(Hampir) Kecolongan Lagi! Mampus!

Shit!

Boleh kan aku marah? Izinkan! Untuk kali ini saja.

Begini…

Hari Minggu, 28 Desember 2008

Magrib…

Aku akhirnya tiba juga di Malang. Turun dari kereta ekonomi yang membawaku tiga jam lebih dari Surabaya. Seperti biasa, kuhirup udara Malang dalam-dalam. Kucuci mataku dengan hijaunya. Lega.

Aku ingat kalau asharku belum tertunaikan. Dengan ransel di punggung, dari Stasiun Malang aku menyeret langkahku ke Masjid Ahmad Yani (bener gak sih, yang deket Pasar Kembang itu?). Shalat.

Selesai, niatnya sambil menunggu isya, aku pun mengontak temanku. Memastikan aku bisa nginep di kos/kontrakan mereka. Luthfi nggak bisa. Dia ada urusan dengan teman-temannya sehingga nggak bisa berada di kontrakannya. Aku ingat Iqbal, hmm…sepertinya kontrakannya rame (dan emang terbukti begitu aku ke sana). Ada Kholis juga Erik (mereka satu kosan), tapi nggak usah deh. So, aku inget Roni (temen jaman SMP yang lagi kuliah D3 Keperawatan Unmuh). Oke, aku sms-lah dia.

Saat menunggu balasan, seseorang tiba-tiba mendatangiku. Sekilas, aku lihat dia memang duduk di belakang banget. Menyender di sana. Begitu ia mendekatiku, dengan SKSD dia mengulurkan tangan menyalamiku. Dia pake peci haji warna putih gitu. Dia membawa sebuah kresek dan tas kulit hitam.

“Assalamu’alaikum,” katanya sambil melemparkan senyum lebar. Kujawab salamnya.

“Aslinya mana, Mas?”

“Saya Surabaya” jawabku. Pengen bilang Lombok, tapi feeling-ku udah mulai nggak enak. Hmmm…aku langsung ingat sama kejadian beberapa bulan yang lalu, lokasinya di Malang pula, di masjid pula. Nih, ada aku posting di sini.

“Saya juga Surabaya. Karang Menjangan Gang 3. Mas, di mana?”

Aku merasa benar-benar menghadapi modus yang sama dengan orang yang berbeda. Aku sudah ber-negative thinking (which is eventually proved!).

“Saya Gubeng Jaya 2,” jawabku malas.

Dia pun mulai nanya macam-macam. Tentang kuliahku. Dia kemudian meluber ke Fakultas Kedokteran. Nanya biaya segala macam (yang menurutku, gak penting). Terus, dia pun bercerita kalau putrinya yang mondok di ponpes (entah namanya apa) sedang sakit parah. Stress, tepatnya. Lagi menjalani terapi alternatif di Kepanjen, Malang. Dan…satu hal yang bikin aku mulai ‘nggak banget’ sama ini orang, dia bilang ke-stres-an putrinya ini mengantarkan putrinya masuk koran Memo. Tau Memo? Itu tuh koran di Surabaya yang isinya ‘penuh’ dengan berita kriminal, pemerkosaan, dan iklan-iklan nggak penting lainnya –maaf– saya ngomong apa adanya!

Dia cerita tentang penderitaan putrinya, mahalnya biaya pengobatan anaknya itu. Dia sudah ke Batu, rumah saudaranya untuk minta bantuan finansial, tapi nggak berhasil ketemu (katanya sih begitu). So, dia mutusin mo balik ke Surabaya aja.

Ooo…saya manggut-manggut. Orang di depanku ini semakin ngoceh nggak terarah (emang ada ya ngoceh yang terarah?) Dia kubiarkan ngelantur ke sana ke mari. Dan aku menanggapi seadanya (udah males banget) dengan menjaga kontak mata dengannya. (aku teringat ama kata ‘hipnotis’ which is mata adalah satu indera yang paling maknyus buat masuknya ‘mantra’ – halah).

Dia nanya-nanya pula tentang keluargaku. Jumlah sodaraku. Kerjaannya apa. Inti pertanyaannya –yang lebih mirip interview – adalah sedalem mana sih kocekku. Am I a rich man? Dia mencari kepastian itu. Dan karena aku feeling-nya udah nggak enak, aku berusaha untuk ‘merendahkan statusku’ di depannya.

