Unplugged: Kaos Biru Itu…

Saya dapat ‘toyoran’ dari Mbak Elly untuk menceritakan satu benda kenangan, tak terlupakan. Saya pun memutar otak, secara acak memilah-milih benda-benda kenangan. Sebelumnya, saya bertanya pada diri sendiri. Esensi ‘benda kenangan’ itu apa? Apakah benda yang benar-benar tidak bisa kita lupakan? Apakah bendanya harus ‘ada’ bertahun-tahun yang lampau? Apakah bendanya mesti ada hingga sekarang? Apa ‘tidak apa-apa’ bendanya telah hilang, namun ia masih tersimpan dalam memori? Itukah definisi ‘benda kenangan’?

Oke, bertanya memang tidak membuat kita berdosa. Bertanya itu baik karena banyak hal dalam diri kita yang membutuhkan jawaban. Tidak pernah bertanya, bukan makhluk hidup, namanya. Bertanya itu, menandakan orangnya senang berpikir. Tapi, kebanyakan bertanya…???

Unplugged itu adalah tulisan pada kaos biru lengan panjang saya. Saya beli dengan duit hadiah menang lomba menulis.

Waktu itu tahun 2005, saya masih kelas dua SMA. Pak guru mengikutkan saya pada lomba menulis cerpen dan puisi pelajar SMA yang diadakan oleh Diknas Propinsi NTB. Saya mengikuti kedua jenis lomba, dengan harapan terbesar saya sandangkan pada cerpen saya berjudul “Dilarang Mencintai Ibu Guru”. Sementara, puisi ‘iseng’ saya sendiri saya lupa judulnya. Tapi, intinya mengenai kerinduan anak manusia untuk bertemu dengan pencipta-Nya. Nah, yang saya ingat adalah, saya mencoret-coretkan, menulis puisi itu saat jam istirahat. Iseng saja di saat teman-teman sekitar saya menikmati jajan dan minuman ‘keluar bermain’.

Sekian minggu saya menunggu. Di bayangan saya, cerpen saya yang bakal menang karena saya merasa sangat total dalam menulisnya. Lebih dari 10 halaman kalau tidak salah. (Emang kuantitas menentukan kualitas?) Akhirnya, di suatu hari, pak guru memanggil saya. Membawa kabar gembira, saya menang. Jadi jawara kedua. Tapi, untuk kategori cerpen atau puisi? Belum jelas.

Pas hari H, pengambilan hadiahlah, saya baru tahu kalau puisi saya yang mendapatkan ‘jatah cinta’ dari Diknas Propinsi NTB. Saya tentu saja tiada menyangka. Yang diharapkan, tidak tergapai. Yang tergapai justru yang tidak diharapkan. Tapi, ujung-ujungnya… gembira donk!

Sepulang dari Kantor Diknas, saya bersama Pak Suazrin, nama guru saya, beserta anak gadisnya, Gadisa, langsung menuju toko baju. Lho??? Kenapa toko baju? Sebab, waktu itu momennya bertepatan dengan Ramadhan. Ceritanya, Pak Suazrin sekalian menemani saya mengambil hadiah, juga untuk membelikan istrinya baju lebaran. Oke, saya pun ikut.

Unplugged, baju kaos biru lengan panjang itu pun saya beli. Alhamdulillah, senangnya bisa membeli sesuatu yang kita inginkan dengan duit jerih payah sendiri

Selanjutnya, baju kaos itu menjadi salah satu baju favorit saya. Saya senang dan nyaman memakainya. Melambangkan jiwa saya. Warna favorit saya. BIRU.

Lantas, baju ini pula yang saya kenakan ketika ‘manggung’ pertama kali di acara ulang tahun sahabat saya. Pun ketika akhirnya ditakdirkan menyeberang pulau untuk pertama kalinya, yakni ke Pulau Jawa pada tahun 2006, baju kaos biru ini tak lupa saya bawa. Saya pakai kuliah juga. Bahkan, hingga saya berada di Unair, saat ini.

Baju kaos yang sayang untuk disisihkan dari ingatan…


*maaf, foto bajunya tidak ada – exclusive*

Iklan

8 thoughts on “Unplugged: Kaos Biru Itu…

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s