Mawar Bersayap

Di pinggir sebuah danau, tumbuhlah sekuntum mawar merah. Parasnya elok menyaingi bebungaan di sekitarnya. Melati saja minder meski ia tahu dirinya lebih wangi daripada mawar. Tapi, selama ini orang-orang lebih suka dengan mawar. Bahkan, dua hari yang lalu, segerombolan anak TK asyik berfoto-foto bersama si mawar. Melati hanya bisa terpaku menyaksikan.

Senja berlabuh di danau. Rona lembayung menghampar di atas permukaan danau yang tenang. Angin semilir bertiup, menimbulkan riak-riak kecil. Semua makhluk di sekitar danau, termasuk mawar merah dan melati menikmati keindahan sore yang senantiasa berulang itu.

Melati melirik mawar merah. Ia yang selama ini lebih banyak diam karena minder membuka percakapan, akhirnya tak tahan.

“Mawar, bolehkan aku bertanya satu hal?” Melati berkata tenang.

“O, silakan! Bertanya banyak hal juga tidak apa-apa,” ujar mawar dengan nada sedikit pongah.

“Apakah kau bahagia?”

Singkat. Tajam. Melati kembali terdiam. Menunggu jawaban dari mawar.

Mawar sendiri tercekat. Tidak menyangka pertanyaan melati begitu dalam. Dia bingung. Hendak menjawab apa dirinya.

“Apakah kau bahagia?” Sekian lama mawar tak berkata, melati mengulang tanya.

“Apakah alasanku untuk tidak bahagia? Orang-orang menyukaiku. Mereka senang dengan parasku. Bahkan, sayang jika melewatkan kesempatan berfoto denganku. Aku bisa membuat mereka senang. Tidakkah itu cukup untuk mengatakan bahwa aku memang bahagia…”

“Tapi, aku pernah menjumpai kau berwajah murung. Saat itu, kau habis bertukar cerita dengan si Jenjang, Bangau. Aku sendiri yang menangkap dengar, sangat tertarik dengan pengalamannya terbang. Dari atas, dia bisa melihat sekalian penjuru alam. Dua sayap. Itulah kelebihannya.”

“Kau benar-benar memperhatikanku?” tegas mawar.

“Iya. Aku pikir, kita punya kecemburuan yang sama. Aku juga ingin sekali melihat dunia. Tidak hanya tertanam di sini sejak lahir hingga mati secara alami. Itu pun kalau tidak ada yang iseng merenggutku. Bagaimana denganmu?”

“Sebenarnya, aku lebih dahulu memikirkan hal itu. Sejak lama aku ingin berjalan-jalan. Aku iri dengan para burung. Dengan sayapnya, mereka bisa terbang bebas. Melihat warna-warni dunia. Sementara aku? Cuma berdiri di sini, entah sampai kapan. Sangat menjemukan. Aku merasa Tuhan tidak adil.”

Matahari telah tenggelam dengan sempurna. Malam merentangkan kegagahannya. Satu dua bintang mulai menjentik-jentikkan cahayanya di atas langit. Melati sendiri bersiap merengkuh dirinya dalam mimpi. Sebenarnya ia sendiri tidak setuju dengan kalimat terakhir si mawar. Tapi, dia merasa akan percuma berdebat dengan mawar. Kesombongan lebih mendominasi temannya itu.

“Aku ingin punya sayap! Tuhan akan lebih adil jika menjadikanku dengan sepasang sayap yang indah!” teriak mawar, menutup percakapan.

Tengah malam, cuaca mendadak menakutkan. Tak ada lagi langit yang cerah. Tergantikan awan yang datang bergulung-gulung, dari entah. Danau beriak, bersorak dengan kecipaknya. Sepertinya, sesuatu yang buruk akan terjadi.

Melati telah terjaga sedari tadi. Ia merasakan dingin yang tak biasa. Tubuhnya juga oleng, diliukkan angin. Angin? Tidak! Ini badai. Untung sebuah pohon melindungi tubuh ringkihnya. Paling tidak, ia masih aman. Tapi, kalau pohon besar tersebut tumbang, habis pula riwayatnya.

Melati ingat percakapannya dengan mawar menjelang malam itu. Dia menolehkan pandangan ke arah mawar yang berada tidak jauh darinya. Tapi, yang dia lihat hanyalah sebuah tangkai yang terombang-ambing kena jilatan badai.

“Ke mana mawar?” tanya melati pada dirinya sendiri. Cemas.

Dia kembali memastikan bahwa tangkai itu pun bukanlah tempat mawar bercokol.

Keesokan paginya, cuaca kembali tenang. Suasana di pinggir danau agak berantakan. Banyak daun-daun yang mengapung di atasnya. Ilalang juga ada yang tercerabut dan terhempas hingga masuk ke dalam air danau. Satu hal yang membuat melati terhenyak, dia melihat berhelai-helai mawar tertabur di atas danau. Lalu, ia kembali memandang tangkai yang kini telah ditinggalkan penghuninya.

“Tuhan telah mengabulkan keinginan mawar. Sayang, pengalaman terbangnya hanya sejauh ini.”

Iklan

13 thoughts on “Mawar Bersayap

  1. siiiippp…begitulah.ini cuman eksperimen saja. kebetulan tadi sore baca fabel yang tokoh2nya para hewan. kenapa nggak tanaman aja, gitu?hehehe… inilah hasilnya… hope you enjoy it ^_^

  2. saia juga pernah buat cerpen yg tokoh utamanya tumbuhan(ilalang)tpi blum nemu ending yg paz.bisa di baca di MP q ‘hanya ilalang’. gag bz ngasih link soalnya via hp^^v

  3. bagusss…..aku kok nangkep ada kesan yg lebih deep yah…hohohokayak manusia yg punya banyak keinginan tpi lom tentu semua indah klo keinginan itu terkabul…naasnya…manusia sering kali marah ke tuhan krn gk dikabulingak tau deh klo km nangkep na gmn dek^_^

  4. @Mbak Avis: no more words, you have appreciate my story well. Seperti itulah yg ingin sy sematkan dalam cerita ini. Tentunya, akan banyak interpretasi yg muncul. Thanks ya Mbak…

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s