[Catatan Ramadhan] Hari Pertama yang Menggelora

Begitu matahari tenggelam kemarin petang (21/08), saya telah bersiap. Mengenakan baju koko yang selama ini lebih sering ngumpet di lemari pakaian. Mematut diri di dalam bayangan (membayangkan diri di depan cermin), oke, segera ke Masjid Nuruzzaman, masjid Universitas Airlangga. Azan isya telah dikumandangkan.

Sepanjang perjalanan dari kosan menuju Nuruzzaman, saya temui orang-orang yang juga berniat sama dengan saya. Yang perempuan bermukena putih, keluar dari pintu rumah. Ada yang berjalan berlawanan dengan saya, menuju masjid di tengah kampung. Ada pula yang searah dengan saya.

Di jalan Darmawangsa, dari arah selatan, warga sekitar kampus juga tampak berduyun-duyun. Tujuan kami rupanya sama. Saya menyeberang jalan, ikut bergabung dalam rombongan mereka, namun akhirnya mempercepat jalan.

Serambi Nuruzzaman ramai, tidak hanya oleh kaum perempuan, namun juga anak-anak. Saya berwudlu terlebih dahulu, iqamah telah didengungkan. Saya masuk ke dalam ruang utama masjid. Mengikuti shalat isya.

Selanjutnya, ceramah pun digulirkan. Sepertinya dosen di lingkungan Unair yang jadi penceramahnya. Saya kurang begitu kenal.

Tarawih pun dimulaikan. 8 rakaat dengan 3 rakaat witir. Bacaan imamnya bagus. Pelan. Tiap selesai dua rakaat dan salam, rehat sebentar. Yang lain mungkin menggunakannya untuk berdoa, saya untuk menarik napas.

Pukul delapan usainya. Saya keluar. Bertemu dengan seorang kawan, anak Sastra Indonesia yang baru-baru ini lulus. Dia juga teman di FLP Ranting Airlangga. Bersama kami ke Munas II FLP beberapa hari yang lalu di Solo. Dia juga seorang penyair muda. Puisi-puisinya mantap, dikenal seantero Fakultas Ilmu Budaya Unair. Bahkan, dia pernah menjuarai Pemsiminas, berkat puisi yang ditulisnya. Kami pun berdiskusi. Obrolan kami tak jauh-jauh dari buku.

Pukul setengah sepuluh, saya pulang. Sampai di kosan, melanjutkan membaca novelnya Mbak Sinta Yudisia “The Road to The Empire”. Saya terbetot hingga setengah dua belas malam. Jatuh tertidur. Sebelumnya, alarm dinyalakan. Pukul 03.30.

Bangun-bangun, terdengar imsak. Saya lihat waktu di hp. Pukul empat lebih. Bingung sebentar. Mau sahur dengan apa? Bayangan lezat Quaker Oats yang dibelikan oleh bibi saya, segera buyar. Tak sempat turun ke bawah minta air panas. Itu pun kalau ada. Lalu, air mineral yang teronggok di depan segera saya raih. Masuk beberapa teguk. Alhamdulillah… Pasang niat puasa hari pertama. Klop sudah.

Subuh tertunaikan. Sambung lagi tidur hingga menjelang pukul sembilan. Ya ampun, ini sih puasa tidur namanya. Saya mengetes suara perut saya yang ternyata… tepat sekali! Baru beberapa jam lepas dari sahur sudah mulai keroncongan. Wah, godaan ini! Tapi, saya redam dengan kembali menengok “The Road to The Empire”.

Jam demi jam berganti. Ashar pun menemui. Kembali saya menekuri novel itu. Sembari menunggu adzan maghrib. Tepat pukul 17.31. Bolehlah saya membatalkan puasa. Kembali meneguk air mineral, lalu turun ke bawah. Keluar mencari nasi bungkus. Memang telah berniat membeli jus. Ternyata, jus pisanglah pilihan saya.

Tinggalkan untuk shalat maghrib. Mengambil dua item pesanan tersebut di warung. Kembali ke kosan. Menikmati buka puasa di hari pertama ramadhan. Lezat sekali.

Alhamdulillah…

Lalu mulai mengetik ini hingga adzan isya berkumandang kembali.

Saatnya menuju Nuruzzaman.

Salam Ramadhan!!!

Iklan

10 thoughts on “[Catatan Ramadhan] Hari Pertama yang Menggelora

  1. Enak kok, Dek.Bangeeet… Kata orang, makan pisang, entah yang masih segar ato dijus, bisa bikin tidur jadi lelap.Selain tentu saja rasanya enak dan bergizi pula…*salesman pisang*:D

  2. saur pertama jam 12 malam…ternyata bener feeling ku….jam 4 tepat..pasien melahirkan…hectic gk bisa minum lagi…untung dah sempet mipil makaneh..ada seh minuman gratis…bonus air ketuban ibumau?hehehe

  3. happywithavis said: saur pertama jam 12 malam…ternyata bener feeling ku….jam 4 tepat..pasien melahirkan…hectic gk bisa minum lagi…untung dah sempet mipil makaneh..ada seh minuman gratis…bonus air ketuban ibumau?hehehe

    ampunnn… mbak…kalo itu mah, gak usah dibagi-bagi…saya ikhlas kok!:Dtapi, luar biasa euy! puasa-puasa bantu ibu melahirkan… nama si baby pasti ada unsur “ramadhan”-nya ya?biasanya kan begitu :p

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s