TIKIL (Bukan Review, Sekadar Komentarku)


Sudah banyak review TIKIL yang rajin dikumpulkan oleh penulisnya, Kang Iwok, di blognya. So, daripada bosan membaca review, mendingan baca sendiri bukunya (bagi yang belum baca:P)

Saya cuma mau ngasih tanggapan aja.

Jujur, di awal-awal cerita, saya susah sekali untuk ketawa. Mungkin belum ketemu chemistry alias maksud cerita. Tapi, saya tidak menyerah. Tekad saya, liburan saya kali ini harus ada bumbu tawanya dan harapan saya pada TIKIL, tidak berbuah sia-sia.

Pergi sunrise-an bareng teman-teman, buku ini kubawa. Dengan bangga bilang ke mereka kalau buku ini dikasih langsung loh sama penulisnya :p Ketika reunian lagi, buku ini kubawa, padahal aku tak membacanya di acara kumpul temu itu. Sekadar pamer saja. Hahaha…

Lalu, sampai kapan aku seperti ini? Ciaaah… maksudnya, sampai kapan aku unjuk-unjuk buku orang tapi belum sekali pun menamatkan membacanya. Ntar kalo ditanya isinya, gimana? (yeah…aku pasti ceritain review yang beberapa kali pernah kubaca tentang si TIKIL ini!) :p

Tidak. Aku pengin serius membaca TIKIL. Jangan sampai penulisnya kecewa gara-gara aku pernah janji akan memberi komentarku tentang buku ini. So, ketika bangun tidur, buku ini pun langsung kubaca. Masih dengan mata terpincang-pincang, berbagi konsentrasi antara mimpi barusan dan buku yang di depan mata, dan iler yang menggenang membentuk pulau…Lombok! halah… gak dink!

Aku pun membaca dan membaca TIKIL. Heran dengan si Lilis yang pikirannya dan matanya digelapkan oleh imej Adjie Massaid. Kekonyolan sekretaris yang satu ini mampu menggelitik gigiku untuk ketawa :p Lalu, ada Dasep yang terobsesi jadi pembalap yang ujung-ujungnya sering nabrak dan jatuh dan ngepeyokin motor kantor TIKIL. Yang dituakan alias Mang Dirman yang nggak berani naek motor dan terpaksa pake sepeda untuk nganterin titipan orang. Terus, si Kusmin yang aneh tapi nyata. Ngaku pegawai TIKIL, tapi jiwa Damkar. Apa itu Damkar? Cari sendiri di bukunya :p

Mereka berempat adalah pegawai TIKIL, sebuah jasa kurir. Kisah konyol mereka diuraikan secara bohay *apaan sih* oleh Kang Iwok.

Dan, yang paling saya acungin jempol adalah ide Kang Iwok menghadirkan tokoh Pak Pri sebagai bos barunya TIKIL. Kenapa? Kok ada ya bos kayak dia. Bukannya memajukan TIKIL yang hampir ditutup karena tidak memenuhi target omzet, eh dia malah jadi koki amatiran. Dan, tempat demo masaknya pun nggak main-main. Ruang kerjanya di kantor TIKIL Cabang Tasikmalaya itu! Gila!

Tapi, kegilaan bos gendheng itu bisa saya tolerir dan saya salutin karena dari situlah kantor mereka justru terselamatkan. Tak jadi ditutup. Bahkan, di akhir cerita, kegiatan memasak Pak Pri itu memberikan efek domino bagi karyawan dan perusahaan TIKIL sendiri.

Ide yang cemerlang! Andai saya sebagai pemimpin redaksi Gagasmedia, mungkin ide ‘memasak’ inilah yang paling menarik perhatian saya. Bukannya karakter si Lilis yang ampuuuun dah…senormal-normalnya manusia, pasti bisa dong membedakan mana Adjie Massaid dan mana Bowo. Siapa Bowo? Tanya aja ama Lilis. Eh, maksud saya, cari tahu aja di TIKIL.

Iklan

4 thoughts on “TIKIL (Bukan Review, Sekadar Komentarku)

  1. Hihihihi … review yang lain daripada yang lain. Eh, ini komentar ya? hahaha … seru banget! Tengs ya Fatah, udah bantuin promo dengan membaca ke sana kemari. Mudah-mudahan banyak orang yang kelilipan dan ikut beli TIKIL juga.//seperti biasa, copas ya? Hehehe

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s