[Aceh] Peu Haba?

Berapa kilo jarak Lombok – Aceh?

Saya sendiri tidak tahu persis. Tidak juga tergerak untuk menghitungnya lewat aplikasi google maps. Yang pasti, butuh beberapa hari perjalanan ke sana.

Pada seorang kawan yang berasal dari Aceh, saya seringkali mengungkapkan keinginan saya untuk berkunjung ke Tanah Rencong itu. Bagi saya, Aceh memiliki magnet yang luar biasa. Aceh itu unik. Unik dalam banyak hal. Meski saya tidak tahu secara persis dan detil, tapi hati saya mengatakan: Aceh itu luar biasa.

Saya tak bermaksud membandingkan daerah saya dengan Aceh. Jelas saja, Lombok masih harus belajar sejarah dari Aceh. Buku-buku pelajaran saya sewaktu SD, terutama pelajaran IPS, banyak mengupas Aceh. Kerajaannya, kemasyhurannya, riwayat perdagangannya, perjuangan para pahlawannya melawan penjajah, dan banyak lagi.

Siapa yang tak kenal Cut Nyak Dien, yang bahkan pernah diperankan dengan sangat baik sekali oleh Christine Hakim dalam film berjudul sama? Siapa yang tak pernah mendengar atau sekadar melihat foto Masjid Baiturrahman, yang meski tsunami datang menerjang, ia tetap berdiri kokoh? Siapa yang tak kagum dengan tari Saman, yang walaupun baru sekali saya saksikan secara live di kampus, namun mampu membuat saya berdecak kagum?

Aceh. Teramat layak menyandang status sebagai Daerah Istimewa dari pemerintah Republik Indonesia.

Saya belum pernah ke Aceh. Tapi, di lubuk hati yang paling dalam, saya ingin berkunjung ke propinsi yang telah menerapkan syariat Islam itu. Saya ingin merasakan udara Aceh secara langsung. Saya ingin berinteraksi dengan warganya yang pernah saya curi dengar, khas bahasa Melayunya. Siapa tahu mie Aceh dan kopi Aceh yang termasyhur itu bisa saya cicipi langsung dari mereka. Entah kapan semua itu bisa terealisasikan. Saya akan tetap menyimpan asa.

Sedikit flashback. Sejak kecil saya sebenarnya telah akrab dengan kata “Aceh”. Bukan karena di tubuh saya mengalir darah keturunan Aceh. Bukan. Apa sebab? Keluarga saya kerap menyebut tomat sebagai terong aceh. Mungkin karena nama yang pas belum diketemukan. Kalau saya boleh bertanya pada orang Aceh asli, tomat itu bahasa Acehnya apa? Terong sendiri, bagaimana? Jangan sampai kelak jika ada orang Aceh yang singgah di rumah saya, lalu tertawa terpingkal-pingkal sembari berkata: “Terong aceh tak lah kayak begini?” Hehehe…

Satu lagi “Aceh” yang akrab di telinga saya. Tapi, usah diketawakan ya? Sebab, “Aceh” di sini nama orang. Pak Aceh, namanya. Beliau adalah kawan bapak saya di kantor Departemen Agama Kabupaten Lombok Timur. Saya sendiri pertama kali mengetahui nama beliau, tak kuasa menahan senyum. Namanya kok lucu begitu, ya? Saya membayangkan jika ada orang-orang yang bernama Pak Jawa, Pak Ambon, Pak Borneo, Pak Papua, Pak Bali?

Sebab kata “Aceh” bukan hal asing di telinga saya, maka Aceh yang sebenarnya, yakni nama sebuah propinsi yang beribukota Banda Aceh itu, semakin memompa keingintahuan saya. Seperti apakah topografi Aceh? Bagaimana kondisi cuacanya? Apakah orangnya ramah-ramah? Apakah arti kata “Aceh” sebenarnya? Bagaimana potensi sumber daya alamnya? Apakah nuansa Islami yang menyejukkan akan diaurakan oleh Aceh?

