Tepar, Nyuci, KRS-an, Ngenet, dan Togamas

Tidur panjang. Hibernasi. Sok kecapekan. Mengatasnamakan dan mengambinghitamkan perjalanan 4 jam, dari spot nunggu bis di Pare sampai menginjakkan kaki di kosan, Surabaya. Akhirnya, tepar dengan sempurna. Bangun shalat subuh, tidur lagi sampai jam tujuh. Teringat dengan jadwal hari ini. nyuci dan daftar ulang plus KRS-an.

Langsung menuju kamar mandi dengan setumpuk pakaian kotor yang sudah lama aku tinggalkan. Baju yang bergelantungan di kamar. Apak dan debuan pastinya. Sarung yang terlipat manis di atas kasur juga tak luput dari sasaran. Sajadah juga. Intinya, berdebu. Kalau tidak dicuci sekarang, bisa jadi benda-benda ‘museum tak terawat’, stuffs-ku itu.

Biasanya aku akan membiarkan cucian terendam hingga berjam-jam. Bahkan, 2 -3 hari. Tapi, kali ini tidak. Rendam sebentar saja. Lihat efek keruh yang muncul dari pakaian dan celana yang kurendam dengan deterjen itu. Langsung deh maen sikat. Dengan semangat kemerdekaan bulan Agustus, aku pun mencuci hingga satu setengah jam lebih. Selamat!!! Anda berhasil menjadi pencuci yang baik, tapi gagal buka usaha laundry! (Nyucinya kelamaan, Bung!)

Jam sembilan kurang dikit, aku pun tancap kaki ke kampus. Teman-teman yang ngajakin KRS bareng udah pada kumpul di galeri. Aku, dengan wajah berbinar, senyum setengah matang, dan langkah tegap maju jalan (kayak aba-aba paskibra aje!), aku pun berjalan dengan tidak pasti. Loh? kok bisa? Yups, soalnya aku masih terbayang-bayang dengan janjiku pada Hariyono. Apa itu? Bawain oleh-oleh khas Pare. Toeng!!! Gak ada, Bung!

So, aku pun ambil keputusan terhormat dan paling tidak gila sedunia. ALFAMART. Kebetulan satu arah dengan jalanku ke kampus. Ah, mampir aja di situ. Entah beli apa, kek! Moga aja ada something yang rada-rada tradisional. Biar kesan “Pare”-nya muncul.

Eh, aku cari-cari, ternyata Anda benar, Sodara-sodara! Pare memang tidak ada di Alfamart. Ya iyyalah, Monyong! Aku pun dengan berpura-pura keliling mencari stik tahu dan brem (khas Pare) dan tidak menemukan, pada ending-nya memtusukan membeli Cheetos dan Q-tela. Sungguh, makanan yang tradisional dan minimalis dari segi harga, tidak kutemukan di Alfamart ^_^

Well, sebelum ke kampus dari Alfamart, aku mampir di ATM sebentar. Ngambil duit beratus-ratus ribu (taela…biar kesannya banyak. Padahal cuman 900 ribu doang) buat bayar SPP plus ikoma. Keluar dari ATM yang berlokasi di Apotek depan RS Dr. Soetomo itu, aku pun tancap gas ‘kaki’ lagi. Kali ini, tujuanku sudah mantap. KE PELAMINAN. Hehehe…Gak lah! Dengan mengucapkan ‘bismillah’, aku pun nyebrang jalan, melintasi trotoar, say ‘hello’ ke semua orang, dan alhamdulillah…kejeblos ke dalam selokan dengan selamat! Hehehe…gak dink!

Sudah hampir satu bulan aku tak melihat UNAIR tercinta (namun tidak kurindu). Aku ingin bertemu dengan teman-temanku. Aku ingin mendengarkan kisah mereka selama liburan. Aku ingin mengetahui nilai-nilai mereka semester ini. Aku ingin nraktir mereka. Maklum, aku lagi punya banyak duit buat bayar SPP dan ikoma (woooeyyy… balik ke jalan yang lurus, dong!)

