“Saya Memakai Clear Men”

     “Pria tidak memakai shampo wanita!!! Saya memakai Clear Men,” kata Christian Ronaldo di sebuah baliho perempatan Kertajaya. Saya yang sedang melintas zebra cross, hendak menuju sarang buku, Togamas, bergumam begini dalam hati, “Provokatif! Laki-laki sengaja digelitik syaraf malunya, biar kembali ke jalan maskulinitas. Laki-laki harus berserba-serbi laki-laki. Total. Bahkan untuk urusan cairan pencuci rambut. Hebat benar dia mengerti kebiasaan bersampo kaum adam Indonesia!” 

     Saya memang kurang mengerti teori iklan. Tapi, sepemahaman orang awam seperti saya, bahasa iklan itu corong bisnis yang sangat ampuh. Jika banyak orang termakan rayuan iklan, saya akui iklan tersebut ampuh. Ampuh membius syaraf konsumerisme para konsumen. 

     Saya tidak mengatakan para konsumen Indonesia, khususnya, masih tergeragap urusan bahasa. Terpukau oleh kata-kata manis, siapapun pasti suka. Dipuji, siapa hendak menolak. Tapi, itulah kelebihan kata-kata. Sebenarnya sih, trik bisnis. Ia mampu merecoki ceruk kehausan jiwa-jiwa konsumen Indonesia. Logika kadang diumpet di belakang tembok kesenangan batiniah mereka. Meskipun si logika terkadang berjinjit-jinjit hendak keluar dari sarangnya, namun begitu dihadapkan pada iklan yang membabi buta dan mengkuda liar, si logika pun terbirit-birit sembunyi lagi. Tumpul. 

     Kritis juga jadi problem laten. Saking kuatnya budaya patuh orang Timur, barisan celotehan iklan pun laksana petuah yang harus diiyakan. Jika menolak, mendapat karma sosial. Dianggap bukan dari mayoritas. Teralienasi. Tidak trendi. Tidak gaul. Kalau tahan dibegitukan, tidak mau termakan iklan dan omongan, saya acungi jempol. Karena tidak semua keseragaman itu bagus, kan? 

     Kembali pada iklan sampo a la Christian Ronaldo di atas. Saya yakin, bagi mereka yang selama ini tidak hirau pada – mana sampo cewek mana sampo cowok (dikotomis banget, kan?) akan terpatuk oleh sengatan bintang lapangan hijau itu. “Wah, bintang setenar Ronaldo saja pakai Clear Men, masa kita tidak?” Mungkin begitu gumam para lelaki yang sempat mendongak baliho segede gaban itu. “Wah, sampo yang gue pake di rumah kan untuk membuat rambut jadi lebih indah terurai. Mungkin ini sebabnya, rambut gue jadi tetap kusut begini, kasar, bahan bikin rontokan. Salah sampo mungkin ya? Duh, jadi malu nih sama Ronaldo…” 

     Sebenarnya, saya salut juga sih sama Clear yang telah membuat terobosan di jagad persampoan. Ia telah melakukan spesialisasi. Sampo kebanyakan diproduksi untuk rambut kaum hawa. Karena bagi kaum hawa, rambut adalah mahkota. Sementara kaum adam tidak mendapat porsi perhatian dari para pakar sampo. Akibatnya, kaum adam yang mulai sadar bahwa rambut juga adalah aset, akhirnya memilih sampo (apa adanya) yang beredar di pasaran. Tanpa ada preferensi yang lebih khusus: sampo untuk laki-laki. 

      Ini pula konsekuensi dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di saat para pakar semakin fokus pada kajian ilmu yang lebih niche, maka penemuan-penemuan baru yang lebih khusus pun banyak bermunculan. Ya, salah satunya pakar rambut dan pakar sampo. Dulu, (mungkin lho ya?), gaya rambut era homo erectus ya gitu-gitu saja, bergaya Semrawut Tiada Banding. Lalu, Era Renaissance, di mana kebebasan berekspresi terluapkan, gaya rambut pun mulai beragam. Lantas, di era kontemporer (paska Perang Dingin) seperti saat ini, gaya rambut pun menjadi semakin liar, binal, bahkan tak terdefinisikan. Itu masalah style.

        Bagaimana dengan sampo? Dulu, mungkin nenek moyang kita tidak mengenal sampo (acuh dan no care sama tetek-bengek rambut). Terus, di zaman kakek-nenek saya, rambut dirawat dengan basuhan santan kelapa agar rambut tetap klimis dan eksotis. Sekarang, di era nuklir Iran, rambut pun bisa dijajah dan dijajal oleh cairan kimia dengan beragam embel-embel, baik merk maupun khasiat (benar-benar cairan pembasuh rambut yang tunduk sama kata-kata pembuatnya). 