Ribuan pertanyaan tentang Aceh berputar-putar secara acak di kepala saya. Ingin rasanya ada seorang informan di samping saya yang paham dan mengerti betul tentang Aceh. Jadi, apapun yang tiba-tiba mencuat di pikiran saya mengenai Aceh, bisa saya tanyakan langsung padanya.

Maaf, bukan hendak saya untuk membangkitkan kenangan kawan-kawan yang berasal dari Aceh mengenai tsunami. Namun, ada satu pertanyaan yang sampai detik ini menggelitik saya. Orang-orang mungkin pernah mempertanyakan hal yang sama: mengapa tsunami bisa terjadi di Aceh? Mengapa Aceh, bukan daerah yang lain? Padahal, sepengetahuan saya sebagai orang awam, warga Aceh sangat teguh pada ajaran Islam. Julukan “Serambi Mekah” sudah cukup mewakili. Oleh sebab itu, orang awam seperti saya tentunya akan tergelitik, Allah pasti akan meridhai dan terus menyayangi Aceh? Lalu, kenapa tsunami mesti melanda Bumi Nanggroe Aceh Darussalam?

Sungguh, bukan maksud saya untuk mencecar ataupun menjatuhkan justifikasi. Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya melontarkan tanya. Meski di dalam hati kecil saya, terlalu banyak bertanya juga kurang baik. Sebab, ada hal-hal yang memang ‘terang’ penjelasannya. Namun, ada beberapa hal lain yang cukup menjadi rahasia-Nya saja. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Jika suatu kelak nanti, saya ditakdirkan menjejakkan kaki di Bumi Aceh, saya akan mencoba mempraktekkan satu-satunya kalimat bahasa Aceh yang sering saya gunakan di sms, “Peu haba?

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Menulis Tentang Aceh yang diadakan oleh Bang Yudi Randa.

Iklan

42 thoughts on “[Aceh] Peu Haba?

  1. Pu haba mas,gak pake k.skadar koreksi dari org aceh:-)mngapa aceh yg tsunami..1 hari setelah peristiwa itu sy berfikir hikmah apa di balik ini,dan skg qt tau semua.perdamaian,ketenangan akhirnya hadir di aceh.insya Allah selamanya

  2. Tulisan yang menarik. Ternyata Fatah masih turunan Aceh ya.Bagus nih.masuk dalam 12 peserta pertama, berarti berhak atas bross pintu kayu. selamat ya.*mewakili bang Yudi* 😀

  3. @mbak Rin: wow, dapat bros ya? hehehe…buat adek saya dah ntar. sedikit koreksi, saya nggak ada sama sekali turunan darah Aceh. Bapak dan ibu saya orang Lombok asli. Kakek nenek setelah ditelusuri, pun begitu.

  4. @mbak Rin: wow, dapat bros ya? hehehe…buat adek saya dah ntar. sedikit koreksi, saya nggak ada sama sekali turunan darah Aceh. Bapak dan ibu saya orang Lombok asli. Kakek nenek setelah ditelusuri, pun begitu.

  5. Tah..saya sudah pernah nyampai surabaya dan insya allah akan ke daerahmu..kapan giliran mu tah???masih inget tips2 saya bisa ke sampai kesana?? nah pake cara yang sama juga tahtulisanmu mantab..bikin daku tersenyum…terimoeng geunaseh beurayek that beuh Gam 😀

  6. oh ya..lupa euy..tomat aceh itu karena bentuknya tidak bulat pasti seperti kembang kan? ada ruasnya kan?nah klo di aceh yang namanya terong ya terong ungu itu Tahbahasa acehnya “boh trueng” hehehe

  7. Terimoeng geunaseh beurayek = terima kasih banyak?Yeahaaa…nambah lagi kosakat Aceh.Btw, saya juga kepikiran utk melakukan hal yang sama. Silaturrahim ala MPers, why not?Sementara ada yg ikut lewat HC, nah kita punya MP. Hehe…Ya, tinggal giliran kau yang maen ke Lombok. Be ready! :))

  8. In my bahasa, tomat secara umum disebut terong aceh. Bukan karena bentuknya tidak bulat ato kembang. Entah itu tomat biasa, tomat buah, atau tomat hias yang kecil2, teteup disebut terong aceh.Entahlah, siapa yang ngasih nama. It taken for granted. Hehe

