Tulisan Temanku, Jamal Said Bakarsyum, Dimuat di Surabaya Post

Alhamdulillah… Salah satu temanku kembali mencatatkan dirinya sebagai mahasiswa HI angkatan 2007 yang tulisannya nongol di media. Setelah Gracia Paramitha, kini giliran Jamal Said Bakarsyum, si peraih cum laude di angkatan, seorang english debater juga, dan tentu saja pernah ikut AFS tahun 2006 ke Amerika. Hebat! Keren… Aku sendiri salut tiada habis ama nih anak! (lebay)

Berikut tulisannya aku kopikan langsung dari situs Surabaya Post.

Menuju Akhir Hegemoni AS
Kamis, 27 Nopember 2008 | 12:01 WIB

Oleh: Jamal Said Bakarsyum

Laporan dari National Intelligence Council (NIC) di Amerika Serikat yang baru saja dirilis pada 21 November menjadi sebuah headline utama di banyak media masa dunia yang sekaligus mengiringi berita tentang perkembangan krisis global.

Dalam laporan berjudul “Global Trends 2025”, NIC menyatakan bahwa krisis ekonomi AS adalah sinyal kuat akan pergeseran kekuatan dunia. Pamor AS di bidang ekonomi dan militer akan memudar serta Asia akan menjadi sentra manufaktur dan sektor jasa. Isi dari laporan NIC ini mendapat tanggapan beragam, baik optimis atau skeptis, terutama dalam keadaan yang serba tidak menentu seperti sekarang di mana cengkraman krisis global masih kuat.

Laporan NIC tersebut memberi sinyal bahwa seiring dengan berkurangnya pengaruh ekonomi AS dalam dua puluh tahun ke depan, transisi posisi kekuatan AS secara keseluruhan menjadi suatu kenyataan yang tak terhindarkan. Transisi ini nantinya akan menurunkan posisi AS sebagai the only superpower di dunia menjadi sebuah negara dengan tingkat kekuatan yang sama dengan negara-negara lainnya.

Sistem kekuatan dunia yang cenderung bernuansa unipolar sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1990 akan berubah menjadi multipolar. Negara-negara seperti Jepang, dan yang ada di dalam keanggotaan Uni Eropa akan memiliki tingkat kekuataan yang sama dengan AS dalam bidang ekonomi dan militer yang selama ini didominasi oleh AS.

Uni Eropa, dengan penyeragaman sistem mata uang dan integrasi ekonomi yang kuat, menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi AS yang sedang diguncang krisis ekonomi. Nilai dolar AS yang turun secara perlahan dari tahun ke tahun mendapat persaingan ketat dari rival Eropanya, Euro, yang cenderung lebih stabil. Ditambah lagi sudah ada suara-suara yang menyarankan adanya perubahan sistem keuangan dunia yang selama ini dikuasi oleh dolar AS.

Sebagai contoh, Presiden Iran Ahmadinejad pada tahun 2007 lalu sempat mengatakan bahwa dirinya akan mendukung penggunaan Euro untuk perdagangan minyak dunia yang diselenggarakan oleh OPEC. Ketika itu pernyataan Ahmadinejad tidak hanya mengundang kontroversi tetapi juga mendapat tanggapan positif dari sejumlah pemimpin dunia di negara lain seperti Venezuela dan Malaysia. Terlepas dari kenyataan apakah pernyataan tersebut merupakan simbol perlawanan dari Iran dan pendukungnya terhadap hegemoni AS, yang jelas adalah bahwa posisi kekuasaan AS memang sedang diuji dan pada akhirnya akan pudar sejalan dengan tampilnya negara-negara lain yang siap bersaing memperebutkan singgasana dominasi dunia.

