Cerpen Gagal

Aku berkenalan dengannya tiga bulan yang lalu. Dalam sebuah angkot tua. Sehabis aku pulang dari Gramedia. Memborong buku-buku diskonan untuk adik asuhku di asrama.

“Tinggal di mana, Lan?”

Pertanyaanku yang kedua setelah menanyakan nama. Dia bernama Wulan.

“Ketintang. Dekat gedung Pertamina. Kamu sendiri?”

“Aku Bungkul.”

“Oh…”

“Beli buku banyak banget? Suka baca ya?”

“Yeah…lumayan suka! Tapi, ini buku-buku buat adik-adikku di asrama.”

“Kamu tinggal di panti?”

“Asrama. Bukan panti.”

“Ih…garing banget ya percakapan kita dalam cerpen ini?”

“Iya…ya? Aku kok merasa penulis kita gak becus mengembangkan kalimatnya? Aku bisa jamin, cerpen ini takkan bermutu!”

“Iya! Apalagi mau diikutkan lomba cerpen se-nasional. Mana menang???”

“Aku idem.”

“Ya sudah, mendingan kita keluar aja dari kotak bernama cerpen ini. Aku muak lama-lama di sini. Mana si penulis kita gak mau pula ngeluarin kita dari angkot tua bau ini! hhhhh…”

“Iya, aku juga lama-lama pusing. Bawaanku banyak. Buku! Kayaknya si penulis kitalah yang keranjingan baca nih. Dia sengaja menyuruhku belanja ke Gramedia. Yeah, biar nafsunya terhadap buku bisa tersalurkan…”

“Oke, sebelum kita sampai ke tujuan kita masing-masing, mending sekarang kita keluar saja dari angkot ini. ayo!”

“Ayo!”

Kedua tokoh dalam cerpenku ini pun amblas lewat pintu angkot. Padahal angkotnya sedang melaju kencang. Tak kutahu nasib mereka. Cerpenku gagal.

Iklan

7 thoughts on “Cerpen Gagal

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s