Horeee! Tulisan Temanku, Gracia Paramitha, Dimuat di Surya Selasa

BERANI BERSUMPAH, TAK MAU (Lagi) DISEBUT “INDON”

Membangun kebanggaan jelas memerlukan penataan pola pikir guna meningkatkan potensi, produktivitas, mental dan kultural. Ikrar sejak Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, menjadi titik api yang membawa semangat kebangsaan.

MENJADI generasi yang lahir di Indonesia, yang kaya-raya berpadu dalam kebhinekaan, sungguh membanggakan. Ini cukup menjadi modal menepis kegamangan tumbuh di tengah keadaan Indonesia yang didera aneka kemiskinan.

Contonya, kasus malnutrisi, yang bukan hanya terjadi karena ketidakberdayaan membeli bahan pangan yang sehat dan bergizi, tetapi juga kemiskinan pengetahuan tentang “food-combine” yang dibangun dari kearifan lokal.

Hal lain adalah, kondisi para TKW/TKI yang tidak terampil dikirim ke luar negeri. Akibatnya, terjadi kasus penganiayaan dan pelecehan hak asasi manusia.
Lalu, berkembanglah sebutan “indon” (yang oleh negara tetangga dikonotasikan “budak/hamba”). Ini pukulan dan menyiratkan keadaan kontroversial ketika Indonesia sedang ingin membangun sebuah citra yang bright di kancah internasional.

Di sisi lain, ada sebagian orang muda yang hidup lebih beruntung. Hidup dalam sebuah kenikmatan yang “tanpa batas”. Mereka terkendalikan oleh chanel-chanel yang terhubung dengan shopping, fashion, entertainment dll.

Pemikir pascastrukturalis Prancis, Jean Baudrillard, seakan menyentak ketika menulis Ecstasy of Communication (1987). Katanya, berkat makna, informasi, dan transparansi, masyarakat telah melampaui ambang batas, menuju ecstasy permanen dalam koridor ”lifestyle ecstasy”.
Di era globalisasi, tak bisa dimungkiri, lifestyle menjadi ikon yang merasuk sumsum tulang untuk menyesuaikan diri, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Produk impor yang membanjiri etalase di mal maupun suguhan hiburan hedonik, telah menjadi santapan keseharian. Gaya hidup telah menjadi ectasy yang melebur dalam kehausan “kenikmatan dan kebahagiaan”.
Anak-anak muda tidak lagi cinta budaya nasional, bahkan kehilangan kebanggaan terhadap khasanah dan kekayaan budaya negeri sendiri. Semua tergantikan oleh kegandrungan atas budaya asing.

Tidak ada salahnya seseorang mengikuti tren, tetapi akan menjadi bumerang apabila melupakan lifestyle berbasis kebangsaan.

Semboyan Itu
Membangun kebanggaan jelas memerlukan penataan pola pikir guna meningkatkan potensi, produktivitas, mental dan kultural. Ikrar sejak Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, menjadi titik api yang membawa semangat kebangsaan.
Sumpah Pemuda : Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia, merupakan bagian integral dari sebuah sistem pembelajaran wawasan kebangsaan.

Implikasi Satu Nusa, adalah bagaimana konsep ini masuk dalam pola pikir generasi muda untuk manunggal dengan alam Indonesia, dengan kekayaan alam dan puluhan ribu pulau-pulau.
Mengenal kondisi alam dari Sabang sampai Merauke dan memperkaya kemampuan untuk menggali, mengelola dan mengkreasikan sumberdaya alam, termasuk memelihara lingkungan agar tidak terdegradasi (lagi).

Implikasi Satu Bangsa, adalah pola pikir mewujud pada bagaimana cara berempati terhadap saudara sebangsa yang kurang beruntung, yang terkena malnutrisi, bencana alam dan musibah lainnya, terhadap TKI dan TKW yang teraniaya di luar negeri.

Empati termasuk juga terhadap hal-hal yang membanggakan. Misalnya, kesuksesan anak-anak asuh Profesor Yohanes Surya, mulai dari Septinus George Saa, kemudian Jonathan Pradana Mailoa, dll yang sukses dalam berbagai olimpiade fisika, matematika di kancah dunia.
Seorang anak bangsa seperti Profesor Yohanes Surya mampu “menjual” tenaga kerja Indonesia ke pasar dunia dengan cara yang sangat mulia, walau di sisi lain sebagian orang masih “menjual budak” yang disalahgunakan di negara lain.