Selain Uni Eropa, negara-negara berkembang seperti China, India, Brazil, juga mempunyai peranan penting dalam perekonomian dunia. Kondisi ini cukup membuat AS kewalahan karena percaturan ekonomi dunia yang semula dikuasainya telah mempunyai pemain-pemain baru yang tak kalah dinamisnya dengan negara-negara maju. China dengan pertumbuhan ekonomi yang selama delapan tahun terakhir berada pada kisaran 10 hingga 12 persen, tampil sebagai raksasa ekonomi baru.

Begitu juga dengan India yang secara konsisten mengembangkan literasi teknologi komputer di negaranya juga menjadi sebuah wujud tantangan bagi AS. Dan siapapun yang mampu menguasi dan mengembangkan teknologi komputer dapat dipastikan akan menguasai dunia pula karena seiring bertambahnya tahun, ketergantungan terhadap komputer bertambah pula.

Di lain sisi, Brazil yang muncul sebagai middle power country, menunjukkan eksistensi pengaruh ekonominya di dunia dengan menjadi pusat industri terbesar di kawasan Amerika Latin. Negara samba tersebut mempunyai ekonomi terbesar kesembilan di dunia dan telah lama menjadi surga investasi penting bagi industri manufaktur dari Amerika Serikat dan Eropa. Layaknya China yang juga mempunyai investasi jumlah besar dari negara-negara Barat, Brazil memberikan pengaruhnya tidak hanya dalam forum regional Mercosur yang ia bangun bersama negara-negara tetangganya, tetapi juga forum internasional penting seperti G20.

Dalam KTT G20 yang lalu (14/11), Brazil secara terang-terangan mengatakan bahwa sudah waktunya bagi negara-negara maju untuk mulai serius mendengarkan suara negara-negara berkembang dalam membentuk arsitektur baru keuangan global. Lebih jauh lagi, Presiden Brazil Lula da Silva juga mengindikasikan keharusan pembenahan diri sistem finansial global yang dinilai tidak compatible dengan keadaan sekarang ini.

Pernyataan da Silva ini sebenarnya merupakan perpanjangan dari gagasan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy tentang sistem keuangan internasional Bretton Woods 1944 yang dianggapnya sudah usang. Bretton Woods memang merupakan sebuah simbol dominasi ekonomi AS yang selama ini sangat sulit diganggu-gugat. Namun, dengan munculnya dorongan dari pemimpin negara maju maupun berkembang untuk menginvalidasikan sistem Bretton Woods, posisi AS menjadi lebih terancam dari sebelumnya.

Sementara itu, negara-negara lainnya seperti Rusia, Turki dan Indonesia, juga bersaing memajukan dirinya masing-masing untuk mendapat posisi penting dalam dunia multipolar yang akan segera terealisasi sepenuhnya. Indonesia dan Turki akan banyak berperan dalam penyediaan bahan mentah dan tambang bagi industri-industri besar , sekaligus sebagai tujuan investasi dunia. Sedangkan Rusia akan semakin memantapkan posisi globalnya dengan program ambisius Presiden Medvedev untuk mendirikan kartel pengekspor gas dan menjadikan Moskow sebagai pusat ekonomi dunia untuk menandingi New York.

Sekarang tinggal waktu saja yang bisa memberikan jawaban atas hiruk-pikuk mengenai pergeseran kekuatan dunia ini. Namun sementara itu, AS hanya bisa berharap bahwa nasibnya tidak akan sama seperti Uni Soviet yang runtuh oleh karena komplikasi internal dan perkembangan dunia yang tidak terbendung. (*)

Iklan

7 thoughts on “Tulisan Temanku, Jamal Said Bakarsyum, Dimuat di Surabaya Post

  1. Alhamdulilah,aku kapan y?jd pgn juga?tulsan jamal da bagus,cukup analitis dan tentuny jamal emang ‘kuat’ bgt dlm menghadirkan fakta-fakta sbagai penyok0ng argumen.cuma kekna,kalo ditambhi ‘teori’ ato smcm ‘perspektif’,kmgknan bsa ‘tembus’ di jawapos ato bhkan kompas.w0w..

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s