[Catatan Ramadhan] Bocah yang Diam-diam


Tarawih telah usai. Witir telah ditunaikan. Aku masih duduk-duduk di shaf yang sama, sementara kiri kanan depan belakangku sudah kosong. Berhamburan keluar. Kutengokkan kepala kiri dan kanan, sang ustadz yang berceramah tadi masih duduk di depan. Masih ada segelintir orang di dalam ruang utama Masjid Nuruzzaman. Tapi, posisi mereka berpencar-pencar berjauhan.

Dari sebelah kanan, muncul seorang bocah. Kutaksir usianya, masih duduk di bangku SD. Atau mungkin kelas 1 SMP. Dia berkopiah putih, mirip pak haji. Pakai kaos hitam yang bertuliskan β€œ55” di belakangnya. Celana panjang cokelat.

Dengan ekor mataku, kulirik dia. Dia seperti orang yang bingung. Mau ngapain, masih belum jelas. Dia berdiri, tampak seperti orang yang gelisah. Lalu duduklah ia, mengambil tempat di dekat kotak amal.

Kok mencurigakan begitu gerak-geriknya.

Aku melihat sang ustadz penceramah sedang mengedarkan pandangannya ke belakang. Sebelumnya, seorang anak kecil menyodorkan buku kegiatan bulan Ramadhan-nya. Minta tanda tangan.

Wah, ini sih aktivitasku sewaktu Madrasah hingga SMP. Buku catatan kegiatan yang kadang-kadang datanya dipalsukan. Demi menambah nilai pelajaran Agama Islam.

Si bocah yang duduk di dekat kotak amal itu juga sesekali menengok ke arah sang ustadz. Aku pikir, dia kayaknya punya agenda yang sama dengan anak kecil itu. Tapi, buku catatan Ramadhan-nya kok tidak ada ya dia pegang? Aku bertanya-tanya.

Lalu, pandanganku pun mulai berganti-ganti, antara melihat sang ustadz dan bocah laki-laki yang duduk di dekat kotak amal itu.

Tepat sekali. Ekor mataku menangkap sekilas.

Si bocah itu dengan kecepatan tangannya, memasukkan (entah) receh atau lembaran uang yang telah dilipat-lipat, ke dalam celah kotak amal masjid itu. Lalu, dia mengawasi sebentar, apakah uangnya telah masuk dengan sempurna atau tidak.

Subhanallah!

Curigaku telah terjawab. Si bocah ternyata diam-diam beramal. Tak ingin orang lain melihatnya.

Lalu, dengan santainya dia keluar. Aku ikuti. Dan… aku jadi malu pada diri sendiri.

Iklan

12 thoughts on “[Catatan Ramadhan] Bocah yang Diam-diam

  1. firlynoorsanty said: iya, kadang kita suka salah menilai org…. astagfirullah…

    astaghfirullahal ‘adziiim…insya Allah jadi pelajaran yang berharga buat kita semua, amiin

  2. Cek Yan…saya ketemu loh tadi sama bocah itu.Sehabis shalat isya, pas lagi dengerin ceramah ustadz-nya.Tiba-tiba dia muncul di depan saya.Sebentar saja, tengak-tengok, terus ke belakang lagi, gabung sama temannya.Tapi, gak tau…sudut matanya mengarah terus euy ke arah kotak amal.:)

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s