Menu Lengkap Satu Syawal

Minggu, 20-09-2009
16:21 WITA


SELAMAT HARI RAYA IEDUL FITRI , 1 SYAWAL 1430 H. TAQOBBALALLAHU MINNAA WA MINKUM.

Appetizer

Ditemani segelas es susu berjeruk nipis, saya mulai mengetik. Karena saya masih belum memiliki kamera untuk mengabadikan momen-momen indah selama ke-mudik-an saya, sehingga tulisanlah jalan satu-satunya. Teman-teman pun menjadi lebih bebas membayangkan suasananya, tidak terpatok pada objek yang nampak di depan mata seperti yang tertuang lewat foto ataupun video.

Syawal kali ini saya awali di rumah dinas paman saya. Tadi malam, saya bersama bapak ke sana, acara buka puasa bersama. Bapak pulang, saya menginap. Sebab, saya ingin menyaksikan pawai obor bersama sepupu-sepupu. Kebetulan iringan pawai akan melintas di depan rumah dinas paman saya itu.
Tidak berselang lama setelah Isya saya tunaikan, dari kejauhan, sayup-sayup terdengar kumandang takbir. Kami segera menuju depan rumah. Berdiri di pinggir jalan. Miniatur masjid dengan hiasan lampu-lampu warna-warni tampak berjalan gagah. Dibawa dengan cikar. Sebelumnya, tiga orang membawa spanduk, terterakan asal kontingennya.

Yayan, anak penjaga rumah dinas, dibuatkan tiga obor, terbuat dari batang daun pepaya oleh ibunya. Saya pegang satu, Yayan satu, dan Hani, sepupu saya juga satu. Kami menyalakan obor itu. Saya berinisiatif, ketika rombongan pawai nanti melintas di depan kami, saya akan masuk ke dalam barisan dan ikut berkeliling bersama mereka. Ya, dengan obor yang meliuk-liukkan nyala apinya. Tapi, kalau saya ikut, sepupu-sepupu yang lain pasti akan ingin ikut. Sementara paman dan bibi saya, sudah saya pastikan, tidak akan mengizinkan mereka. Jadilah kami penonton saja.

Kontingen demi kontingen melintas di depan kami. Saya mematikan obor itu. Sebab, malulah diri ini. Cuma berobor di tempat saja. Tidak ikut berjalan berkeliling. Sungguh, hati ini berdenyar-denyar saat menyaksikan dan mendengar gema takbir yang dikumandangkan oleh rombongan pawai. Lampion, nyala obor, dan lampu hias warna-warni melintas-lintas. Sambil bibir mereka mendengungkan takbir. Hati ini ikut bergetar. Pupil mata ini melebar-lebar. Untung rambut ini tak mengembang layaknya rambut Ahmad Albar.

Main Course

Sekitar satu jam sebelum waktu sahur, saya terbangun. Serasa ada yang hilang. Hari ini, tepatnya, momen sahur itu mulai tergantikan oleh ritme makan konvensional: sarapan pagi. Ada yang hilang. Beda. Sementara itu, telinga saya menangkap telisik hujan yang menggelitik atap ditingkahi redap-redup takbir di kejauhan.

Sehabis Subuh, sarapan pagi mulai disiapkan di atas karpet. Ketupat, nasi, opor ayam, dan sup daging. Saya bersama paman, bibi, dan empat sepupu akan menyantapnya. Sebelum mulai, saya masuk dulu ke kamar sepupu-sepupu itu. Jendelanya telah dibuka. Terhampar pandangan berupa pohon alpukat yang sedang berbunga. Di sisinya, pohon mangga berdiri mesra. Keduanya basah oleh hujan. Udara pagi tersaji, nikmati sekali. Segar mengumbar.

Pagi basah oleh hujan tercurah, masih tersisa gerimis lembut. Banyak hal yang melintas di kepala saya. Kenangan masa kecil, mengingat almarhumah ibu, kakek nenek yang telah tiada, dan hal-hal yang melintas begitu cepat sehingga saya tak sempat menangkapnya dengan jernih. Fitri, momentum yang selalu mengingatkan pada yang lalu-lalu.

Sarapan, saya pun pulang ke rumah. Jalanan sepi, hanya ada beberapa motor dan mobil melintas. Dada saya terasa penuh. Segar. Polusi dan debu telah takluk pada hujan. Sekitar sepuluh menit di jalan, sampailah saya di rumah. Mengapa saya pulang? Karena saya harus menjadi ‘ojek’ bagi orang-orang rumah. Kami akan menuju tanah lapang untuk Shalat Ied.

Perkiraan waktu yang tidak tepat alias meleset. Saya dan bapak berangkat saat jam dinding mulai menyentuh angka tujuh. Hipotesis katrok kami: Shalat Ied Fitri biasanya dimulai agak siang. Lihat! Kami tidak jeli membaca cuaca. Langit kelabu nian. Bisa saja Shalat Ied dimulai lebih awal.

Saya dan bapak yang berangkat duluan. Sementara kakak dan adik saya masih sibuk bersiap. Belum berpakaianlah. Ada yang masih mandi. Bercoraklah.

Bermotor, saya dan bapak membelah Jalan Sudirman. Masjid pertama yang kami lewati adalah Masjid At-Taqwa, Pancor. Masjid yang sedang dalam tahap pembangunan menara sebelah timurnya ini, sudah ramai diduyuni oleh warga sekitar Pancor. “Kita di sini atau terus lanjut ke Lapangan Tugu?” tanya saya pada bapak. Jawab beliau, “Kejar yang itu dulu!” Sebagai joki yang baik, saya pun mengegas motor.

