaaaaammmmm…”

Tiba-tiba sekelilingku sudah gelap. Matahari yang tadi aku rasakan terang dan hangatnya tiba-tiba lenyap tak tersisa. Kelam mengumpal-gumpal. Angin juga telah padam hembusnya. Sepi berderak-derak. Daun-daun oak tak ada bisik.

“ Pengecuuuuuuuttttt!!!! Mana kau bisiiiikkkk??? Jangan sembunyi kauuuu!!!”

Kalimatku termakan hampa. Aku berteriak. Kurasa tenggorokanku panas hanya untuk teriak. Namun, telingaku tak mendengar apa yang aku teriakkan. Sunyi mengendap dalam otakku.

Aku pun mencoba berdiri. Adakah ruang tersisa untukku? Adakah waktu masih memburuku? Adakah…

Aku berada pada entah.

Hanya titik dalam hitam.

Melihat diriku sendiri pun, aku tak bisa.

Aku hampir hilang rasa. Saat diriku berdebam pun, aku hampir habis rasa. Meski, tumpukan oak itu masih terasa. Aku merasa seperti bantal di atas daun oak. Ditiduri malam.

Surabaya, 29 Mei 2008

Iklan

4 thoughts on “Bantal di Atas Daun

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s