Perlukah Jadi Burung untuk Jadi Penulis?

Itulah kira-kira topik sms-ku dengan seorang teman. Aku bilang, aku pengen punya sayap biar bisa terbang ke mana-mana. Pengalaman terbang ke mana-mana dengan aneka penglihatan dan pencerapan itu ingin kutuangkan dalam sebuah buku. Jadi best seller. Masuk Oprah. Terkenal.

Temanku itu pun nyekak dengan bilang, “Ah, kamu pake alasan klasik, Tah! Sebenarnya kamu pengen punya sayap biar nggak ngekos dan bisa PP Lombok-Surabaya, kan?”

Aku pun tercenung. Bukan dengan jawaban temanku itu, tapi dengan sms yang kukirim. Perlukah jadi burung untuk jadi penulis? Ini sih pertanyaan nggak mutu yang sering kudapatkan dari buku-buku panduan menulis ataupun baca di milis penulis.

Jawabannya: NGGAK PERLU!

Perlukah jadi pelacur ketika kita ingin mendeskripsikan dengan total dan pas bagaimana sih kehidupan pelacur itu? Oho…tindakan yang konyol itu. Perlukah kita menjadi semut ketika ingin bercerita tentang dunia semut dengan gaya fabel, misalnya? Atau perlukah
berkelana dahulu untuk bisa menulis sebuah buku?

Oh… impianku! Aku tak perlu jadi burung. Ntar, dengan apa kutuliskan aksara-aksaraku? Aku tak perlu jadi burung hanya karena ingin bisa ke mana-mana gratisan (dengan sayap sendiri). Kalau aku mau dan semesta membantu, bisa saja aku berkeliling dunia. Lalu, punyalah aku buku. Atau, ngapain keliling dunia dulu, baru punya buku? Ah…

Intinya, tulis saja. Ntar serahkan ke penerbit. Jadi penulis kamu. Beres kan?

Pertanyaanku: segampang itukah?

*lirik-lirik Bang Jonru* :p

Iklan

15 thoughts on “Perlukah Jadi Burung untuk Jadi Penulis?

  1. Betul kata Mas Yudi, mengenai ‘menulis harus dianggap kerja’. Itu ada di buku Chicken Soup for the Writer’s Soul. Biar nggak takluk sama moody dan writer’s block.

  2. Kerja: itu motivasi jadi penulis.Kalo saya sih masih belum bisa menerapkan itu. Motivasi terbesar saya justru masa kecil saya. Ingin kembali ke masa itu. Ingin menghadiahi masa kecil saya dgn buku2 yg saya tulis. Amiiin…@mbak revina: yup, just dream isn’t enough :p

  3. ayahara1 said: Ngapain jd burung.Banyak buku bagus yg mampu menggambarkan dahsyatnya hari kiamat, padahal belum ada seorangpun merasakan dahsyatnya hari kiamat kubro.

    so, kesimpulannya?menulislah! begitu kan pak? 🙂

  4. uwaykaramy said: itu dia persoalannya? segampang itukah ? laptop udah beli, buku udah banyak, tapi semangat menulis gak muncul – muncul… gimana nehhh

    kalo para penulis profesional bilang: menulis sajalah! menulis secara acak. Mengalir. Tapi inget, harus punya motivasi! :p

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s