Bolos THI Demi Temu Penulis NVO

            Hari Rabu (20/05), dengan tergesa-gesa aku menyetop angkot di depan kampus B Unair. Saat meloncat naik, kepalaku kejeduk di pintu angkot saking semangatnya. Dengan sedikit meringis aku menyabarkan diri. Ah, gak apa-apa. Sebentar lagi kan bakal ketemu penulis keren!

           Aku pun merelakan absenku bolong satu untuk mata kuliah Teori HI. Maafkan saya, Pak Dugis, Mas Syafril, Mas Yesaya, dan Mbak Cimi

         Yup, sejak Togamas Petra pasang pamflet di tokonya dua minggu lalu dan kemudian menyebar pula di kampus-kampus, termasuk kampusku, maka niatku untuk bisa hadir di acara temu penulis novel Negeri Van Oranje pun makin meluap-luap. Nggak boleh nggak datang. Kapan lagi coba? Penulisnya aja rela datang ke Surabaya, kenapa nggak dimanfaatin?

Pamfletnya bilang (emang bisa ngomong?) kalau acaranya mulai pukul 15.00. Sementara aku berangkat dari kampus pukul 3 kurang 10 menit. Butuh 15 menit kalo ngangkot. Sepanjang jalan, aku khawatir kursi di dalam Hall Petra Togamas sudah full terisi. Bayanganku, para audiens membludak, hingga aku cuman kebagian berdiri di belakang saja, sambil menggapai-gapaikan tangan pengen salaman dengan sang idola. Hahaha… Apalagi aku nggak punya kamera untuk mengabadikan momen ‘penting’ itu. (Alasan yang masuk akal adalah aku tidak akan memiliki sesuatu untuk dipamer-pamerin ke teman-teman )

        Keluar dari pintu angkot, aku langsung berlari. Kulihat deretan sepeda motor lumayan banyak di tempat parkir. Aduh, kayaknya semua pada ke Hall nih! Yang sempat kulihat sedang markir motornya pun kuanggap sebagai saingan – musuh – atau apalah yang akan mengambil tempat dudukku nanti. Hahaha…

            Apa yang terjadi begitu aku telah sampai di depan Hall?

           Sepi. Bisa dihitung dengan jari orang-orang di dalam. Yang jaga stan buku NVO, 3 orang mbak/ibu. Satu di antaranya kukenal betul sebagai kasir Petra Togamas. Penonton pun baru sekitar 4 orang. Kursi yang tersedia??? Banyaaaaak… Sementara di meja depan, kulihat kru acara yang sedang ngumpul, termasuk Mas Wahyuningrat. Aku pun dengan pede dan semangatnya duduk di deretan ketiga dari depan. Alhamdulillah!

          Sambil membongkar isi tas jinjing yang diberikan oleh NESO secara gratis (ada CD, buku, pulpen, brosur, dan map files), aku pun smsan dan buka facebook: update status! Bocorin ke teman-teman kalau aku lagi meet n greet dengan penulis Negeri Van Oranje *yaoloh…hobi banget sih…pameeeer* Ya, kalo dalam hal beginian, semangatku nggak pernah padam (buat pamer). Hahaha…

          Dua puluh menit berlalu, acaranya belum juga dimulai. Daripada nggak bisa ngontrol detak jantung saking excited-nya, aku pun turun ke musholla. Shalat ashar dulu. Tas dan tetek-bengek dari NESO aku tinggalkan di kursi tanpa berpesan pada duo mbak di belakangku untuk jagain. Ya, hanya bermodal keyakinan (apa kenekatan?).

          Sekembali dari musholla, aku naik lagi. Wah, kayaknya nunggu jam 4 tepat nih baru acaranya dimulaikan. Di deretan kursi belakang, Mas Wahyuningrat dan seorang lagi kulihat sedang berbincang. Eh…ntar dulu… itu kan, kalo nggak salah, Mas Adept tho? Dan, terbukti begitu acaranya dimulai, dua orang penulis NVO ini dipanggil untuk duduk di meja yang telah disediakan. Oya, Pak Rosdiansyah dari Surabaya Readers Club yang jadi moderatornya.

