Uji(an) Kejujuran Paling…


Seorang dosen saya, Pak Djoko Sulistyo, adalah dosen yang tidak pernah tidak menasehati para mahasiswanya untuk jujur ketika akan menghadapi ujian. “Sebab, kalau tidak dimulai dari sekarang, bagaimana nantinya ketika suatu saat Anda menjadi pemimpin? Jika sudah terbiasa tidak jujur, maka akan terbawa hingga Anda jadi orang nanti.” Beliau, satu-satunya dosen yang selalu menyelipkan pesan itu selama saya kuliah hingga semester lima ini.

Meski tidak sepenuhnya menerapkan apa yang beliau katakan, namun ada satu mata ujian yang membuat saya ‘terbakar’ oleh kata-kata beliau. Kejadiannya pas UTS mata kuliah Ekonomi Politik semester 4 lalu.

Kami, satu kelas, hanya disodorkan satu pertanyaan di atas selembar kertas buram. “Bagaimana Martin Staniland mendefinisikan ekonomi politik?” Deg! Saya tidak belajar. Saya hanya menyiapkan cetakan power point dari rumah. Belum dibaca pula. Kesempatan untuk mencontek memang terbuka. Bertanya pada teman kiri kanan depan belakang juga bisa. Tapi…

Saya dibelenggu dua pilihan. Tetap menjawab dengan usaha sendiri meski ngawur ataukah menyontek dengan jawaban benar?

Hampir setengah jam berlalu, saya hanya memandangi kertas folio bergaris yang baru ditulisi dengan identitas saja. Saya hendak menulis apa? Ini pertanyaan cuma satu, menurut pandangan seorang pakar pula. Kan, tidak bisa dibuat ngawur. Apa yang saya tulis harus berdasarkan apa yang dikatakan oleh si Martin Staniland. Mending kalau soalnya argumentatif, bisa diakali dengan mengarang indah. Ini tidak.

Selama setengah jam itu pula, saya mendapati teman-teman saya gelisah di tempat duduknya. Saya yakin mereka juga tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut, kecuali beberapa orang saja yang benar-benar belajar. Dan, kegelisahan itu pun makin nampak saat beberapa orang teman saya berdiri dari bangku ujian dan keluar kelas. Kalau satu atau dua orang dengan rentang keluar yang lama, saya tidak akan curiga. Tapi, ini kok seperti sudah diatur. Satu keluar, selang dua menit masuk lagi. Berikutnya ada yang keluar, dan masuk lagi. Begitu yang terjadi kurang lebih lima orang.

Saya dan teman-teman yang lain saling mencurigai gelagat keluar-masuk kelas itu, apalagi pengawas ujiannya. Akhirnya, salah seorang pengawas yang sebelumnya duduk di belakang, maju ke depan kelas.

“Sejak tadi, saya perhatikan ada yang keluar-masuk kelas. Awas ya! Saya tahu kok Anda mau menyontek di kamar mandi.”

Jder!!! Trik basi sih teman-teman saya itu. Mending satu orang saja yang keluar, masih bisa dimaklumi. Entah mau buang air kecil atau apa. Ini tidak.

Saya yang kertasnya masih kosong pun akhirnya membuat keputusan. Tulis saja. Tulis apapun yang saya ketahui. Dan, entah dari mana, ide gokil itu datang.

“Saya tidak mau terpatok sama Martin Staniland. Enak banget ya bikin teori sendiri. Kalau begitu, saya juga bisa dong!” ujar saya dalam hati. Waktu itu, saya belum sadar ilmiah. Teori tidaklah segampang itu dibuat. Makanya, teori itu juga penting sebagai landasan berpikir dan bertindak.

Saya pun menulis kalimat di atas kertas folio saya (kurang lebih) seperti ini.

“Pak, tadi pagi saya mendapat pelajaran berharga dari kakak saya, bahwa saya mending menjawab apa adanya daripada menyontek. Sekian menit berlalu, teman-teman saya di kelas menunjukkan gelagat kurang baik, menyontek. Blablabla…”

Selama satu halaman lebih sedikit folio bergaris itu saya tulisi dengan uneg-uneg saya mengenai kondisi kelas yang beraroma sontek. Saya pun melakukan semacam confession alias pengakuan kalau saya tidak bisa menjawab pertanyaan ujiannya. Voila! Saya takjub sendiri dengan jawaban a la Fatah itu. Yang penting pena saya bergerak dulu. Dan, tiba-tiba semuanya jadi lancar. Dengan menuliskan kalimat-kalimat bernada chicken soup (halah) itu justru ide-ide di kepala saya bermunculan.

”Ya ampun, kok bisa ya aku menuliskan ini…”

Dan, ketika uneg-uneg alias curhatan saya mentok, saya pun dengan sok diplomatisnya menuliskan begini.

