[BAPAK] MENCINTAIMU DENGAN SEDERHANA

Saya tidak akan memungkiri, kematian ibu justru memecahkan kebekuan hubungan saya dengan bapak. Karena tidak ada lagi sosok yang paling tepat untuk mencurahkan perasaan saya setelah ibu tiada, kecuali bapak. Cinta yang mulai bersemi setelah musim dingin berlalu. Cinta tulus seorang anak pada bapaknya. Cinta yang kisahnya akan saya tuliskan berikut ini.

Sebagai seorang anak yang menginjak akil baligh, kebingungan jelas sekali saya rasakan. Masa kanak-kanak yang penuh canda tawa akan saya tinggalkan perlahan-lahan, memasuki dunia baru yang entah – ada apa di dalamnya. Dunia remaja yang masih samar. Saya masih meraba-raba, seperti apakah kelanjutan episode kehidupan saya. Remaja, masa pencarian jati diri, tidak salah orang menyimpulkan begitu.

Terus terang, saya mudah marah. Saya jadi lebih pendiam, namun meledak-ledak di dalam hati. Kadang saya tunjukkan pula pada orang rumah. Saya tak mau makan, mengurung diri di kamar, tak hirau pada ajakan makan bersama, tenggelam pada rutinitas sekolah alias belajar, belajar, dan belajar. Saya pun jadi tertutup, lebih-lebih pada bapak. Saya hanya menjadikan bapak sebagai ‘mesin ATM’. Itu pun saya mendapatkan fresh cash dari beliau lewat perantara ibu. Disuruh sendiri dan langsung meminta pada bapak, saya sangat enggan. Entah setan apa yang membelenggu hati saya pada masa itu.

Saya alergi bapak. Sungguh alergi. Bagaimana tidak? Tiap kali bapak lewat di depan saya, saya langsung menghindar, pindah ruangan. Kadang ketika saya sedang asyik nonton TV sendirian lalu bapak ikutan nonton, saya langsung masuk kamar. Bapak mengajak makan bersama sekeluarga, saya ngeloyor pergi. Bapak datang, saya pergi. Bapak pergi, saya muncul lagi. Benar-benar alergi yang mungkin jika dikonsultasikan ke dokter, dokternya malah bingung sendiri. Hehehe…

Kealergian saya pada bapak mungkin tidak lucu. Setidaknya bagi saya. Tapi, tingkah aneh saya itu justru mendatangkan cemoohan dan tawa dari adik saya, terutama Arif. Jika saya dan Arif sedang bermain bersama di ruang tengah, terus bapak muncul, adik bungsu saya ini serta-merta meledek, “Eit…eit…bentar lagi Kak Atah pasti pergi!” Tentunya dia ngomong dalam bahasa Sasak, bahasa sehari-hari kami di rumah. Saya hanya tersenyum malu, ingin menjitak kepala adik saya itu.

Namun, ada kalanya saya menahan diri untuk tidak kabur dari hadapan bapak. Misalnya, ketika ada keluarga jauh datang, tamu istimewa, atau momen yang menghadirkan banyak orang sehingga meskipun saya berada satu tempat dengan bapak, namun perhatiannya tidak tertuju pada saya. Dan, saya pun lega karena tidak diperhatikan.

Sampai akhirnya saya mendapat sorotan keluarga. Perangai yang saya anggap ‘biasa’ ini justru mengherankan mereka. Saya, suatu kali pernah diajak komunikasi face to face dengan Kak Atun, kakak perempuan saya yang kedua yang kebetulan dekat dengan saya. Dia menanyai saya, “Dik, kenapa Adik bersikap seperti itu pada bapak?” Saya kaget. Saya bingung diberi pertanyaan seperti itu. Tentu saja. Sebab, jujur, saya tak pernah punya alasan yang jelas untuk membenci bapak. Kebencian pada bapak timbul serta-merta.

“Terus terang aja, Dik! Apa karena bapak yang suka merokok? Perokok berat?” Kak Atun tentu saja bertanya dengan tutur yang lembut namun tetap saja bernuansa interogasi.

Termasuk itu, Kak! Tentu saja saya tak mengucapkannya. Mulut saya rapat terkunci. Saya hanya bisa mengiyakan dalam hati. Sementara tanpa saya sadari, saya ingin menangis. Kok bisa ya saya sebenci itu pada bapak? Seolah-olah bapak sesuatu yang ah… Saya pun menenggelamkan muka saya ke dalam bantal. Tak ingin raut muka merah padam saya dilihat oleh Kak Atun.