Dan intinya pembicaraannya adalah…

Aku sudah menebak dari awal.

DUIT!!!

Dia minta tolong padaku agar dipinjami duit. Dia mau balik ke Surabaya. Dia kehabisan uang. Uangnya tinggal 6 ribu. Hanya cukup buat makan di jalan. Nah, dia nggak ada ongkos ke Surabaya. Dia mau “PINJAM” duitku 8 ribu ajah buat ongkos. Ntar mo dibalikin di Surabaya. (dalam hati aku bilang : emang gue percaya?)

Which is…modus dia ini persisssssssssssssssssss dengan orang yang menipuku waktu momen Malang Tempo Doeloe. Dan, aku langsung deg! Aku dah paham tipe orang kayak gini. Dan, amat bodohlah aku kalau sampai terulang lagi. Shit!

Well, duit 8 ribu nggak banyak sih. Tapi, kalau sampai ada lima orang yang berhasil dia kibuli dengan cara seperti itu, udah dapet 40 ribu. Lumayan!

Dia pandai bersilat lidah. Lancaaaaaaaaaaarrrr banget berargumen (nggak penting).

Aku sih langsung ngeles. Bercermin dari penipuan yang menimpaku, AKU BILANG KALAU AKU ITU ANAK KOS. AKU KE MALANG JUGA DENGAN DUIT SEADANYA. NGINEP JUGA DI KOS TEMEN, BUKAN H
OTEL!!! AKU BILANG AYAHKU UDAH PENSIUNAN, IBU CUMA IBU RUMAH TANGGA BIASA. SODARAKU BANYAK. BIAYA YANG DIKELUARKAN BANYAK.

Meski kesannya nggak nyambung, tapi ya sudah. Aku kepentok mau ngeles kayak gimana. Yang penting, DIA NGGAK DAPETIN DUIT DARI AKU!!!

AKU MUAK SAMA PENIPU!

AKU SUDAH NGGAK PERCAYA. APALAGI DIA ORANG ASING. SOK KENAL SOK RAMAH DAN SOK-SOK-SOK LAINNYA. I DON’T WANNA THIS IS RUIN ME BUAT KE SEKIAN KALINYA.

Untung deh temenku, si Roni nelpon di tengah-tengah cerocosan serunya. Minta aku dijemput atau aku berangkat sendiri ke kosnya. Aku bilang, biar aku berangkat sendiri naik angkot.

Dan…sia bapak itu pun ‘pura-pura’ paham. Aku dilepaskannya. Aku beralasan aku harus segera pergi. Dia pun tersenyum lebar, ‘ramah’, meski mungkin hatinya kecut.

Kami bersalaman. Bye!

Mampus!!!

Malang, 29 Desember 2008

Iklan

21 thoughts on “(Hampir) Kecolongan Lagi! Mampus!

  1. hipnotis…..iiiiy…syerem!kata2 itu seperti ‘mantra’….mendengar story lewat mata, akhirnya jd korban, persis sodaraku yang berhasil jadi korbannya…sang pemangsa berhasil ‘menyulap’ pikiran korban menjadi ‘tamu’ yang menguras seluruh harta benda yang diperjuangkan dengan keringat dan air matageram…pasti laaaaah….:((maka tak ada kata lain, don’t u ever trust any stranger!!

  2. Kalau saya waktu ngantor di Thamrin ada pengemis yang tukang maksa (sok preman), tapi gebleknya selalu pake alasan yang sama: minta duit nggak punya ongkos buat pulang. Trus doi nggak hapal siapa2 aja yang pernah dia kibulin (ya iya lah =). Makanya pas ke-empat kalinya doi berusaha ngejebak saya (di bbrp kesempatan berbeda) dan tetep ngotot, saya ajak berantem aja sekalian. Hehe Dulu sih saya rajin posting MO penipuan semacem ini di Metrovert (http://metrovert.multiply.com), buat jadi database jenis2 penipuan yang sedang marak di Jakarta dan kota2 besar lainnya. Tapi sekarang (alhamdulillah) dah rada jarang ketemu yang aneh-aneh lagi di jalan… =)Mau ikutan nulis pengalamannya disana?