       Wah, tak terasa saya menuliskan ini melebihi jam satu malam. Saya pun hendak mengakhirinya, Teman. Tapi, saya ingin bisikkan satu hal pada kalian. Biar saja ini menjadi konsumsi publik karena tak penting pula untuk dirahasiakan. Apakah itu?

       Saya beritahukan, merk sampo yang saya pakai adalah Head & Shoulders. Anda tahu alasannya, kenapa? Surabaya itu panas, bikin pori-pori kulit kepala ikut berkeringat. Saya makin serba salah pada rambut saya jika berada di jalanan yang berpolusi. Kan, rambut saya jadi kena radikal bebas juga asap bahkan debu gitu. Makanya, Head & Shoulder pun saya pakai, karena bikin kepala jadi sejuk dan membantu mengurangi ketombe *ketahuan deh* *pletaaaaak!!!* 

       Oya, satu lagi. Ada yang bisa membantu saya mencarikan sampo yang memang BENAR-BENAR untuk rambut? Karena saya melihat, iklan-iklan sampo yang bertebaran di media kebanyakan bukan ditujukan untuk menyejahterakan rambut itu sendiri. Tapi, kebanyakan untuk menyejahterakan para pembuat sampo. Siapa lagi kalau bukan…  

        Anda benar!!! 

        Sejauh mana makna sampo menurut Anda? 

Iklan

42 thoughts on ““Saya Memakai Clear Men”

  1. Saya sejak lama pake Clear Men. Jauh sebelum si Ronaldo pake.Teori marketing memang seperti itu. Dalam beberapa kasus bahkan bisa menggelitik psikologi konsumen.

  2. Kalo doyan baca, gaya tulisannya emang beda, ya? *_*Liat aja, membahas sebuah shampo aja bisa enak dibaca dan berbobot gini. Keren lah, Tah! Bravo …Soalnya kadang-kadang ada juga (banyak, malah!) yang berusaha mati2an menonjolkan efek: “Nih, gue pinter! Ngerti banyak. Elu liat aja dari kosakata yang gue pake di dalam postingan” and so on.*btw, dulu aku hobby pake shampo Brisk loh, Tah. Sebelom akhirnya ditarik dari peredaran! ha-ha.

  3. revinaoctavianitadr said: Kalo doyan baca, gaya tulisannya emang beda, ya? *_*Liat aja, membahas sebuah shampo aja bisa enak dibaca dan berbobot gini. Keren lah, Tah! Bravo …

    Setuju… pilihan kata-katanya top :).

  4. bambangpriantono said: Kalau saya x ada yang spesifik..rejoice oke, sunsilk oke, pantene pun jadi..yang ada saja. Dan sejauh ini rambut saya oke2 saja..x ada gejala pembotakan

    Hehehe…Saya pun sebenarnya nggak ambil peduli mau pake shampo apa. Tapi, belakangan ini saya lebih cocok sama Head n Shoulder, so begitu ada tawaran pake shampo merk A atau B, saya pikir2 dulu. Rambut rusak? Dari dulu, saya merasa rambut saya sudah agak rusak. hahaha

  5. anditasb said: Dalam beberapa kasus bahkan bisa menggelitik psikologi konsumen.

    Nah, pengennya sih biar tulisan ini lebih valid, saya ingin memasukkan data-data seperti Bang Andi sebutkan. Tapi, sayang, saya bukan pengamat iklan yang baik. Hehehe…

  6. lafatah said: Hehehe…Saya pun sebenarnya nggak ambil peduli mau pake shampo apa. Tapi, belakangan ini saya lebih cocok sama Head n Shoulder, so begitu ada tawaran pake shampo merk A atau B, saya pikir2 dulu. Rambut rusak? Dari dulu, saya merasa rambut saya sudah agak rusak. hahaha

    Awas, kebotakan dini

  7. revinaoctavianitadr said: Kalo doyan baca, gaya tulisannya emang beda, ya? *_*Liat aja, membahas sebuah shampo aja bisa enak dibaca dan berbobot gini. Keren lah, Tah! Bravo …Soalnya kadang-kadang ada juga (banyak, malah!) yang berusaha mati2an menonjolkan efek: “Nih, gue pinter! Ngerti banyak. Elu liat aja dari kosakata yang gue pake di dalam postingan” and so on.*btw, dulu aku hobby pake shampo Brisk loh, Tah. Sebelom akhirnya ditarik dari peredaran! ha-ha.

