Perawat Laki-Laki


Aku sedang berada di antara para mahasiswa keperawatan dan kedokteran di Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Malang. Siang ini. Saat hujan luruh perlahan dari langit. Menginjak bumi Malang yang sudah sejuk. Ah, makin terasa dinginnya.

Hot spot di kampus ini sedang terganggu. Mungkin hanya di laptopku sahaja. Sebab, kulihat laptop-laptop lainnya yang sedang terbuka, sedang berada di belahan bumi lain. Berselancar ke dunia sebelah. Dunia maya.

Daripada bengong, tak tahu harus mengerjakan apa, aku pun menulis. Teringat obrolanku dengan Roni, teman yang kosnya tempatku menginap selama dua hari ini.

Dia mahasiswa D-3 Keperawatan semester lima. Tahun depan dia bakal merampungkan studinya. Rencananya, dia ingin balik ke Lombok Timur, bekerja di RSUD sana. Alasannya sih, biar ada yang menemani sang ibu yang telah ditinggal mati oleh suaminya, bapaknya Roni.

Awal-awal kuliah di keperawatan, Roni merasa tidak betah. Merasa minder. Tak lain dan tak bukan karena dia masih menganggap keperawatan itu…jurusannya cewek! Bertolak belakang dengan idealismenya: masuk kepolisian!

Dia mengeluh. Merasa salah jurusan. Apalagi dia dari jurusan IPS ketika SMA. Masuk keperawatan, sepertinya tidak nyambung.

Itu dulu. Semester-semester awal.

Suatu kesempatan, dia bercerita lagi. Kali ini tentang pengalamannya menangani korban banjir di Bojonegoro tahun 2007. Selama dua hari, dia bersama tim dari Unmuh menyusuri genangan banjir, membagikan obat-obatan, menyebarkan ransum, dan memberikan bantuan darurat bagi korban di Bojonegoro yang membutuhkan.

Lain kisah, saat dia menjalani praktek di Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang. Ada korban HIV/AIDS ia temui. Di rumah sakit yang sama, dia terkejut saat didatangi seorang remaja putri berusia 16 tahun beserta bapaknya. Dia tak menyangka ketika memeriksa data konsultasi beberapa bulan yang lalu dari remaja putri ini, ternyata dia ini pernah berusaha menggugurkan kandungannya. Yeah, hamil di luar nikah.

Pernah pula pasien yang ia tangani di rumah sakit di Blitar sana, beberapa saat setelah Roni selesai praktek, pasien itu meninggal. Seorang ibu tua. Aku lupa, ibu tua itu terkena penyakit apa.

Terkadang, Roni juga dimintai tolong oleh tetangga sekitar kosannya. Sekadar periksa tensi atau tekanan darah mereka. Sebagai seorang mahasiswa keperawatan, sudah biasa ia menggunakan stetoskop. Sebenarnya, cuma satu orang tetangga yang minta diperiksa, ternyata tetangga lainnya ikut-ikutan pula. Ramailah. Bak pahlawan kesehatan dia itu.

Setelah berkutat sekian lama dengan dunia kesehatan, berbaur dengan para pasien, melebur dengan masyarakat sekitar saat memberi penyuluhan kesehatan, paradigmanya pun berubah. Ia sadar, polisi memang bukan jalannya. Tapi, siapa yang bisa menebak jika suatu saat dia bekerja dengan para polisi dalam satu tim!

Ah, kini ia menganggap, perawat bukanlah pekerjaan cewek. Perawat cowok, bukan berarti memiliki ke-feminim-an yang dominan. Dia sadar, selama bisa berbuat bagi sesama, apalagi di dunia kesehatan yang selalu dibutuhkan orang, tak ada salahnya jadi perawat, bukan???

Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Malang

30 Desember 2008

gambar dicomot dari http://www.dreamstime.com

Iklan

22 thoughts on “Perawat Laki-Laki

  1. ya itulah faktanya…bnyak profesi yang dirantai oleh ‘gender minded’ujung2nya byk kita salah kaprah bhw profesi ttu lazimnya dilakoni hanya untuk laki2/pr aja…pdhl mo laki or pr asal dia mmliki kapasits n kompetensi, knp ga?yg plg baik manusia itu kan yg plg bermanfat…:)

  2. rinurbad said: Jangankan perawat, zaman ngantor aja aku berangan-angan punya sekertaris cowok, Tah.