  3. Slalu Dzikir bisa menambah PD/tenang d pjalanan. Tukang tipu hipnotis, sihir gendam akan mengincar orang yg mlamun, mnatap mata lwn bicara dan mnampakan gaya spt orang tersesat.jd wlpun lagi tsesat di terminal/stasiun dg dzikir bs bsikap/bergaya tenang bs acting bergaya orang lokal

  4. ummuaiman08 said: Hehehehe….sabar…sabar….namanya juga ujian dari Allah :):)

    yeah…pengalaman berharga nih!tapi, saya suka kok yang kayak gini. bertambah kaya referensi saya tentang karakter orang. hohoho

  5. akunovi said: wah, ketemu lagi, ya….ckckckckwajahmu baik hati kali, tah… pasti mau bantu orang 😀

    orangnya berbeda!hahaha…kata orang sih begitu.”Tah, kamu jangan terlihat terlalu baik sama orang!”hmmm…gimana yah? emang bawaannya kek gini. :p

  6. capulaga said: hahahaha….. aku jg pernah tuhtapi pas tercium aroma aneh2, langsung deh aku tinggalin sblm dia ngajakin ngobrol panjang

    pengennya pasang tampang mesem aja kalee ya!tapi, saya nggak bisa. Saya kan orang yang ramah (tapi gampang dikibulin)hahaha… na’udzubillah deh!

  7. cenitcenit said: hipnotis…..iiiiy…syerem!kata2 itu seperti ‘mantra’….mendengar story lewat mata, akhirnya jd korban, persis sodaraku yang berhasil jadi korbannya…sang pemangsa berhasil ‘menyulap’ pikiran korban menjadi ‘tamu’ yang menguras seluruh harta benda yang diperjuangkan dengan keringat dan air matageram…pasti laaaaah….:((maka tak ada kata lain, don’t u ever trust any stranger!!

    iyah!sekadar ngobrol biasa, bolehlah. but not easy to give any trust!dulu sih kerasa bener saya dihipnotis. tapi, belajar dari situ, inysa Allah bakal lebih waspada lagi.

  8. rinurbad said: hati-hati, Fatah. Sebisa mungkin pasang tampang sangar kalo jalan sendiri..mungkin ‘bau’ perantaunya tercium..

    yups!saya juga sudah menduga demikian.saya bawa ransel lumayan penuh, mampir di masjid buat shalat, siapa lagi kalau bukan ‘pejalan’.apalagi dia memastikan banget saya asalnya mana. saran agar saya bertampang sangar, sedang saya cerna baik-baik. ;p

  9. kangbayu said: Makanya pas ke-empat kalinya doi berusaha ngejebak saya (di bbrp kesempatan berbeda) dan tetep ngotot, saya ajak berantem aja sekalian. Heh

    hahahaha…kalo saya sih masih mikir2 buat ngajakin berantem. ntar jangan2 tubuh saya yang ceking ini justru dipelanting duluan. so, saya lebih mengedepankan soft power =)

  10. kangbayu said: Dulu sih saya rajin posting MO penipuan semacem ini di Metrovert (http://metrovert.multiply.com), buat jadi database jenis2 penipuan yang sedang marak di Jakarta dan kota2 besar lainnya. Tapi sekarang (alhamdulillah) dah rada jarang ketemu yang aneh-aneh lagi di jalan… =)Mau ikutan nulis pengalamannya disana?

    bolehlah masuk daftar ‘pikir2 dulu’. :psiapa tahu pengalaman saya ini bisa berguna buat orang lain juga.

  11. ayahara1 said: Slalu Dzikir bisa menambah PD/tenang d pjalanan. Tukang tipu hipnotis, sihir gendam akan mengincar orang yg mlamun, mnatap mata lwn bicara dan mnampakan gaya spt orang tersesat.jd wlpun lagi tsesat di terminal/stasiun dg dzikir bs bsikap/bergaya tenang bs acting bergaya orang lokal

    terima kasih, kang.

  12. lafatah said: orangnya berbeda!hahaha…kata orang sih begitu.”Tah, kamu jangan terlihat terlalu baik sama orang!”hmmm…gimana yah? emang bawaannya kek gini. :p

    uhuk uhuk jadi pengen batuk :D*fatah, kirimin lombok donk sekarung 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s