    Terima kasih, Mbak Vina… Jadi bersemu merah jambu batu… *haahaha*Oya, saya ngakak2 lho baca setrikaannya Bu Mabes di buku LDL. Ngintip baca di Togamas. Hahaha… Shampo Brisk? Era kapan itu??? Kalo saya mengenal Brisk sebagai merk minyak rambut :))

  8. bambangpriantono said: Cuma sayang sekarang pada jarang yang mau baca nih…FB sudah menggeser semuanya..

    Paling nggak, kita bisa bertahan di sini, Facebook adalah fenomena, Pak Nono. Akan ada masa uzurnya… Nantikan saja…. 🙂

  9. niwanda said: Setuju… pilihan kata-katanya top :).

    Terima kasih Mbak Leila…Saya sedang dan masih terus belajar…. hingga entah kapan.Termasuk belajar banyak dari para MPers yang unik-unik…

  10. anditasb said: kayaknya kudu buat hari MP Indonesia deh. Hehee

    Setuju bangeeeet…Hayooo, dibikin! Tidak perlu diajukan ke Mahkamah untuk diratifikasi.Cukup kita saja – MPers Indonesia – yang meratifikasi… hehehe

  11. bambangpriantono said: Iya tuh, presidennya aja sudah hijrah ke Faceboker gara2 MafiaWars..hahahaha

    Pak Nono nggak menjabat sebagai wakil presiden MP ta?Ato, kenapa tidak diadakan pemilihan Presiden MP secara bergilir, entah untuk masa jabatan berapa tahun gitu… hehehe… Sekadar usul saja sih.

  12. lafatah said: Pak Nono nggak menjabat sebagai wakil presiden MP ta?Ato, kenapa tidak diadakan pemilihan Presiden MP secara bergilir, entah untuk masa jabatan berapa tahun gitu… hehehe… Sekadar usul saja sih.

    Nggak lah..wong saya pindah2 kok..hehehehee..penggeraknya jadi penggerak MafiaWars..tapi nanti ada masanya bosan juga

  13. bambangpriantono said: Nggak lah..wong saya pindah2 kok..hehehehee..penggeraknya jadi penggerak MafiaWars..tapi nanti ada masanya bosan juga

    Mari kita doakan agar Ibu Presiden bosan dengan MafiaWars… hihihi…*doa yang mengancam*:D

  14. salimdarmadi said: Hehe, menarik Mas. Top markotop deh tulisannya…O iya, jadi penasaran iklannya kaya’ apa…

    Iklannya sih biasa saja sebenarnya… tapi kata-katanya itu lho, nggak deeeh… menyentil psikologi terdalam kaum adam! hahha

  15. lafatah said: Shampo Brisk? Era kapan itu??? Kalo saya mengenal Brisk sebagai merk minyak rambut :))

    Duh, please dong, Tah.Kesannya tuh eike tuir banget.Padahal kan baru 33 … *_*Brisk itu keluar di awal 90an gitu, deh.Tapi kayaknya sih memang enggak bertahan lama di pasaran.Konon kabarnya ada intrik di dalam perusahaan atau gimana lah itu aku sendiri juga enggak terlalu mudeng.

  16. revinaoctavianitadr said: Alhamdulillah, bisa bikin ngakak seorang Fatah.Thanks ya, Tah …

    Hayooo… kapan buku berikutnya keluar???Saya nantikan, Mbak 🙂

  17. revinaoctavianitadr said: Brisk itu keluar di awal 90an gitu, deh.Tapi kayaknya sih memang enggak bertahan lama di pasaran.Konon kabarnya ada intrik di dalam perusahaan atau gimana lah itu aku sendiri juga enggak terlalu mudeng.

    Iya sih… soalnya saya juga termasuk anak era 90-an… *_*Dulu format Brisk yang saya tau adalah yang pake mangkok (?)Tapi, tahun 2000-an gitu, dalam bentuk sachet juga ada…Intrik apa ya? Jadi penasaran… tanya Om Google, boleh? 😀

  18. masfathin said: Fatah yg keren, dari sampo aja bisa bikin tulisan seoke ini 🙂 btw H n’S mentol enak ya hehehe

    Alhamdulillah… nemu sesama pemakai H&S…Adeeeeeeeemmm… :))

  19. iwok said: Waah ulasannya menarik banget Tah. Bravo!Shampoo? saya mah ngikut istri aja, pake Pantene, soalnya rambut juga seuprit sih. hehehe

    Tak Ada yang Tak Mungkin…. Percayalah… Pantene… *inget banget sama iklan ini*

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s