Bermain Ombak yang Tidak Main-main

inilah posisi saya sebelum ombak menerjang

Saya baru menyadari kekuatan ombak setelah mengalami insiden ‘kecil’ di Tanjung Papuma, Jember. Saat itu, saya dengan sok berani (mungkin karena ada dua cewek di situ), berjalan agak ke tengah dari bibir pantai. Pantainya berbatu-batu, ada yang agak landai dan menjorok. Sementara empat teman saya yang lain hanya berdiri saja agak di pinggir pantai, salah satunya sibuk dengan kamera, siap membidik saya.

“Eh, fotonya pas ombak tepat di atas kepalaku, ya?”

“Oke!” kata Nino, teman kuliah saya tersebut.

Saya pun menunggu ombak yang datang bergulung dari arah belakang saya. Memang, Tanjung Papuma terkenal dengan ombak Selatannya yang agak ganas. Besar-besar dan menghempaskan. Saya pikir, meskipun kena terjangannya, saya akan tetap berdiri kokoh, tak tergeser.

Tak berselang lama kemudian, saya melihat ombak mulai datang dari arah selatan. Sepertinya, ketika nanti bertabrakan dengan lempengan batu yang saya pijaki, ombaknya akan berhamburan ke atas dan bergelung di atas kepala saya. Pasti cantik. Apalagi kalau tepat waktu jepretnya.

Saya harap-harap cemas sekaligus bangga.

Satu… dua… tiga…

Sang ombak benar-benar besar. Saya mengambil pose jongkok. Ada yang bilang, “Iiiih… kayak kodok!” Di hati saya sudah terbayang, ini akan menjadi foto terkeren saya di Tanjung Papuma.

Byuuuuurrr…. Hmmmpssss…

Apa yang terjadi?

Ombak menghantam punggung saya. Beberapa detik tergelung dalam ombak. Terseret. Kaki saya terantuk di karang. Sendal jepit saya putus. Saya mulai istighfar.

“Astaghfirullah…”

Teman-teman saya mulai berteriak. Menanyakan apakah saya tidak apa-apa. Bahkan, sempat pula mereka terbahak-bahak. Bahakan yang gusar, tapi.

Menyadari ada yang tidak beres, saya segera ke pinggir. Menghindari lempengan batu yang saya pijaki sebelumnya. Saya duduk di sebuah gundukan batu. Tercenung. Wajah pucat. Hati berdebar. Saya lirik punggung kaki kanan saya. Lecet. Bercak darah melintang.

Sekali lagi, saya istighfar. Teman-teman mengerumuni saya. Nino bilang, “Fotomu keren!” Saya tak hirau. Dua teman cewek risau, “Kakimu diobati pakai apa?” Saya menggeleng. Justru saya lesakkan kaki kanan yang lecet itu di pasir. Biar darahnya tidak keluar, alasan saya.

Saya mulai mengatur napas. Ombak tadi kuat sekali. Saya pikir, tubuh saya ini bisa menahan terjangannya. Ternyata, saya memang ringan. 52 kg. Tapi, bukan itu saja yang berkecamuk di kepala saya.

Saya sombong. Menyombongi laut.

Lantas, saya teringat pada tsunami yang melanda Aceh. Saya bandingkan. Ombak yang tadi masih belum seberapa, namun mampu menyeret saya. Tsunami?

Astaghfirullahal ‘adziiim…

Sungguh tak pantas manusia sombong atas apa yang dimilikinya. Sebab, semua milik Allah, dan pada-Nya semua akan kembali.

Iklan

13 thoughts on “Bermain Ombak yang Tidak Main-main

  1. Masya Allah, serem jg pengalamannya (kebetulan ane takut ama laut & ombak besarnya, makanya gak bisa renang :P)Syukurlah dirimu ditegur oleh Allah dengan segera, untuk lbh mensucikan hati lagi khususnya di bulan Ramadhan ini. Hati2 ya..kali maen ke laut lagi :-))

  2. iya, mbak.pelajaran banget buat saya.makanya tiap kali berada di atas laut, entah pada perjalanan mudik atau balik, saya selalu mencoba mengingatnya…waspada terjadi apa-apa.semoga ya hati kita senantiasa bersih, tak hanya di bulan Ramadhan ini, tapi juga post-ramadhan… amiin

  3. Karena menantang, ya…Kalau aku, kemarin malah ‘didorong’ suami untuk nyobain ombak (mumpung sepi juga). Maklum, selama ini jarang mau nyebur padahal sering jalan ke pantai….

  4. nganterin obat tuk pasien khusus yg kagak bisa kluar penjara (lha wong lagi ditahan seh ya)trus ma jalan2…hahah….liat aja foto2 narsis gak jelasnya. kena ombaknya gk tah..abis fotona deket pisan loh

  5. owalah… tapi seru euy ketemu ama beragam manusia…iyah, ombaknya ituh bener2 daaah…bikin keder euy!kapok gw sombong di laut :)makanya, ada orang yang bilang, jaga omongan kalo di laut. setuju?

  6. hahaha… itu mah, kerjaan Mbak Avis, sombong di jalan.Ato, naek onthel di pematang sawah dengan kedua tangan terbuka ke udara, beuuuh… abis itu, nantangin para petani, “lihat nih gaya gw, lo lo berani kagak?”:D

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s