Sharom

Lepas dari acengkeraman kucing hutan raksasa yang muncul tiba-tiba di ruang tamunya, Sharom segera menggelar tikar. Menelentangkan tubuhnya, membentuk shavi. Tangan kanannya memegang korek api kayu. Tangan kirinya, peletuk korek. Kedua tangannya didekatkan satu sama lain, bertemu di tengah dadanya, lalu…cesss!

Batang korek yang mulai menyala segera ia jatuhkan di dadanya. Sharom berkedut. Ia merasa seolah ada semut iseng menggigit dada telanjangnya. Ia menarik napas. Lalu tersenyum.

Ia kembali menyalakan sebatang korek api. Mengulangi aksinya. Hingga sepuluh kali. Aku menghitungnya.

Siapa aku?

Sharom, dadanya mulai kemerahan. Berkedut berkali-kali. Tinggal menunggu melepuh. Mungkin sekitar satu jam lagi.

Aku pikir, dia telah puas. Tapi…

Tidak, ternyata! Keremangan ruang tengah, aku masih bisa melihat dengan jelas. Sharom menggoreskan korek apinya. Nyalanya mulai berkibar. Menerangi wajahnya. Sebelum aku sempat mengedipkan mata, Sharom membuka mulutnya. Batangan korek yang sedang menyala, dijatuhkan dengan indah. Masuk ke dalam mulutnya. Cemerlang!

Aku tercekat. Sharom? Dia menerawangkan mata dan sekejap kemudian terpejam. Ada samar kelegaaan terpancar.

Aku? Aku cicak!

Iklan

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s