Di galeri, sudah menanti: Azel, Rani, Aynur, Hariyono, Ririn, Surotul, Renita, dan lain-lain. Aku langsung mengucapkan ‘Assalamu’alaikum’. Mereka menoleh dan tidak histeris melihat kedatanganku. Sungguh, mereka tidak seantusias yang aku bayangkan. Aku pun mendadak kelu. Tanpa aku sadari, aku pun mulai terisak menangis tersedu-sedu seperti pungguk yang merindukan rujak buah mengkudu. Adududu…

Basa-basi sebentar sampai pembicaraan singkat kami terkesan basi, aku cepat-cepat membuka ransel dan menghadiahkan mereka dua bungkus makanan ‘tidak berat’ yang aku beli di Alfamart. Lalu, aku segera berlalu dari hadapan mereka, menuju BTN. Aku takut, mereka bakal muji aku karena kebaikanku. Aku takut kepalaku membesar segede bagong kalo aku di dekat mereka dan dibilang, “Duh, Tah…Kamu kok baek banget??? Jadi pengen ngentutin Kamu!” Gimana? Serem gak sih?

Selesai ngurus KRS jam setengah dua siang, aku pun mampir di Nuruzzaman, masjid kebanggan UNAIR yang sering diklaim punyanya anak FE. Di sana, aku menunaikan shalat zuhur, empat rakaat, menghadap kiblat, sambil membayangkan cokelat lezat dalan cerita Charlie and The Chocolate Factory-nya Roald Dahl. Hehehe…

Ok. Aku pun teringat sama multiply-ku. Tanpa pikir panjang, aku pun melangkah ke ARFNET. Bisa kubilang salah satu warnet favoritku di Surabaya. Soalnya, di lantai bawah saja, pengunjung langsung disambut dengan minicafe, miniboutique, dan sebuah rak buku. Dan, yang membuatku ingin betah di sana adalah, tentu saja RAK BUKU-nya. Meski koleksinya sedikit, tapi buku-buku yang dipajang lumayan bermutu. Pengen rasanya aku gondol dan ‘tikam habis-habisan’ di kosan. Hehehe…

Negecek email, buka MP, FS-an, dan donlot-donlot ebook (biar ada gunanya ngenet), aku pun pulang. Tepat, cuman satu jam. Kulihat jam di hape. Sudah pukul tiga. Aku turun ke bawah. Setelah bayar di kasir, mau keluar, eh…ada Surotul lagi WIFI-an pake Lenovo hitamnya yang tangguh itu. (Bentuk sih boleh tangguh, tapi jadi ‘peternakan’ virus).

Aku pun gak tega lihat dia sendirian. Sisi kemanusiaanku terketuk. Aku mengambil kursi dan duduk di dekatnya. Dia lagi update Kaspersky. Dia ngaku kalo laptopnya lagi banyak virus. Dan, satu hal yang bikin aku gak nahan untuk tidak beristighfar dalam hari. SAMPAI DETIK INI DIA PAKE WINDOWS VERSI TRIAL. DIA GAK PUNYA ACTIVATION REMOVER-NYA. SO, DALAM SEBULAN KADANG MESTI NGINSTAL ULANG WINDOWS 3X. Aku cuman berharap, suatu hari nanti Surotul segera tobat dari Windows, dan segera beralih ke jalan yang benar alias LINUX. Hehehe…

Jam empat kami keluar. Surotul ke kosannya dan segera ke Stasiun Gubeng, mo pulang ke rumahnya di Bangil. Aku pulang ke kosan. Mandi. Sholat ashar. Dan… kepikiran maen ke Togamas. Kali aja ada diskon buku gede-gedean dan gila-gilaan ampe ancur-ancuran (bukunya ancur semua, siapa mo beli? Rugi!!!)

