Satu by Dewa: Episode Biru Saya

(baca tulisan saya ini sambil dengerin Satu-nya Dewa)
Aku ini adalah dirimu

Cinta ini adalah cintamu

Aku ini adalah dirimu

Jiwa ini adalah jiwamu

Rindu ini adalah rindumu

Darah ini adalah darahmu

Reff:

Tak ada yang lain

Selain dirimu

Yang selalu kupuja

Kusebut namamu

Di setiap hembusan napasku

Kusebut namamu 2x

Dengan tanganmu

Aku menyentuh

Dengan kakimu

Aku berjalan

Dengan matamu

Aku memandang

Dengan telingamu

Aku mendengar

Dengan lidahmu

Aku bicara

Dengan hatimu

Aku merasa

Back to reff:

SATU…

Lagu dari album Laskar Cinta ini membuat saya merinding tiap kali mendengarnya. Ada chemistry yang membuat bulu kuduk berdiri. Tidak lain dan tak bukan sebab BUNDA SUDAH TIDAK LAGI DI SINI. Ia sudah ada di sana. Bersemayam di dalam Rahim-Nya.


Saya tidak akan pernah lupa. Beliau telah meninggalkan kami tiga tahun yang lalu, tepat di bulan Juli. Saat itu saya masih kelas dua SMA, mau naik kelas tiga. Belum pula genap sebulan saya merayakan ulang tahun yang jatuh di bulan Juni. Saat di mana saya sedang butuh-butuhnya kiriman doa, bingkisan dukungan, dan pompaan semangat menjelang UNAS.


Ah… Allah punya rencana yang jauh lebih baik dari yang dikira hamba-Nya.


Saat itu rumah kami diselimuti awan duka yang begitu tebal. Jika saya sedang berada di kamar beliau, seringkali saya merasa beliau ada di sana. Jika saya sedang melamun, seringkali beliulah yang saya lamunkan. Jika saya sedang berdoa, wajah beliaulah yang sering muncul.


Namun, belakangan ini, setelah kami pindah rumah, setelah saya kuliah di Tanah Jawa, setelah saya mulai digeogoti kesibukan dunia, perlahan-lahan rindu itu memudar. Rindu pada ibu memudar. Rindu untuk membacakan yasin padanya tiap malam Jumat. Rindu untuk mendoakannya secara khusyu’ tiap habis shalat. Rindu untuk mengenangnya lewat renungan-renungan. Rindu itu…memudar, Kawan!


Saya merasa mulai jadi anak yang kurang lancang. Mana mungkin doa saya tersampaikan padanya jika saya sendiri menjauhkan diri dari predikat ‘anak shaleh’. Bagaimana mungkin doa saya bisa terkirim jika saya sendiri seringkali berbuat dosa. Bagaimana mungkin?


Namun, saya yakin Allah takkan membiarkan saya begini selamanya. Saya meyakini hal itu dengan mengacu pada beberapa hal. Pertama, tiap kali melihat seorang ibu tua atau juga nenek-nenek di jalanan, maka saya pasti akan teringat dengan sosok ibu saya.


Kedua, tiap kali saya melihat atau membaca atau mendengar cerita yang ada peran ibunya dalam karakter sederhana, maka saya akan mengingat sosok almarhumah ibu saya.


Ketiga, tiap kali mendengar lagu Satu-nya Dewa, saya akan ingat bagaimana lagu ini diputar di televisi, menemani hari-hari kami selama menjaga ibu di rumah sakit. Sebuah lagu dengan makna dalam dan sangat menyentuh. Tak heran jika saya akan selalu ingat ibu jika mendengarkan lagu ini.


Keempat, blog inilah salah satu reminder bagi saya. Pengingat saya. Bahwa saya takkan membiarkan sosok almarhumah ibu saya menghilang, lenyap begitu saja dari kaset ingatan saya. Saya ingin merekam beliau dan mengenangnya lewat tulisan-tulisan saya di blog ini.


Namun, di antara keempat jalur ‘pengingatan’ sosok bernama Muslimah, ibu saya, maka yang lebih seri
ng mengena dan langsung ber-chemistry dengan hati saya adalah… saat mendengarkan Satu-nya Dewa…

Surabaya, 16 Juni 2008

Iklan

2 thoughts on “Satu by Dewa: Episode Biru Saya

  1. walaupun tdk dgn doa,namun anda masih bisa mengenangny lewat sebuah ‘tulisan’…thats a unique way,but its going to be better to pray for her…

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s