BANGUN SORE BERBUMBU FIKSI



Aku bangun dengan tenggorokan yang terasa kering menggelinding. Pandangan masih samar-samar. Iler berkubang di bantal. Membentuk lambang olimpiade Beijing. Heran juga. Kok bisa? Ah, kepalaku masih berat untuk berpikir. Terlalu banyak kemungkinan dalam hidup ini. (Bangun-bangun sudah bisa berfilsafat, piye toh?)

Dengan malas, aku beranjak. Duduk di tepi ranjang. Menengok ke belakang. Dua makhluk bernama buku dengan sukses aku tiduri. Mereka tampak layu, acak, berantakan. Halaman terlipat-lipat. Tapi, mereka tidak protes. Nrimo saja. Aku pun cuek ayam.

Tangan kananku refleks garuk-garuk mata. Sinar matahari sore yang iseng menyeruduk dari jendela kamarku yang terbuka. Kamarku yang sampai sekarang tanpa jendela. Kamar yang siangnya bertabur cahaya dan malamnya dirundung dingin. Ah, I love you, my lovely room.

Aku masih mengenakan sarung dan celana panjang karate yang kubuat semasa masih imut – SMA dulu. Kemeja abu-abuku untuk jumatan juga masih lekat di badanku. Tentu saja, bahannya yang tipis, membuatnya seperti kerupuk saat aku bangun seperti sekarang ini.

Sony Vaio-ku yang tergeletak manis di lantai dengan layar menganga ke atas, kugeser posisinya dengan kaki kiriku. Kali ini layarnya yang hitam karena memang kondisi off itu, menghadap ke arahku. Lalu, tidak jauh dari tebakan Anda, aku pun mulai memperhatikan detail wajahku. Bercermin sambil mencoba berbagai senam wajah yang kelihatan aduhai – sementara yang lain mungkin pengen langsung ngeremes mukaku.

Sampai detik ini, aku masih belum tahu, apakah aku telah sadar ataukah belum. Atau masih dalam tahap pendadaran.

Aku belum kepikiran untuk berdiri lalu mandi atau menunaikan sarapan pagi yang tertunda hingga kini. Ya, aku belum sarapan. Belum sebutir pun nasi memasuki terowongan dan septic tank-ku yang bernama lambung itu. Belum. Hanya dua biji permen asem yang kubeli di atas bus kemarin dan beberapa teguk aqua yang sudah tandas.

Aku pun mulai pusing memikirkan kehidupanku. Semua slide buruk masa lampau langsung berkelebatan. Aku punya pendapat, kalau tidak ingin disebut prinsip bahwa karma itu pasti ada. Ada sebab akibat. Yin yang, isitilah yang sering kutemui dalam novelnya Dee. Dan, aku dengan keyakinan 100 persen kurang sedikit, yakin kalau apa yang kujalani hari ini – yang lengkap dengan penderitaan berupa kelaparan sejak pagi, adalah akibat perbuatanku di masa silam.

Jadi, Kamu telah menghamili anak orang dan tidak memberinya makan?

Aduh! Jangan pula kalian tuduhkan hal itu padaku. Aku kaget sungguh. Beneran. Main tuduh itu tidak baik. Kalau main unduh itu, baik. Sebab, Axis adalah GSM yang baik. (ngelantur itu indah!)

Tidak, Kawan! Aku tidaklah seekstrem itu. Mungkin dulu – masih dalam konteks kelaparanku – aku pernah tidak memberi makan beberapa ekor anak kucing yang masih hijau. Artinya, mereka baru lahir. Ini kejadian nyata. Jadi, aku pernah menyekap salah satu anak kucing yang baru lahir di dalam gudang, lalu selang beberapa jam, meongan-nya pun senyap. Aku curiga. Dan kecurgiaanku terbukti. Dia telah wafat, menemui cinta-Nya.

Saat itu, aku pura-pura sedih. Aku pura-pura takut. Seperti orang sering bilang, membunuh kucing bisa mendatangkan karma. Duh, aku antara takut, kesal, bingung, dan tak mau ambil pikir. Kucing kok bisa ya diperlakukan seistimewa gitu oleh alam. Alam? Bukan Alam Mbah Dukun, oey!

Nah, aku bertanya: ‘alam’ yang aku maksudkan di sini itu, apa? Bisa dibantu.

Oke, balik lagi ke kasus utama yang lagi menimpaku: KELAPARAN plus KEHAUSAN. Aku ingin berhenti membicarakan karma dan karma sutra, entahlah!

Sekarang, aku lapar juga haus. Rezeki tidak datang kalau tidak dicari. Langit mana yang mau menge-gol-kan sepincuk makanan kalau kau tidak mencarinya di warung? Langit mana yang akan menurunkan aqua kalau kau tidak mencarinya di toko? So, aku pun beranjak dari tepi ranjang.

Keluar dari kamar. Turun ke lantai bawah. Ingat aku pada jemuran yang belum kuangkat sejak kemarin. Mungkin sudah kering kerontang keset maknyus brudul bredesss. Kasihan.

Setelah kalap menguntit jemuran sendiri, aku pun berjalan ke pohon keres yang berada di belakang kandang. Lalu, kupungut satu-satu buahnya yang masih menggantung ranum kemerahan kecil-kecil. Aku membayangkan itu anggur.

Oya, buat permakluman, inilah kehidupanku sebagai anak kos di Pare, Kediri. Tak semua yang di atas kenyataan. Aku bumbui juga dengan fiksi-fiksi tak bermutu. Maafkan!

gambar dari : http://photos-of-the-world.blogspot.com
15082008

Iklan

4 thoughts on “BANGUN SORE BERBUMBU FIKSI

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s