    iya yah! sekretaris cowok??? ada gak?mungkin chemistry-nya bisa dapet kale kalo partner kerja berlawanan jenis. hummm…

  3. cenitcenit said: ya itulah faktanya…bnyak profesi yang dirantai oleh ‘gender minded’ujung2nya byk kita salah kaprah bhw profesi ttu lazimnya dilakoni hanya untuk laki2/pr aja…pdhl mo laki or pr asal dia mmliki kapasits n kompetensi, knp ga?yg plg baik manusia itu kan yg plg bermanfat…:)

    betul, mbak!paradigma itu yang harus kita ubah.tapi, perlahan-lahan di jaman modern kayak sekarang ini, ke-saklek-an itu mulai bergeser deh.supir itu cewek, perawat cowok, sekretaris cowok, bidan itu cowok (hehehe…benar gak sih?)

  4. Kalo di film-film seri AS sih (ER dan sebagainya), banyak kok perawat cowok. Greg Mortenson pun (di buku three cups of tea), profesinya perawat. Mungkin di sini aja yang belom biasa?

  5. Tulisan yang cerdas.Idenya bagus, menuangkannya juga bagus.Perawat cowok itu sangat diperlukan, terutama untuk menangani pasien2 yang cowok… Runyam dong kalo semua perawat cewek.Bisa-bisa kalau suami saya sakit, saya jadi ikutan sakit jantung.Hehehe….Mas Fatah, kalo lagi di Lombok kasih kabar, kita kopdar ya

  6. niwanda said: Alhamdulillah akhirnya bisa menemukan makna dan hikmahnya ya…

    iya mbak lei.kita kan nggak pernah tau apa dan bagaimana kehidupan kita… (taelaaaa…)someone makes plan, God decides!

  7. bruziati said: Kalo di film-film seri AS sih (ER dan sebagainya), banyak kok perawat cowok. Greg Mortenson pun (di buku three cups of tea), profesinya perawat. Mungkin di sini aja yang belom biasa?

    iya mbak uci.masih belum biasa, tapi lambat laun pola pikir masyarakat juga bakal berubah. so, kita saksikan saja (salah satunya who knows bakal difilmkan hal2 seperti ini)

  8. rinurbad said: Waktu aku dirawat di RSUD Purbalingga, perawatnya ada yang cowok kok. Khusus buat maksa aku minum obat:p

    emang beda ya kalo perawat cewek yang kasih obat?hahahah…saya jadi paham kenapa kita diciptakan berpasang2an.Allahu Akbar!

  9. dewigagula said: duh jangan minder Ron, ayo semangat..justru dibutuhkan banget tuh perawat laki2.

    saling melengkapi!tepatnya, begitu kan mbak?ada kondisi khusus di mana perawat laki2 dibutuhkan. begitu juga sebaliknya.

  10. ninamulhadi said: Tulisan yang cerdas.Idenya bagus, menuangkannya juga bagus.Perawat cowok itu sangat diperlukan, terutama untuk menangani pasien2 yang cowok… Runyam dong kalo semua perawat cewek.Bisa-bisa kalau suami saya sakit, saya jadi ikutan sakit jantung.Hehehe….Mas Fatah, kalo lagi di Lombok kasih kabar, kita kopdar ya

    insya Allah mbak!moga liburan semester ini nggak ada hambatan, so bisa pulkam dan kopdaran dengan mbak…doakan ya mbak! saya juga mo semesteran nih…

  11. Ya beda atuh, Fatah. Dokter aja ada yang cowok, ada yang cewek. Pengalamanku waktu masuk RS bolak-balik dulu sih, perawat cowok tuh lebih bersohibi..kalo yang cewek banyakan judes. Kecuali yang di VIP, ya..itu mah jelasss beda.

  12. rinurbad said: Ya beda atuh, Fatah. Dokter aja ada yang cowok, ada yang cewek. Pengalamanku waktu masuk RS bolak-balik dulu sih, perawat cowok tuh lebih bersohibi..kalo yang cewek banyakan judes. Kecuali yang di VIP, ya..itu mah jelasss beda.

    hohoho…begono tho?tapi, dia bisa bersohibi, apakah karena pasiennya beda gender dengan dia? :pduh, tak tahulah saya ini.

  13. reyhanah said: Perawat laki2 hee dsatu sisi ada sesuatu yang membuatku benci d satu sisi suka aja soalnya adk ak yg co kul d akper, dia keren.

    subjektivitas tetep…masuuuuk! :p

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s