  9. lafatah said: Berapa kilo jarak Lombok – Aceh?

    kalo kilonya saya jg gak ngarti…tp AlhamduliLlah dulu pas masih di Aceh pernah berkesempatan menempuh jarak Aceh-lombok. Dari Banda Aceh ke Medan: ngebis 1 malam (sekitar 9jam sih), dari Medan ke Bali naik pesawat (kurang lebih 3jam kalo gak salah, soalnya ngbingungin jamnya beda:D ), dari Bali ke Lombok naik kapal ferry (ini asli lupa, tp kayaknya kurang dari 4jam deh). Rute dari lombok-Acehnya sama, tinggal di balik. pesan buat fatah, kalau Yudi nanti ke lombok, gak usah di bawa ke laut, di aceh juga banyak ;p mending diajak jalan2 keliling naik delman atau kuda…;-) di aceh gak ada kuda delman, adanya labi-labi :p tp gpp juga denk ke senggigi…pemandangannya beda dan lebih tertata. jaman dulu ajah laut di lombok jauh lebih terorganize ketimbang laut di Aceh atau Sumut, sekarang mungkin jauh lbh cantik lagi 🙂

  10. Wah, terima kasih banyak atas info dan sarannya. Sangat berharga.Btw, labi2 itu kayak apa ya, Bund?Satu lagi, kata si empunya lomba, pantai di Aceh ama Lombok emang gak kalah saing. Tapi, bisalah dicoba ke Senggigi atau Kute di Lombok Tengah :).

  11. Subhanallah, ga nyangka ada orang di luar sana yang sangat ingin tau & ingin datang ke Aceh ^_^Tulisannya Bagus, saya sangat terkesan…Salam kenal dari Gadis Aceh 🙂

  12. Sebenarnya panggilan di Aceh itu ada beberapa (berdasarkan daerahnya).Pun demikian dengan bahasa Aceh yang banyak ragamnya, Jangan kan non Aceh orang Acehpun terkadang tak begitu paham dengan bahasa2 tersebut.

  13. Tak jauh beda kalo gitu.Sebab, masyarakat Sasak sendiri memiliki banyak dialek, dan bahasa ungkap yang berbeda.C’est ne pas problem…Untung qt punya bahasa Ind0nesia.

  14. cahayaarum said: mang peu haba apaan sih artinya????????

    Peu haba = Apa kabar???Kalimat ini saya peroleh di Majalah Annida. Waktu itu ada kontributor yang meliput ttg Aceh 🙂

  15. kangkhalifah said: salam ukhuwah dari anak “aceh coret”. ahaha…semoga ada kesempatan silaturahim ke Aceh bang 🙂

    Salam ukhuwah juga, Bang…Amiiin… Semoga suatu hari nanti saya bisa berkunjung ke daerah Anda 🙂

  16. Sedikit ulasan dari pertanyaan kecil anda di atas yg mgkin membutuhkan jwban yang besar.
    ‘kenapa tsunamy melanda Aceh yg di Aceh sendiri kental dg syariat islam’ .

    Mgkin jwbanya kurang sdikit begini, kita umpamakan seekor ayam yang kata kasarnya ngeberak di teras rumah mewah yg tentu berkeramik kita misal sebagai misal,
    Kira2 ayam tersebut kita usir kagak ya?

    Sebaliknya ayam ngeberak di dalam kandangnya apakah kita juga mengusirnya? Tentu tidak.

    Gitu juga perbandingan Aceh serambi mekkah dg tempat2 lain.

    Bumi Aceh serambi mekkah kagak pernah nerima perbuatan2 keji,,

    Mgkin masa itu penghuni bumi Aceh pada bnyak yg melanggar aturan agama islam, otomatis aceh telah kotor dg perbuatan keji dan mungkar, allah membersihkan Aceh sbgaimana mengusir ayam yang ngeberak di lantai tadi,

    Sdg tempat yang pantas ayam ngeberak ya silahkan, kita kagak ngeusir tu ayam, begitu juga perbandingannya.

    Mgkin dg sdikit coretan ini kta dapat memahaminya,

    Salam PUTRA ACEH

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s