Padahal jauh di dalam lubuk hati, saya punya satu alasan ‘pamungkas’ kenapa saya sampai sebegitu bencinya pada bapak. Sebuah alasan yang waktu itu masih berupa prasangka semata namun di kemudian hari hal itu memang terbukti. Tapi, tetap saja saya berat untuk mengungkapkannya. Seperti yang saya bilang, saya masih ragu. Benarkah alasan saya?
Jangan-jangan alasan saya ini justru fitnah buat bapak? Ah, saya teramat bimbang. Hingga akhir ‘interogasi’ pun, saya tetap bungkam. Saya akan tutup mulut sampai semuanya jelas. Sampai semuanya tahu dan mengerti sendiri.

Dan, untuk pertama kalinya, saya akan menyampaikan alasan itu dalam tulisan ini. Alasan yang akan diketahui oleh kakak-kakak, adik-adik, segenap anggota keluarga saya, dan tentu saja bapak jika membaca tulisan saya ini.

Sebelumnya, saya ingin minta maaf pada bapak jika telah mengekspos masalah ini. Tapi, ini jujur dari hati saya. Ini jujur berdasarkan penglihatan saya yang mana alasan saya ini makin dikuatkan oleh bukti-bukti lain yang muncul belakangan.

“Bapak sudah tidak mencintai ibu lagi?”

Ini pertanyaan sekaligus alasan saya. Silakan Anda jabarkan sendiri pertanyaan saya di atas. Yang pasti, gara-gara inilah saya amat membenci bapak. Saya kasihan pada ibu. Saya kasihan pada beliau yang sudah lelah melahirkan dan merawat kesembilan anaknya. Saya marah pada bapak yang begitu teganya melakukan itu. Sikap antipati, alergi, dan kebencian saya pada beliau adalah wujud pembelaan saya terhadap perasaan ibu yang bilamana mengetahui hal tersebut, pasti beliau akan terluka. Biarlah saya yang sakit hati. Biarlah aksi bungkam dan sikap tak acuh saya membuat bapak mulai memikirkan, ada apa gerangan. Lalu, beliau sadar dan tidak mengulangi perbuatannya lagi. Itu saja harapan saya.

Tapi, Allah SWT. rupanya tidak menginginkan kami berlarut-larut dalam situasi seperti ini. Dia pasti membenci hubungan tidak harmonis kami ini. Dan, Dia punya seribu satu cara untuk mengakurkan kami kembali. Tapi, sungguh Dia memilihkan kami jalan – yang dalam pandangan terbatas kami sebagai manusia – yang menyedihkan. Ibu dipanggil-Nya tiga tahun silam. Ibu kembali ke pangkuan-Nya saat azan subuh mengalun tenang.

Namun, saya akan senantiasa ingat. Kematian ibu justru menjadi titik balik dalam kehidupan saya, kehidupan saudara-saudara saya, kehidupan bapak, dan kehidupan keluarga besar saya. Banyak hal yang terjadi sesudahnya. Tak terhitung hal-hal yang berubah dalam perjalanan hidup kami selanjutnya. Meskipun perubahan itu ada yang tidak mengenakkan, tapi lebih banyak lagi hal-hal positif yang tidak kami duga. Serpihan-serpihan hikmah itu ‘rajin’ kami punguti hingga saat ini.

Tentu saja sejak ibu tiada, hubungan kami sekeluarga tambah erat. Kami lebih welas asih satu sama lain. Kami saling dukung. Saya dan kedelapan saudara saya saling menguatkan, saling mengingatkan, saling berbagi kasih sayang, dan saling hibur. Saya makin dewasa dengan pelajaran mulia dari Sang Pencipta ini.

Begitu pula hubungan saya dengan bapak. Dari hari ke hari makin membaik. Saya pelan-pelan mengikis rasa benci saya pada beliau. Saya lebih dekat dengan beliau. Saya tunjukkan perhatian dan bakti saya. Saya mulai sadar bahwa menyandang status duda sungguh berat. Dengan status barunya itu, tentu kewajiban bagi kami pula sebagai anak-anak untuk meringankannya.

