[Behind The Writing] Roti Galih


Ini cernak saya yang pertama. Alhamdulillah…tidak perlu nunggu ‘lama’ untuk mendapat kepastian terbitnya. Saya kirim bulan Desember, sekarang nampangnya

Ide cernak ini saya dapatkan ketika memiliki roti yang telah jamuran. Antara mau mendiamkannya di kamar saya sampai benar-benar ‘hijau’ berjamur, ataukah membuangnya. Keputusan pun saya buat, daripada terlalu ‘sayang’ dengan benda-benda yang – yeah berusaha dipertahankan pun nggak membawa manfaat – akhirnya saya buang roti tersebut. Tak lupa saya menyelipkan niat ‘sedekah’ pada hewan atau bakteri atau apapun yang memakan roti tersebut.

Namanya Galih. Saya ambil dari nama adik teman saya, Eva. Sedangkan kehidupan keluarga Galih yang kaya raya, terinspirasi dari kehidupan Firman, teman kuliah saya. Namun, saya membuat tokoh Galih bukanlah contoh anak yang sombong dan bangga dengan segenap kekayaan orang tuanya. Saya ‘bikin’ Galih anak SD kelas 5 yang suka berbuat baik pada sesama, manusia juga makhluk lainnya.

Nilai moral yang saya coba sematkan dalam cernak ini adalah ‘berbuat baiklah, jangan dibuat-buat. Berderma dari hati yang tulus ikhlas. Sesuatu yang sekiranya mubazir, masih bisa kita non-mubazirkan. Salah satu caranya, memberi makanan sisa atau remahan roti pada hewan atau makhluk lainnya. Galih mencontohkannya dalam cernak ini.’

Mau baca naskah lengkapnya? Di sini dan lanjutannya di sini.

Iklan

12 thoughts on “[Behind The Writing] Roti Galih

  1. koranpagi2008 said: bravooooooooooooo,adikku pinter skl seeeh

    Sedang belajar untuk menjadi penulis, Mbak Ita…Makasih atas sanjungannya :)Moga jadi doa juga 🙂

  2. niwanda said: Selamaaaat….Pesan moralnya bagus :).

    Terima kasih, Mbak Lei…Semoga nggak cuman si Galih doank yang kayak gitu.Tokoh rekaan saya ini pun bisa menjelma dalam diri saya 🙂

  3. Ada banyak poin sih Tah, tidak sekadar simpel juga. Karena anak-anak sekarang sangat cerdas dan kritis. Ya pelan-pelan berproses, deh. *Siapa pula aku ini berani menggurui* Terus berlatih dan perbanyak baca, ya:)

  4. sinarbulan said: Ada banyak poin sih Tah, tidak sekadar simpel juga. Karena anak-anak sekarang sangat cerdas dan kritis. Ya pelan-pelan berproses, deh. *Siapa pula aku ini berani menggurui* Terus berlatih dan perbanyak baca, ya:)

    Yihaaaa…Terima kasih suhu-ku :)Secara nggak langsung saya juga belajar dari resensi buku anak-anak yang Teteh poskan.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s