Mubazir + Instan = This is My Thought!

Di rumah, tiap pulang kampung, saya senang. Sebab, urusan makanan, saya tidak perlu seberpikir pas ngekos untuk mendapatkan dan menghemat pengeluaran. Apa yang tersedia di meja makan, akan saya sambut dengan lahap. Meski demikian, porsi masakan yang terkadang berlebih, itulah yang agak saya sesalkan. Jadi mubazir.

Kami, keluarga besar. Ada sekitar lebih dari lima orang sebagai pengonsumsi tetap masakan di rumah. Itulah sebabnya, jika memasak, mesti dalam porsi yang agak besar. Apalagi jika handai-taulan berdatangan, sudah pasti makin banyak yang dimasak.

Jika semuanya habis terlahap, bagi saya, itu bukan masalah. Tapi, akan menjadi sesuatu yang saya sesalkan dan kesalkan, jika makanan yang tersisa lumayan banyak. Dulu, saat kami berada di rumah lama, dekat dengan perkampungan yang kami akrab satu sama lainnya, kelebihan makanan ini bisa disiasati. Jika tak habis, masih ada tetangga-tetangga yang bisa kami kirimkan. Namun, sekarang di rumah baru, karakter orangnya belum kami kenal amat, mengirimkan makanan untuk berbagi, masih kami pikir ulang. Maukah mereka?

Apalagi setelah ada ‘manusia-manusia baru’ di rumah kami, kemubaziran itu makin ditoleransi. Sangat berkesan, di mata saya, buang-buang duit saja. untuk urusan minuman saja, misalnya, mesti pakai air mineral gelas, semacam aqua, netral, narmada, atau mereka lokal lainnya. Kenapa sih tidak minum saja dari teko? Padahal ada di dapur? Padahal seringkali air mineral dalam gelas plastik itu disisakan, tidak dihabiskan. Bahkan, hanya diminum seperempatnya, lalu ditinggal. Bukankah itu mubazir? Itu dibeli dengan uang. Mending sisa airnya diminum. Ini tidak. Ambil air mineral gelas yang baru, tusuk pakai sedotan, minum lagi dengan bersisa. Sampah! Benar-benar mendulang sampah. Produktif sekali dalam hal beginian!

Kadang, bukannya sok hemat atau bagaimana, saya minum sisa-sisa di gelas air mineral itu. Bahkan, jika ‘manusia-manusia yang lain’ minum air mineral gelas, saya ke dapur, mengambil gelas biasa, dan menuangkan air dari teko. Mau nambah berapa gelas pun, tidak masalah. Gelas dicuci, pakai lagi kapanpun diinginkan. Lha, kalau gelas air mineral? Sekali sedot, tandas nggak tandas, gelasnya dibuang. Mending orang rumah pada kreatif bikin kerajinan tangan, ini tidak. Semuanya berakhir di keranjang sampah. Sangat produktif sekali dalam hal beginian.

Saya marah. Marah pada diri saya sendiri. Marah pada orang-orang yang senang serba-serbi instan. Siapa tahu terbersit di kepala Anda, “Kenapa nggak kamu saja, Tah, yang bertindak? Kenapa nggak bikin perubahan? Kenapa hanya bisa mendumel lewat tulisan?” Ya, saya paham. Paling nggak, saya telah mengawalinya pada diri saya sendiri. Diri saya sendiri. Lewat diri saya sendiri, orang-orang akan berpikir ulang akan tindakan mereka selama ini. Bukan berarti saya yang paling benar, tapi saya hanya mengajukan alternatif yang menurut saya bisa dibenarkan.

Oya, hari Minggu besok, kami akan mengadakan begawe alias pesta syukuran atas pernikahan kakak saya. Seperti biasa, makanan adalah hal yang krusial. Dan, saya hanya bisa berharap, makanannya merata, semua dapat, dan… tidak ada sisa. Mubazir itu, sangat eman, apalagi bagi mereka yang sedang jadi anak kosan. Upsss… Anak kosan, salah satunya. Bagi mereka yang ‘masih untung bisa makan dua kali sehari’ pun, kelebihan makanan itu… sangat eman.

Hei, keluargaku. Kembalilah ke alam. Slow itu bagus!

Iklan

7 thoughts on “Mubazir + Instan = This is My Thought!

  1. iya,sayang banget ya tah,di rumah juga kadang mubazir makanan, hiks..di rumah sih yg minum aqua cuma nai..kenapa ga pake galon tah,lebih irit dari aqua gelas?

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s