Dara Nakal

Ini kisah waktu saya masih kecil (sekecil semut?). Gak dink! Pokoke,
saya masih MI. Di rumah, saya termasuk tim cleaning service. Nyapu
bagian dalam rumah adalah spesialisasi saya. Sementara halaman luar,
bagian adik atau kakak saya.

Seperti Anda, misalnya, jika disuruh mengerjakan apa yang bukan
keahlian Anda, pasti rada-rada jengkel kan? Nah, begitu pula halnya
dengan saya. Ibu nyuruh saya nyapu halaman rumah. Mulai depan,
belakang, samping kiri, dan samping kanan rumah. Whats???

Perhatikan kata yang saya tebali dan garis bawahi di atas. Nyapu itu
sebuah keahlian? Oh ya? Mungkin ada yang bertanya demikian.

Bagi saya sih, begitu! Nyapu memang butuh keahlian. Sebab, tidak
semua orang bisa menyapu (bersih). Tidak semua orang bisa menyapu
dengan teknik memegang sapu yang benar dan menyelesaikan sapuannya
dalam waktu yang relatif cepat. Yups, tidak semua orang. Makanya, ia
termasuk keahlian, yang hanya segelintir orang saja yang bisa
melaksanakannya dengan baik.

Nah, karena nyapu halaman rumah bukan keahlian saya, maka saya pun
dengan rasa enggan menuruti mandat ibu. Saya bilang saya bukan ahli
nyapu halaman karena dari segi luas area yang harus kena sabetan sapu
lidi itu, lumayan membuat keblinger. Luas deh! Belum ditambah dengan
sampah dedaunan yang gugur dari pohon buah-buahan di sekeliling rumah,
seperti mangga dan jambu yang paling mendominasi.

Tapi, apa boleh buat. Demi menjunjung tinggi harkat dan martabat
halaman rumah kami agar tetap bersih dari sampah, indah, dan berseri,
maka saya pun mengambil sapu lidi. Tak ketinggalan ember, keranjang
sampah, dan sekop plastik. Dan, saya mulai mengusik-usik
‘telinga-telinga’ yang berserakan di halaman serta sampah lainnya yang
entah berasal dari mana. Tapi, saya tidak menafikan faktor angin.

Nyapu halaman. Awalnya dari rasa enggan. Lambat laun saya pun
tenggelam dalam gesekan sapu lidi. Sapu…sapu…dan sapu.

Dalam keasyikan menyapu, meskipun rasa tidak ikhlas masih nempel di
hati, keajaiban itu pun terjadi. Saya tidak menyadari ada semakhluk
yang sedang mengintai saya. Posisinya persis di atas saya, bertengger
di tepian atap. Saya di bawahnya.

Dan tahukah apa yang terjadi???

Tiba-tiba saya merasakan sesuatu yang hangat dan cair di atas kepala
saya. Secara refleks tangan saya naik ke atas kepala dan menyentuh
‘kehangatan’ itu.

Saya tidak kaget. Tapi, senyum di bibir saya tiba-tiba mengembang dan
ingin rasanya memeluk guling (loh?).

Apa yang terjadi? Ya, Anda tidak salah tebak! Seekor burung
dara milik paman saya menyemprotkan pup-nya. Jatuhnya persis di atas
kepala saya. Mungkin dikiranya rambut saya bagai semak-belukar yang
patut disuburkan dengan pup-nya yang bersahaja dan melankolis itu
(bergizi tinggi buat tanaman, maksudnya).

Dasar dara nakal!!! (sokimut)

Surabaya, 11 Juni 2008

Ketika ‘dara-dara’ sekarang suka buang ‘pup’ sembarangan.

Iklan

10 thoughts on “Dara Nakal

  1. asianatelier said: hahahaha, udah jatuh ketimpa pup… *pepatah gaya baru*

    boljug tuh pepatahnya!!!*masuk dalam daftar buku 1001 peribahasa modern*

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s