Bapak yang mulai kesepian tanpa seorang istri di sampingnya. Bapak yang seringkali terlihat nelangsa sepulang kerja. Bapak yang tidak kami inginkan punya istri baru. Kami yang tak ingin beribu tiri.

Namun, sungguh rencana dan kuasa-Nya tak bisa kami elakkan. Sebagai anak-anaknya yang punya keterbatasan, akhirnya kami (termasuk saya, pastinya) merestui hubungan bapak dengan seorang perempuan tambatan hatinya. Setahun yang lalu mereka mengikatkan janji. Meski awalnya berat hati, namun lambat laun kami bisa menerima.

Lantas, saya teringat pada salah satu komentar seorang teman di Multiply. Saat itu saya mem-posting sebuah jurnal mengenai rasa keberatan punya ibu baru, dia mengatakan begini, “Tah, Kamu memang tidak butuh seorang ibu. Ibumu ya…tetap satu, yang melahirkan Kamu itu. Tapi, bapakmu butuh istri. Aku pikir Kamu sudah cukup dewasa untuk bisa membedakan hal itu.”

Ya, bapak telah beristri sekarang. Bapak telah mendapatkan cinta dari seorang perempuan yang a
khirnya kami ikhlas memanggilnya: ibu. Namun, ketika jarak membentang di antara saya dan bapak saat ini – saya di Surabaya, bapak di Lombok – ingin rasanya saya sering-sering berada di rumah dan menunjukkan bakti dan cinta saya sebagai seorang anak pada bapaknya.

“Saya telah memaafkan bapak. Bapak juga, maafkan saya ya? Tiada manusia yang sempurna di dunia. Tiada yang bisa lepas dari cacat cela. Selagi jantung masih setia
bertalu, sungguh sombong jika saya berpaling darimu. Pak, saya mencintai bapak…dengan sederhana. Tidak berlebihan, tidak juga berkekurangan.”

Surabaya, 29 Agustus 2008
Cerita ini saya ikutsertakan dalam lomba menulis tentang bapak di:
http://bundaelly.multiply.com/journal/item/109/Menulis_Tentang_Bapak_Yuk

*DUKUNG YA BIAR MENANG* hehehe…

Iklan

29 thoughts on “[BAPAK] MENCINTAIMU DENGAN SEDERHANA

  1. hehehe… kata Ayah yang selalu saya ingat.”Surga adalah memang terletak di telapak kaki Ibu, jadi janganlah sekali-sekali membantah terhadapnya, karena setiap perkataan bantahan itu mengandung amarah Allah. Namun, do’a baik yang paling mujarab adalah dari bibir Ayah, jadi… berbuat baiklah, karena ridhlo Allah menyertai setiap doa baiknya”

  2. duuuh jadi terharuu bacanya, jadi kangen sm almarhum ayahku, mataku berkaca kaca gini…. tapi pas baca kalimat terahirnya *dukung y biar menang* langsung deh ketawa, hahahaha…

  3. jadi ingat bapak….aku juga pernah ga cocok dengan beliausampai kemudian menyadari, beliau menginginkan yang terbaik buat kami…*beneran nangistfs ya fatah

  4. @shanto: thanx yak brur! Makasiy dkunganx… Makasih…makasih…20x *inget obama di acceptance speechx kmrn*mari kita tnjukkan bakti qt sbgai anak. Biar gk xesal ntar *soktua.com*

  5. @mbak tity: ya mbak! Udah akur kok! Moga seterusnya yak…*doakan*@mbak nisa: duh, quotes yg bgus bgt! Makasih udah membagix mbak *terharu*@mbak amel: sedih kmdian ketawa, duh senangx! Hehe…mbak, la tahzan dunk!@mbak novi: sgt bngga ya punya bapak seperti beliau. Sungguh!

  6. Baru baca nih… Agak tumben Fatah nulis serius begini :). Wah, konflik ayah-anak lelaki ya… Sudah kuduga ada ‘alasan romantis’ di baliknya. Alhamdulillah berhasil dijembatani ya…

  7. niwanda said: Baru baca nih… Agak tumben Fatah nulis serius begini :). Wah, konflik ayah-anak lelaki ya… Sudah kuduga ada ‘alasan romantis’ di baliknya. Alhamdulillah berhasil dijembatani ya…

    gak tumben juga kok nulis serius gini, mbak.di laptop juga banyak. tapi gak mau saya ekspos di blog. hehehe…*malu*

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s