Eh, ternyata perjalanan kaki yang kutempuh selama 10 menit itu, tidak berujung sia-sia. Di gerbang depan, terbentang spanduk “Pameran Buku Sampai dengan Tanggal 11 Agustus 2008”. Toeng!!! Aku langusng NGEH! Sekarang kan tanggal 11. aku pun klik. Malang tak dapat diraih, Surabaya tak dapat ditolak (peribahasa apaan tuh?) Aku dengan duit kurang lebih dari 50 ribu, segera masuk ke area Togamas Petra yang luas, asri, dan bertata cafe itu. Sebuah toko buku yang beda dengan toko buku kebanyakan. Toko buku diskon lagi!

Tapi, aku kecewa. Pameran buku yang dimaksud, ternyata kebanyakan komik. Nggak Gue Banget. Terus, koleksi buku lain yang dipamerkan hanyalah (sekali lagi hanyalah): NONFIKSI berupa buku-buku komputer, desain grafis, manajemen, bisnis, psikologi, dan how to – how to lainnya. Tidak ada novel-novel. Dan, penerbit yang mamerin buku-bukunya pun Cuma satu doang: Elex Media Komputindo. Hiks!

Di Togamas, aku bertahan sampai pukul setengah 10 malam alias 4,5 jam di sana. Ngapain aja? ya, baca-bacalah. Mondar-mandir baca buku, tentunya yang sampulnya udah kebuka. Baca buku-buku tentang ngeblog yang isinya rata-rata gak jauh beda. Terus, baca-baca sekilas Rival Istri, La Tahzan for Brokenhearted Muslimah, Mengelilingi Dunia-nya Gola Gong, serta buku yang ngomporin gue banget: KELILING EROPA 6 BULAN HANYA 1.000 DOLAR! Buku yang gila!!! Gue jadi semangat pengen jadi independent traveller kayak penulisnya, Marina Silvia Kusumawardhani.

Sebelum jalan kaki pulang dari Togamas, aku sempat beli isi binder, isi pensil, dan sebuah buku hasil ‘jarahan’ 10 ribuan di arena pameran yang aku tertarik dengan judulnya yang unik: ANTOLOGI KELIRUMOLOGI karya Jaya Suprana.

11 Agustus 2008

23:32 WIB

Ngantuk ah… Besok pagi mo berangkat ke Pare lagi!

Iklan

6 thoughts on “Tepar, Nyuci, KRS-an, Ngenet, dan Togamas

  1. benar2 hari yang melelahkan, jadwal padat ya? wuih serasa selebritis dong! cuman satu yang mencengangkan : 4,5 jam di toko buku? gila! apa gak dipelototin ma penjaganya baca2 buku disana, aq sih gak enjoy kalo baca buku dgn perasaan was2… hehehe

  2. niwanda said: Seru tuh Antologinya… Oh, Togamas nggak begitu komplet toh? Dan aku malah belum ngisi KRS…

    iyuph!!!bacaan yang asyik. serius tapi humor juga!Togamas sih, lengkap mbak! Tapi, pameran kemarin itu yang gak lengkap. begitu…:-)

  3. asianatelier said: benar2 hari yang melelahkan, jadwal padat ya? wuih serasa selebritis dong! cuman satu yang mencengangkan : 4,5 jam di toko buku? gila! apa gak dipelototin ma penjaganya baca2 buku disana, aq sih gak enjoy kalo baca buku dgn perasaan was2… hehehe

    iya nigh!!!kalap aja. dah lama gak mampir ke togamas. di pare cuman ada toko buku kecil plus rental buku. koleksi dikit, tentu saja.mumpung di surabaya, meski cuma dua malam, ya…sekalian aja ke sono!!!saya mah cuek aja baca2 di situ. secara, udah disedain kursi di tengah rak2 buku gitu. enjoy aja, mas!!! 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s