Dua masjid kami lewati lagi. Satunya, Masjid Al-Islah Selong, tampak sudah mulai Shalat Ied-nya. Kami terus mengejar Lapangan Tugu. Masih di sekitar perempatan SMPN 1 Selong (mantan sekolah saya), telah kelihatan gelombang manusia putih-putih. Ke masjid ataukah dari masjid? Makin mendekat, suara khatib menjelang. Rupanya, Lapangan Tugu tidak jadi dipakai. Jamaah pindah ke Masjid Raya yang hanya sepelemparan batu dari LapTug. Jamaah pun sudah bubar. Waduuuh…

Bapak menginstruksi agar saya belok kanan. “Kita ke Masjid Pancor!” Masjid At-Taqwa yang dimaksudkan oleh bapak.

Jalan yang sama kami tempuh. Masjid Al-Islah telah usai Ied-nya. Kami mengejar Masjid Yayasan NW, suara imamnya terdengar hingga ke pinggir jalan. Kami mengurungkan niat. Kami pun mengejar satu masjid yang tersisa di dalam daftar tempat Ied berjamaah terlaksana, Masjid At-Taqwa, Pancor.

Kami melihat orang-orang sudah ramai menggelar sajadah mereka di perempatan jalan. Saya pun memarkir motor di depan pertokoan. Mengambil koran yang ada di jok motor. Saya bagikan beberapa lembar ke bapak. Langkah pun sedikit dipercepat. Takut kehabisan rakaat.

Beberapa tumpukan koran yang saya pegang, saya jatuhkan begitu saja tanpa sempat saya bentangkan. Lebih cepat membentangkan sajadah. Bapak yang sampai beberapa detik setelah saya, sebaliknya. Beliau justru membentangkan koran, setelah membaginya sebagian ke seorang bapak. Saya baru sadar kalau ada sesuatu yang tidak beres. Bapak mengepit sajadahnya di paha. Saat rukuk di rakaat kedua, sajadah beliau pun jatuh. “Lho, bapak kok nggak gelar sajadahnya? Justru bentangin koran?” Wadoh…

Dessert

Saatnya menuju makam ibu. Mempersembahkan beberapa larik doa yang menjadi tradisi tiap lebaran. Tentu saja, doa setelah shalat fardu diutamakan. Tapi, mengunjungi makam beliau, tak ada salahnya. Selain untuk menuntaskan segala rindu (karena saya akan merasa begitu dekat dengan beliau), juga agar lebih intens mengingat mati. Sebab, life is an art of loving death.

Di Pekuburan Gayong, baru sekitar empat orang sahaja yang saya temukan sedang berdoa di makam kerabat mereka. Saya dan bapak sengaja berdahulu, nanti saudara-saudara yang lain menyusul. Biar tidak saling tunggu. Membagi diri dalam kloter-kloter.

Usai berdoa di makam ibu (saya akan selalu berusaha menyempatkan diri mengunjungi makam beliau tiap kali mudik), saya dan bapak menuju Pendopo Bupati Lombok Timur di Selong. Kata bapak, ada open house. Saya sih bersemangat saja. Sebab, yang namanya open house tidak lepas dari acara… makan-makan!!! Hehehe…

Betul saja. setelah beramah-tamah dengan ‘peserta’ buka-rumah (bukan bedah-rumah euy) yang telah datang lebih dulu, saya pun segera mengambil posisi: sebuah meja yang telah terhidang kue-kue kering di atasnya. Sementara ada tiga meja prasmanan yang tersedia, masing-masing: meja bakso, meja minuman, dan meja nasi lengkap dengan lauknya. Karena masih pagi dan saya sudah sarapan nasi, saya pun dengan semangatnya mengucurkan kopi ke dalam cangkir. Alamak, kok kopinya kental? Ternyata, Anda benar kawan-kawan! Lalu, apa yang mau diseruput? Ampas kopi? Ouw!

Saya pun membuka tutup kue dan mulai mengirimkannya ke mulut saya. Nyammm…Nyammm… Bapak sedang berbincang-bincang dengan temannya. Lalu, mendekat sambil membawa segelas es campur. Saya kok tertarik ya? Sebel
umnya, saya membocorkan segelas air mineral, lalu beranjak mengambil es campur.

Sepupu-sepupu yang rumahnya tempat saya menginap tadi malam datang pula dengan mobil dinas Departemen Agama. Kembali bersalam-salaman dengan mereka, saya pun keluar, menuju parkiran mobil. Berbincang-bincang dengan sopir mereka yang kebetulan dulu juga telah menyopiri bapak. Kak Marjan, seorang albino. Tetap saja pembawaannya malu terlebih jika berkumpul dengan para pejabat, seperti acara buka-rumah itu.

Saya ditelepon bapak, disuruh ke dalam lagi. Kami mau pulang, ternyata. Tapi, sebelum bersalaman dan beramah-tamah singkat dengan Pak Bupati juga istrinya, saya mencicipi semangkuk bakso dulu.

Hmmm… hidangan penutup yang lezat di hari kemenangan!

NB: Insya Allah tulisan ini akan diikutkan lomba yang diadakan oleh eS-Ka!

Iklan

6 thoughts on “Menu Lengkap Satu Syawal

  1. lafatah said: Hehehe… Demen bgt gitu ma es campur?Anyway, taqobbalallahu minna wa minkum yak…Kapan2, saya maen ke bogor lg 🙂

    lagi panas di bogor ni fatah..taqobbal ya kariem ;)ntar bilang2 aja 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s