Penat

Hari ini lumayan penat. Ujian Ekonomi Politik Internasional – yang paling momok – akhirnya terlewati juga. Tidak seseram yang saya bayangkan. Mas Joko Susanto – sang dosen – tidak sampai menikam kami dengan pertanyaan-pertanyaan menusuk. Justru, kami diberikan masukan yang sangat berharga. Makalah kami dibedah satu per satu, diberikan saran, kritik, juga masukan. Sempat ditanya juga ini itu, tapi sejauh ini, tidak ada kendala. Perkiraan saya, bisa jadi Mas Joko mengejar kami dengan pertanyaan-pertanyaan, karena tidak ada yang distinct dari makalah kami. Bisa jadi. Apalagi topik yang saya ambil, diambil pula oleh 13 anak lainnya. Dibagi jadi dua sesi. Saya masuk sesi kedua. Nah, mungkin jenuh membahas topik ini, akhirnya sesi kedua berlangsung biasa saja. Mungkin begitu

Mata kuliah EPI ini memang paling tidak saya mengerti dan tidak tertarik dalam semester 4 ini. Jujur, saya kurang tertarik dengan bahasan ekonomi. Belum lagi dicampur oleh materi politik. Belum lagi skupnya yang global. Ekonominya sendiri sudah bikin saya pusing. Saya tidak tertarik. Terus, kenapa EPI saya ambil? Alasan paling masuk akal adalah ini mata kuliah WAJIB!

Selama 13 kali pertemuan, sungguh saya baru konsentrasi belajar pada BEBERAPA HARI belakangan ini. Hal-hal yang tidak saya mengerti selama perkuliahan – karena memang nggak tertarik – terpaksa saya tertariki . Meskipun tentu saja, dari beragam topik yang ada, hanya materi NEOLIBERALISME yang bisa memancing keingintahuan saya. Tadi sore, pertanyaan itu pula yang ditanyakan oleh Mas Joko: KENAPA ANDA TERTARIK MENGAMBIL TOPIK INI?! Rata-rata kami menjawab: KARENA EMANG SEKARANG LAGI BOOMING NEOLIBERALISME. BOEDIONO GITULOH!!! Tapi, sebenarnya, jika para calon presiden dan calon presiden itu menyadari, dalam masa pemerintahan mereka sebelumnya, pernah kok ‘BERCIUMAN’ dengan neoliberalisme. Kalau Boediono di-judge sebagai pengusung nilai neolib, kenapa Mega sampai menjual aset BUMN ke perusahaan asing, ketika dia memerintah??? Bukankah itu neolib banget!!! Privatisasi! Yusuf Kalla pun demikian.

Well, saya tidak ingin membahas hal ini lebih jauh. Saya lagi capek. Penat. Tadi saja, begitu selesai ujian, saya dan tiga orang teman jalan-jalan ke Hi-Tech Mall. Nemenin beli so-dimm, RAM buat laptop. Setelah itu kami makan di KFC. Ditraktir sama teman juga. Nah, sekarang ini, kami pun nongkrong di Togamas Petra. Menikmati akses WIFI gratis

Besok hari penyontrengan!!!

SELAMAT NYONTRENG TEMAN-TEMAN….

Iklan

6 thoughts on “Penat

  1. @mbak sinta: justru neolib itu gak cuma masalah ekonomi (yg diusung oleh liberalisme klasik). Kata ‘neo’ di depannya menunjukkan bahwa semua bidang kehidupan manusia diekonomisasikan. Entah itu pendidikan, politik, hukum, budaya, etc*hehehe*

  2. kok manggil dosen Mas sih??…..biasanya khan Pak..!…hehe…emangnya dia masih muda??……..btw, siapa tahu entar Mas Joko berevolusi jadi Mas Jecko……..hahahaha……..entar gak ngajar, malah nyanyi di depan kelas…….wkwkwkwk :p

  3. Betul! Beliau masih muda. Sudah menyandang S-2 dari LSE pula. Pintar banget pula.*kagum mode ON*Kalo urusan nyanyi, beliau bisa nggak ya? *masih meragukan*hahaha

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s