Generasi muda perlu punya idola, mentor, pahlawan muda seperti beliau, mengasah kemampuan anak-anak dari seluruh Indonesia, dengan program menjala bibit unggul dari suku Badui, Kubu, Sakai dll.

Impiannya adalah, nantinya akan dapat mencetak anak bangsa berkualitas dan berdaya saing dengan sasaran tahun 2020 ada peneliti Indonesia meraih hadiah Nobel.
Implikasi Satu Bahasa, adalah generasi muda harus tetap berbangga kepada bahasa persatuan : bahasa Indonesia, meski ada keharusan untuk dapat menguasai bahasa internasional (bahasa Inggris, Mandarin dll), karena dampak era globalisasi.

Bahasa Indonesia harus tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bahasa ini menjadi bahasa pemersatu yang mencerminkan bangsa yang kokoh.
Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa, adalah implikasi sikap nasionalisme! Semangat nasiolisme yang dicanangkan dalam Sumpah Pemuda diramu oleh para pendiri bangsa dengan harga diri untuk melawan penindasan kaum kolonialis.

Tidak ada kata terlambat bagi generasi muda sekarang untuk menetapkan sikap yang kembali kepada semangat Sumpah Pemuda, untuk mewujudkan Indonesia kembali dihormati dan mendapat tempat penting dalam politik dan ekonomi dunia.

Kalau para pendiri bangsa dahulu mampu mempersatukan kemajemukan dan membangun bangsa yang mandiri, lepas dari penjajahan, saat ini generasi muda harus mampu mempersatukan kemajemukan untuk membangun kembali Indonesia.

Kalau dahulu bisa lepas dari kolonialisme, maka sekarang dalam koridor kemajemukan akan dapat melepaskan diri dari jerat penjajahan “kemiskinan” akhlak, pengetahuan maupun martabat, dan kemiskinan secara ekonomi.
Tantangan bagi pemuda Indonesia saat ini adalah membangun identitas dan kesadaran nasional, dan tentu malu, jika disebut (lagi) indon!

Gracia Paramitha
Puteri Lingkungan Hidup 2002, Sekretaris Himpunan Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional FISIP UNAIR

Tentang dia, aku juga pernah nulis di sini.

Iklan

21 thoughts on “Horeee! Tulisan Temanku, Gracia Paramitha, Dimuat di Surya Selasa

  1. aduh tulisannya kok banyak pake istilah tingkat tinggi ya? segmen pembacanya buat siapa toh? pastinya bukan buat orang awam spt saiah, gak bs memahami tulisan itu dgn baik, lah terlalu ilmiah penggunaan bhs-nya…

  2. He.he.he…Sy juga rada2 kurang ‘ngeh’. Segmen pembacanya siapalagi kalo bukan pemuda yg n0ngkr0ngin harian surya. Tapi ya mgkin perlu penyederhanaan bahasa agar smw pembaca tercover! *satu masukan buat grace*

  3. andreannus said: tp temen u lumayan cantik y fatah, makanya u betah di sono n g balik2 wakkakakaka…

    hehehehe… dulu kita punya ‘karin’, sekarang aku ada ‘grace’hakaakakaka

  4. nazhara said: kayak pernah denger namanya… gracia paramitha ya? hmmm…. *eling2 dulu*

    coba googling namanya! temukan profilnya! bener gak ya orang yang pernah mbak kenal? 🙂

  5. lafatah said: dulu kita punya ‘karin’, sekarang aku ada ‘grace’

    ooooooo…ketahuan yaaaaaa,u naksir karin y,wekekekeke….eling Fatah dia tuh dah nikah, eling² fatah,wekekeke…eh fatah g ada lagi yg kaya’ se Karin g di sana?hehehehe…

  6. andreannus said: ooooooo…ketahuan yaaaaaa,u naksir karin y,wekekekeke….eling Fatah dia tuh dah nikah, eling² fatah,wekekeke…eh fatah g ada lagi yg kaya’ se Karin g di sana?hehehehe…

    kalo yang lebih dari karin, banyak!!!hwakakaka… promosi temen banget negh!

  7. andreannus said: lebih apa neh??banyak kategorinya,hehehehe….

    ah, lebih itu relatif juga, bro!!!so, kita hentikan saja diskusi tak berujung inih!!!hohohoh

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s