      Acaranya pun bergulir dengan smooth. Mas Wahyu dan Mas Adept secara bergantian menceritakan proses kreatif dari NVO ini. Yang kulihat dari Mas Wahyu adalah sosok yang kocak, cerdas, pengen cengengesan mulu (tapi dalam koridor yang bisa dimaklumi), sipit, lebih mendominasi (pembicaraan), bahasa Inggris oke, dan low profile. Kalo Mas Adept, agak sedikit serius (tampanya lho), bahasa Inggris oke, cerdas tentunya, low profile, kocak juga.

         Acaranya pun lebih ke arah bincang santai gitu. Pertanyaan demi pertanyaan bergulir dari para penonton. Pertanyaanku sendiri telah terwakili oleh penanya pertama, yaitu mengenai gimana sih menjaga konsistensi menulis sehingga jalan ceritanya benar-benar smooth, padahal ditulis oleh empat orang?

        Mungkin pertanyaan yang paling beda dan agak serius serta panjang dilontarkan oleh Pak Anton, namanya. Dia bertanya: kenapa sih Belanda menerapkan sistem pendidikan yang menggunakan bahasa Inggris? Kenapa nggak pake bahasa Belanda saja? Terus, institusi-institusi pendidikan di Belanda yang dulunya ranking 10 besar (entah tahun berapa), kok merosot tajam hingga nongkrong di posisi 200-an level dunia? Apakah karena pembelajaran di Belanda just for fun saja, terutama bagi outsiders? Ini penanya yang lumayan ngotot dan agak nyimpang dari tema “BINCANG SANTAI”. Aku dan penonton lainnya senyam-senyum saja.

         Bincang santainya memakan waktu kurang lebih satu setengah jam. Banyak hal yang bisa kudapatkan, seperti how to survive in Netherland, seluk-beluk pembuatan NVO, profil ‘unpublished’ para penulisnya sendiri, cerita-cerita menarik juga menyedihkan dan penuh pembelajaran dari pengalaman Mas Wahyuningrat dan Mas Adept Lenggana sendiri. Aku puas. Keren daaaah…

      Di akhir acara, seorang mbak dari Penerbit Bentang Pustaka bagi-bagi doorprize berupa dua buah kaos NVO yang warnanya oranye. Duuuh…aku terlalu baik hati sampai merelakan dua kaos keren tersebut jatuh ke tangan penonton lain. Padahal pertanyaan yang diberikan oleh Mas Wahyu terbilang gampang: 1) Sebutkan lima kota di Belanda? 2) Sebutkan lima tokoh utama dalam NVO? Gampang bukan??? Tapi, karena akunya terlalu menggampangkan, so habis terang terbitlah gelap. Hehehe…

          Sebagai obat kesel, begitu sesi book signing dibuka, aku pun segera ke stan NVO, membeli satu eksemplar. Alhamdulillah…dapat potongan 25% alias menjadi 36 ribu saja. Lalu, kukoyakkan bungkus plastiknya, dan langsung ke depan minta tanda tangan. Mas Adept pertama. Saat aku menyebutkan nama, dia juga ikutan surprised. Yeah, soalnya sa
ya telah menjadi kontaknya di Multiply sekaligus teman di FB. Ngobrollah kami sebentar.

        Lalu, aku minta tanda tangan pada Mas Wahyu. Reaksinya juga sama ketika tahu bahwa aku kontaknya juga di MP juga FB. Waaah…aku jadi ke-GR-an. Aku merasa seolah-olah batas antara idola dan penggemar itu tidak ada. Hahaha… Kita pun bincang-bincang.

        Tak ada rotan akar pun jadi!

        It must be a memorable event! Aku berkesempatan foto-foto dengan dua penulis ini. Aku dengan pedenya bilang ke mbak dari Penerbit Bentang Pustaka itu agar upload ke FB-nya Negeri Van Oranje. Ntar aku di-tag ya…. hahaha…

       Overall, aku puas. Aku senang. Tiada tara. Apalagi setelah acara benar-benar selesai, aku berkenalan dengan seorang penulis dan penerjemah freelance yang lulusan Sastra Inggris Unair, dan dia menawarkanku untuk gabung dalam proyeknya. Kami berbincang agak serius dan ngomongin banyak hal. What un unforgettable moment!

