Ganti Status


Tiga karung buku, dua plastik besar pakaian, lima kardus tetek-bengek, kotak printer, kotak magicom, koper cokelat butut saksi bisu, tas laptop, ransel. Itulah beberapa item yang berhasil saya (atas bantuan teman-teman) angkut dari kos lama ke kontrakan baru. Dua malam proses evakuasi itu dan sukses tadi malam. Jadi, mulai tadi malam, saya sudah tidur di kontrakan baru. Ganti status nih ceritanya, dari anak kos menjadi anak kontrakan.

Jika dilakukan komparasi, ada beberapa hal yang perlu saya catat. Segi ukuran kamar, kamar saya yang sekarang lebih luas, langit-langitnya lebih tinggi, dan ada kamar mandi dalamnya. Kamar kos yang lama, cukup diisi geletakan kasur, spasi sedikit untuk sajadah, dan meja serta tumpukan kardus. Sempit.

Segi biaya. Alhamdulillah… karena ini rumah kontrakan dan (baru) diisi oleh 6 anak, jadi jatuhnya lebih murah daripada saya ngekos. Yang biasanya setahun 3 juta, sekarang hanya 2,3 juta. Kalau ada penghuni baru lagi, tentunya biayanya bisa diredam lebih murah lagi.

Segi privasi. Kalau masalah privasi dalam tataran kamar sih, antara kos lama dan kontrakan baru ini, sama-sama privasi. Namun, tidak demikian dengan penjagaan dan pengawasan sang pemilik rumah. Kalau ngekos, saya masih ada di bawah pengawasan ibu kos. Sementara, ngontrak, rumah ibu pemilik kontraknya terpisah. Jadi, ini rumah kami yang kelola sendiri. Tanggung jawab ada pada kami.

Meski nggak ada televisi, nggak ada kulkas, nggak terpasang AC, nggak ada salon (kos saya yang lama ada salonnya meskipun sekali saja, saya tidak pernah nyalon di sana), tapi saya dan kawan-kawan kontrakan tidak begitu butuh amat. Mungkin nanti setelah masalah pembayaran kontrakan beres, barulah otak kami mulai jernih memikirkan tetek-bengek itu. Tentu saja, pertimbangan biaya rutin per bulannya, seperti biaya listrik dan biaya PDAM juga ikut diperhatikan.

Paling tidak, selama hidup di Pulau Jawa, saya telah mengecap hidup di 3 kos yang berbeda ditambah 1 rumah kontrakan. Pertama, ketika kuliah D-1 di Malang, yakni Pekalongan Dalam. Kedua, setelah pindah ke Surabaya dengan kos pertama di Karang Menjangan. Bertahan dua bulan, pindah ke Gubeng Jaya. Kini, kontrakan baru di Jojoran Baru.

Hal paling enak dari pindah-pindah ini adalah bisa merasakan tempat, nuansa, orang-orang, dan pengalaman baru. Nggak enaknya, kudu repot-repot pindah barang. Apalagi kalau misalnya sudah PW (Posisi Wuenaaaaaak). Termasuk kos yang lama. Saya sudah merasa akrab dengan kamar tersebut, meskipun terkadang muncul rasa bosan juga. Dua tahun di sana, bersama orang-orang yang menyenangkan dan sudah dianggap saudara sendiri (ingat pas tepar, sakit tipes, setahun yang lalu). Kekeluargaannya juga dapet.

Ya, semoga di kontrakan yang baru ini, saya dan kawan-kawan juga bisa lebih betah, bisa saling menjaga, saling nasehati dalam kebaikan, saling tegur jika salah, saling asih-asuh layaknya saudara sendiri.

Tantangan itu akan selalu ada, manajemen konflik juga diperlukan. Inilah saatnya menerapkan teori yang didapatkan di kelas, biar nggak berujung basi dan lips-service belaka. Siyaaa!!! La Beouf…

Iklan

18 thoughts on “Ganti Status

  1. niwanda said: Semoga betah dan tambah berkah di tempat baru ya Tah…

    Insya Allah…Saya berharap begitu, Mbak.Pengalaman baru, tantangan baru, dibawa menyenangkan saja 🙂

  2. nawhi said: Wah aq pengin dengernya, eh bacanya…aq dari kecil mpe sekarang teteup aja ngendon di rumah ortu.

    Nggak ada keinginan buat ngekos, Mas? hehehe… Kayak Dewi Lestari, ngekos cuma buat nulis buku… Kan, mantabs jaya tuh? heheh

  3. dedew80 said: smga betah di tmpat yg baruu, dtggu anak kontrakan dodolnya ya tah hehe..

    Mau saingan nigh sama anak kos dodol??? hahaha… Insya Allah, mulai betah…

  4. lafatah said: Kayak Dewi Lestari, ngekos cuma buat nulis buku… Kan, mantabs jaya tuh? heheh

    Dee enak udah ada team n manager yang ngurusin segala tetek bengeknya, jadi tinggal konsen nulis aja. Lha aku, siapa yang ngurusin..??? he3

  5. nawhi said: Lha aku, siapa yang ngurusin..??? he3

    Si dia, kan Mas? hehehe… Saya doakan deh biar Mas Ihwan bisa punya manajemen dan tim solid untuk buku-buku, Mas 🙂

  6. Duh kayaknya itu terlalu muluk-muluk deh Tah, secara bukuku baru satu dan nggak booming. Walopun sebenernya malah penulis2 kecil kayak aku ini yang butuh tim solid yang mau mendukung n mempromosikan ke publik.Yaa, berjuang sendiri dulu deh. Kepuasannya juga jauh lebih besar kalau berhasil nanti.

  7. Amiiiin…. semoga, Mas.Paling nggak sosok Dee bisa jadi penyemangat tho?Berawal dari indie, tapi kesuksesan yang diraihnya melebihi yang sudah pro.Yeah, Mas Ihwan pasti bisa. Slow but sure, fast but sure is WOW! 🙂

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s