Four People I Met in The Train (Seorang Laki-laki yang Malang-melintang di Papua)

Orang kedua yang menjadi teman ngobrol saya di kereta adalah seorang mas-mas asal Tanggul, Jember. Sama seperti bapak sebelumnya, perkenalan kami dimulai dengan bertanya perihal stasiun berikutnya. Lalu, meluncurlah kisahnya yang terus saya pancing dengan bertanya.

Dia seorang suami dengan satu anak. Saat ini dia bekerja sebagai pedagang sendal di Pasar Wonokromo, Surabaya. Saat saya bertanya mengenai apa pekerjaannya tersebut, dia seperti agak sungkan menyebutkannya. Saya berusaha menunjukkan ekspresi bahwa selagi halal, kenapa tidak dijajal. Saya menghargai sekali kejujurannya berikut penuturan selanjutnya mengenai kisah hidupnya.

Dia lahir di Tegal, Jember. Begitu lulus SMP, dia ‘minggat’ ke Jakarta. Bukan sembarang minggat. Tapi, dia tidak mau bergantung pada orang tuanya lagi. Dia ingin bekerja. Begitulah. Hingga dia pun terdampar di sebuah restoran di Jakarta sebagai pelayan.

Pada tahun 1990-an, dia pun berangkat ke Fak Fak. Dia ikut sebuah PT yang mengelola usaha perkebunan kapas dan cokelat. Empat tahun di sana, kalau saya tidak salah tangkap, dia pun pindah ke Jayapura. Insting bisnisnya bekerja: menjadi penjual bakso. Ternyata, di Jayapura, penjual bakso banyak juga. Saingannya ketat. Menjadi supir angkot yang selama ini dikuasai oleh orang-orang Batak dan Madura, sepertinya kurang menarik minatnya. Akhirnya, dia pun pindah ke Wamena. Ada proyek pembangunan jalan di sana. Dia bukan jadi kuli, melainkan sebagai tukang masak.

Lama di Wamena yang memiliki panorama alam yang eksotis, yakni Puncak Jaya Wijaya yang tertutup salju, Mas ini pun memutuskan pulang ke Tanah Jawa. Beberapa bulan tinggal di desanya, akhirnya dia berangkat ke Malaysia, menjadi kuli proyek di Kuala Lumpur. Hampir 10 tahun di sana. Kemudian, pada tahun 2005, dia pun pulang ke Indonesia.

Pada tahun 2007, dia berhasil mempersunting seorang gadis, anak keluarga kaya di Wonokromo. Enam bulan umur anaknya yang pertama, dia bersikeras untuk keluar dari rumah keluarga sang istri. Dia memaksakan diri untuk tinggal di kosan saja. Dia cerita, istrinya awalnya menolak. Tapi, Mas ini berdalih bahwa tidak enak terus-terusan di rumah mertua. Lebih plong rasanya jika tinggal di rumah sendiri – meski, katakanlah itu masih ngontrak atau sekadar ngekos.

Satu kalimat yang meluncur dari bibirnya dan saya rekam dengan baik di kepala adalah, “Saya ingin mandiri.” Tampaknya, sejak lulus SMP hingga kini dia berumah tangga, ia telah menunjukkan KEMANDIRIAN itu. My big salute to him!

Iklan

4 thoughts on “Four People I Met in The Train (Seorang Laki-laki yang Malang-melintang di Papua)

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s