Berjemur di Atas Genting, di Bawah Matahari

Melanjutkan obsesi gue tidur di atas atap, kemarin pagi, sekalian menjemur bantal di atas genting, gue pun duduk-duduk di sana. Berjemur. Mandi matahari yang masih hangat-hangat tai kambing. Hehehe…

Gue pun memutar pandangan ke sekeliling. Duh, sumpah! Pandangan gue kebentur sama gedung, rumah, dan sekali lagi gedung! Tidak asyik memang. Berharap gue seperti berada di atas puncak dan menemukan kehijauan di mana-mana. Ini tidak! Tembok, genting, tiang-tiang pemancar televisi, kubah mesjid, gedung SD, dan tentu saja kompleks perkantoran, gedung rumah sakit, dan hotel…

Di kosku, mana ada pohon!

Jadi teringat saat aku dulu manjat pohon mangga di rumah. Diam di atas seperti kelelewar yang sedang menyusui induknya (loh?). Nah, sambil asyik ngambes (makan mangga tanpa dikupas terlebih dahulu, Sasak), aku pun tak bosan-bosannya memandang kejauhan. Sawah yang menghampar, Gunung Rinjani di sebelah utara, dangau di tengah sawah, pepohonan, dan tentu saja yang sedikit mengganggu: terminal angkot depan rumah yang selalu sepi meski berkali-kali dicoba dihidupkan, tapi hasilnya nihil.

Sekarang, balik lagi ke Surabaya, Gubeng Jaya II, Kosku nomer 70…

Jalan gang di depan. Belakang rumah berhimpit-himpitan. Spasi hanya sedikit. Mencari oksigen yang benar-benar murni sepertinya hanya bisa pada waktu Subuh. Hanya sepertinya loh ya! Aku kan gak bisa menentukan kadar murni oksigen itu kayak gimana. Ya, hanya bisa dirasakan oleh segarnya udara yang menyusup ke paru-paru. Tapi, karena Subuhku pun sering terlambat, kesempatan untuk itu…lewat! (Ini nih karunia Allah yang sering aku lewatkan begitu saja… Astaghfirullah…)

Sambil duduk-duduk di atas genting kosan, menikmati hangat matahari, aku lagi-lagi mengkhayal banyak hal.

Dulu, waktu kelas 2 SMP, aku inget banget pas lagi ngobrolin cita-cita dengan temanku, Chele. Dia bilang pengen jadi insinyur (dan kebetulan banget kesampean. Dia masuk jurusan Arsitek Brawijaya). Terus, aku sendiri pengen jadi ahli botani (waktu itu aku lumayan demen yang namanya pelajaran geografi, biologi, dan hal-hal hijau. Tapi, gak kesampean – tepatnya, ganti cita-cita terus). But, whatever-lah! Rumah idamanku kelak, kalo bisa sih yang alamnya masih ijo royo-royo (Malang dong? Gak juga!).

Kalo pun keadaan mengharuskan tinggal di kota, paling tidak rumahku banyak ditumbuhi tanaman. Sekali lagi, aku suka kesegaran. Rumah yang banyak tanamannya, pastinya menyediakan kesegaran yang aku inginkan! Betul??? (Tanya Cica alias Grace, ah…)

Well, matahari sudah mulai panas…

Bantalku aku biarin aja dulu di sini sampai sore nanti…

Aku akan segera turun. Meluncur ke kamar mandi. Ngapain???

Melakukan semedi suci…

Suravaya, 3 Juni 2008

Iklan

10 thoughts on “Berjemur di Atas Genting, di Bawah Matahari

  1. huhu…pengalaman yg miripp, mbak juga serign homesick ma kota Tasik krn resik n di kota kyk bandung ini jarang (ga ada?) pohon..hiks hiks. berjemur di atas genting awas jadi kering…hehehh

  2. meylafarid said: huhu…pengalaman yg miripp, mbak juga serign homesick ma kota Tasik krn resik n di kota kyk bandung ini jarang (ga ada?) pohon..hiks hiks. berjemur di atas genting awas jadi kering…hehehh

    jemurnya pagi2 kan, mbak???so, gak ampe kering getuw…weleh…weleh..orang tasik gak mudik ta???btw, mbak ngajar di playgroup ya?

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s