Terima Kasih Konspirasi


Tidak ada suatu kebetulan pun di dunia ini.

Saya yakin hal itu.

Maka, hari ini pun saya membuktikannya.

Ketika saya tadi malam merasa ‘rapuh’ dengan berbagai amanah dan tanggung jawab yang belum juga saya selesaikan, saya merasa hampa sekali. Mau membaca – seperti yang biasa saya lakukan jika stres – juga tidak kesampaian. Mau jalan-jalan, saya ingat besok (hari ini, red). Saya pun mencoba alternatif terakhir, tidur.

Bangun, saya telat. Tapi, tadi pagi saya memasang doa ketika hendak berangkat kuliah (yang pun rasanya kaki ini berat sekali melangkah), agar urusan saya dipermudah Allah. Saya serahkan semua urusan saya pada-Nya. Karena saya sendiri merasa beban ini sungguh berat.

Beban ini juga sebenarnya merupakan akumulasi dari keteledoran saya. Saya menyia-nyiakan waktu. Saya amat merugi dengan waktu yang diberikan Allah pada saya. Lalai. Itu dia. Makanya, surat Al-Ashr (Demi Masa) pun terngiang-ngiang di benak saya. Memang, Allah sendiri telah bersumpah bahwa manusia dalam keadaan merugi. Rugi waktu, terutama.

Bagaimana tidak? Amanat sebagai mahasiswa, sebagai adik, sebagai penanggung jawab acara di kampus, sekalian penanggung jawab acara di FLP Ranting Airlangga, saya betul-betul terjebak, tertindih rasanya oleh beban yang berat. Satu pun belum lunas. Sebagai mahasiswa, tugas-tugas jurnal saya nunggak hingga 5 jurnal. Sebagai adik, saya ada tugas dari kakak untuk membuatkan dia sebuah karya tulis. Sebagai PJ Publikasi dan Dokumentasi di acara HI 27th, saya belum membuat denah dan detil tugas saya (padahal acaranya tinggal 2 bulan lagi). Sebagai Ketua Pelaksana Writing Camp FLP Ranting Airlangga, proposal kegiatan belum kelar juga. Sementara acaranya di depan mata.

Tadi malam, saya merasa hampa sangat. Mau menangis, air mata ini susah sekali tumpah. Apakah karena hati ini telah membatu? Saya kurang tahu. Atau apakah ayat-ayat-Nya telah lama saya pinggirkan dari keseharian saya? Bisa jadi. Saya merasa, saya sedang jauh dengan Dia. Tapi, di sisi lain, tertancap pula tekad untuk kembali dekat dengan-Nya. Siapa menuju Aku dengan berjalan kaki, maka Aku akan menuju dia dengan berlari. La hawla walaa quwwata Illabillahi…

Pokoknya, hari ini saya jangan membolos!

Saya harus masuk kuliah. Teman-teman sedang menunggu pertanggungjawaban saya. Rapat HI 27th akan digelar kembali. Juga pada siangnya nanti (barusan kelar), saya bersama kelompok kudu presentasi di mata kuliah Metan HI.

Dan, Allah rupanya menjawab doa saya. Paling tidak, itu yang saya yakini. Ketika Teh Rini meng-update status di facebook “sedang jenuh membaca fiksi”, saya justru berkomen, “Saya juga jenuh kuliah…”. Lantas, Teh Rini membalas, “Kena sindrom Senin kali”.

Deg!

Saya pun berpikir ulang. Apakah saya terlalu berlebihan? Bisa jadi pikiran saya sedang pendek. Bisa jadi anggapan bahwa diri saya sedang jenuh kuliah, justru sebagai alasan pelarian saya dari tanggung jawab saya yang belum selesai. Bisa jadi! Cling! Otak saya pun mulai berpijar.

Ketika rapat HI 27th pun, saya mengira teman-teman saya akan menyalahkan saya karena belum juga bergerak. Tapi, ternyata mereka memberi masukan yang sangat bagus. Bahkan, saya bertambah lagi satu proyek yang SESUAI DENGAN KAPABILITAS SAYA. Ya, tidak jauh-jauh dari urusan menulis.

Lantas, presentasi pun lumayan lancar. Paling tidak, saya telah menunaikan kewajiban. Terus, satu lagi. Ketika perkuliahan selesai, saya mendapat pesan singkat dari sahabat di Lombok sana, yang isinya sangat pas dengan keadaan saya saat ini. pesan singkatnya berbunyi, “Sobat… Kuingin berbagi pelajaran berhargaku saat ini… Jika sudah mendapatkan suatu kesempatan… manfaatkan sebaik mungkin. Jagalah kesempatan tersebut dengan sabar, semaksimal waktu yang kita mampu… Karena meskipun akan ada kesempatan untuk besok, namun belum tentu kesempatan itu berpihak pada kita”

Saya langsung bersorak dalam hati.

Tidakkah Anda melihat ini sebagai jalinan konspirasi yang indah?

Allahu Akbar!!!

Iklan

17 thoughts on “Terima Kasih Konspirasi

  1. Terima kasih, Mas Salim.Saya juga sedang menikmati ini. Semoga tidak teledor lagi. Paling tidak, tulisan ini sekaligus pengingat buat saya supaya segera menyelesaikan tugas-tugas yang ada…

  2. setiap hal di dunia ini memang selalu berkelindan ya Tah…saya kutip quote menarik dari buku yg pernah saya bacaSetiap orang yang kita jumpai dalam perjalanan hidup kita, selalu membawa pesan untuk kita. Tak ada perjumpaan yang kebetulan. Tetapi, bagaimana kita menanggapi perjumpaan-perjumpaan ini menentukan kemampuan kita menerima pesan. — James Redfield dalam The Celestine Prophecy

  3. what a beautiful quote… love it so much!!!betul, Mbak. dulu saya pernah baca buku yang judulnya Serendipity: penemuan-penemuan ilmiah yang kebetulan. Jadi, kayak Archimedes yang menemukan hukumnya, hanya karena kebetulan dia sedang berada di dalam bath-tub, lalu berteriak “Eureka!” Tapi, saya kembali mempertanyakan, adakah kebetulan itu?Bukankah tangan Tuhan selalu bekerja di tiap helaan napas kita???

  4. hmmm… kadang amanah suka berubah jadi seutas tali yang mencekik.. tapi setelah selesai perkara jadi sesuatu yang menghilangkan dahaga dan melancarkan masuknya udara kedalam dada. aaaaaaaaaaahhhhhhhh legaaaa…

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s