         Ultimately, Alhamdulillah…

photo is taken from: negerivanoranje.nl

Iklan

33 thoughts on “Bolos THI Demi Temu Penulis NVO

  1. lafatah said: epi. Bisa dihitung dengan jari orang-orang di dalam. Yang jaga stan buku NVO, 3 orang mbak/ibu. Satu di antaranya kukenal betul sebagai kasir Petra Togamas. Penonton pun baru sekitar 4 orang. Kursi yang tersedia??? Banyaaaaak…

    Alhamdulillah… bisa puas-puasin dong sama penulis fav…Seneng deh liat semangatnya Fatah…

  2. onetea said: wadduh seneng ya ketemu sama penulis buku paporit…

    absolutely!!!deg-degannya sejak masuk kuliah pertama jam 1, padahal acaranya jam 3.di angkot iya, tiba di Hall, duduk manis, sampai acaranya kelar pun senang bangeeet…yah, Alhamdulillah buat semuanya :))

  3. arikunto said: Alhamdulillah… bisa puas-puasin dong sama penulis fav…Seneng deh liat semangatnya Fatah…

    hehehe…betul sekali, Pak Ari.terima kasih atas apresiasinya… :))*menunggu penulis lainnya mampir ke Surabaya*

  4. rinurbad said: Cieee..selamat ya untuk proyek barunya. Nggak sia-sia dong bolos kuliah *tengak-tengok apakah dosenmu baca postingan ini*

    iya nih Teh..saya kok melihat sosok Teteh di mbak itu ya…Sama-sama freelancer, penerjemah, penulis, script writer juga…Dan…dia mencoba untuk ngontaminasi saya :))

  5. rinurbad said: Syukurlah, Tah. Lha emang aku mencoba mengontaminasimu? Kapan?

    mungkin Teth nggak ngerasa ngontaminasi saya…tapi, saya menganggap seperti itu…yeah, lewat motivasi2 Teteh…undirectly :))

  6. rinurbad said: Oo..duileh, motivator kali..syukurlah kalo ada manfaatnya.

    hehehe…do you wanna be my advisor in writing, of course???:))Thanks bunch, Teteh :))

  7. wahyuningrat said: terimakasih sudah datang lalu. senang banget bisa ketemu kamu. diskusi yang menarik kemarin di surabaya yang asyik.

    Yahaaa…sang penulis datang juga!!!Semoga bisa ketemu lagi di lain kesempatan, Mas Wahyu…Maybe when you launch another book. Ameen…

  8. adeptlenggana said: Wahahaha, gile lo pake bolos. Thanks ya mas , nice meeting you di acara kemarin. Nanti fotonya gw tag dah. Veel success buat proyeknya!! GroetjesAdept

    yaaa…gpp bolos, demi masa depan!hahaha…matur nuwun, Mas Adept. Wish u still luck too…

  9. wahyuningrat said: wah senang banget kamu sekaligus dapat proyek di acara itu. semoga gak sia2 kita jadi bikin kamu bolos hehehe.. sukses selalu dengan proyeknya yah…

    Insya Allah nggak sia-sia…*Allah sendiri udah ngejanjiin kan??**sambil nunggu deal proyeknya*

  10. bruziati said: uhuy…wahyu dapet penggemar baru nihhhh 😀

    hahaha…baru tahu kalo Mas Wahyu juga orang di belakang layar kayak Mbak Uci :))

  11. aaqq said: gile.. ampe bolos..dan ternyata emang gak sia-sia..selamat 🙂

    yahaaa… bolos yang lebih bermanfaat… sebuah pilihan yang kadang tidak terlalu mudah :))*para dosen saya, maklumi ya* :))

  12. Makasih, Tah, atas supportnya yang luar biasa! Gutlak proyek barunya ya. Trus kapan dong mas Lafatah ikut nulis buku juga? hehe. Amiiiin !groetjes,Nisa Riyadi

  13. hmmmm… kapan ya???doakan ya tahun ini bisa keluar… doakan :))sayang ya mbak nisa nggak hadir… moga di buku dan talkshow berikutnya, saya bisa ketemu dengan mbak :))

  14. tapi kan kak pandu masih belum pulang? barusan kemarin sih kenalan sama wahyu dan adept via MP (kayaknya adept belum jawab deh). btw, mbak anis penulis satunya tahu gak MP-nya?

  15. Oooh…begono. Iya, katanya, Mas Pandu masi lanjutin S3-nya di Belanda. Mbak Nisa di Meksiko. Mereka berempat ada kok MP dan FBnya. :)kalo Mbak Nisa, MP-nya annisatyas.

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s