“Saya tentu saja tidak ingin mengecewakan bapak dengan curhatan saya ini. Karena saya juga tidak mengetahui betul pendapat Martin Staniland, maka saya akan mencoba menuliskan apa yang saya ketahui mengenai ekonomi politik.”

See! Dengan lancangnya saya memutuskan sendiri. EKONOMI POLITIK saya coba tuliskan berdasarkan pemahaman sendiri. Saat itu, yang ada di kepala saya bukanlah benar atau salah, tapi setidaknya saya telah jujur. Itu saja. Apakah dosen saya akan meremas-remas kertas ujian saya ataukah justru (saya berharap sangat) pak dosen akan tertawa-tawa membaca kertas jawaban saya. Tapi, saya justru tidak dibebani oleh harapan yang pertama. Saya justru makin bersemangat oleh harapan yang kedua seraya menulis jawaban a la saya. Otak saya mendadak ringan, bohlam di kepala saya menyala.

Ujian selesai, saya melihat aroma tidak bahagia di wajah teman-teman saya. Justru dengan bangganya saya bercerita mengenai jawaban super-ngawur (or whataver you define it) saya itu. Mereka tidak percaya, “How come?” Ya, bisa saja, ungkap saya dengan hati yang ringan.

Saat nilai diumumkan di akhir semester, untuk mata kuliah Ekonomi Politik ini, senyum saya terkembang, hati saya mekar.

Alhamdulillah…

Hehehe…

Iklan

13 thoughts on “Uji(an) Kejujuran Paling…

  1. saya malah dituduh nyontek hingga nilainya cuma C sedangkan temanku yang nyontek malah dapat A…hidup ini tidak melihat nilai diatas kertas saja, banyak dosen yang memilih nilai jiwa yang menulisnya…

  2. Masih berusaha bertahan juga….Dapat IP tinggi hasil kerja sendiri itu menyenangkan lho :D.Paling sebel sama yang ngotot nyontek sama kita, kenal aja nggak, tahu-tahu sok akrab, pakai protes pula tentang jawabannya kok bisa begitu, habis itu ketemu di luar kelas pun melengos… huh!

  3. siasetia said: hidup ini tidak melihat nilai diatas kertas saja, banyak dosen yang memilih nilai jiwa yang menulisnya…

    What a WOW words!!!Saya suka kalimat Mbak ini…Memang, ada beberapa orang yang mark oriented, patokannya sama nilai. Padahal paham sama apa yang dia pelajari juga nggak.Saya sih, mending nilai kurang oke, tapi saya paham. Atau, nggak apa-apa nilai saya bagus, tapi itu benar-benar nunjukin kepemahaman saya…

  4. niwanda said: Masih berusaha bertahan juga….Dapat IP tinggi hasil kerja sendiri itu menyenangkan lho :D.Paling sebel sama yang ngotot nyontek sama kita, kenal aja nggak, tahu-tahu sok akrab, pakai protes pula tentang jawabannya kok bisa begitu, habis itu ketemu di luar kelas pun melengos… huh!

    Wah, itu mah kurang ajar namanya. Nggak tahu berterima kasih. Kapok deh sama orang seperti itu.Saya sih so far belum pernah merasakan IP tinggi (I mean, IP di atas 3,5). Pengennya, meskipun IP di bawah 3,5 tapi benar-benar hasil kerja keras sendiri, what a wonderful world… senang rasanya. Seperti yang Mbak bilang 🙂

  5. Dulu waktu SMP/ SMA, saya mencontek, setelah kuliah, weleh, malu saya buat nyontek. Kuliah itu kan pilihan –bukan wajib–, ya kalau nggak mau tanggung jawab belajar, mending gak usah kuliah saja. Saya heran betul pada teman2 yg menyontek, apalagi kl soalnya esai. Kl soalnya esai, dosen toh tetap bakal tau mana yg ngerti betulan, mana yg nggak.

  6. kenterate said: Kl soalnya esai, dosen toh tetap bakal tau mana yg ngerti betulan, mana yg nggak.

    Ya, keliatan banget, kok. Saya juga meskipun kadang minta key words mengenai jawabannya, tapi belum tentu saya bisa merangkainya dengan baik. Ya, menulis apa adanya. Meskipun terkadang nilai spekulasinya tinggi… hahaha

  7. Kalo nyontek, biasanya aku keringet dingin Tah, gemeteraaan hehe, jadi menurutku ngarang lebih oke ketimbang nyontek xixi, lebih ok lagi kalo belajar, tentu… 🙂

  8. lafatah said: Sekian menit berlalu, teman-teman saya di kelas menunjukkan gelagat kurang baik, menyontek. Blablabla…” Selama satu halaman lebih sedikit folio bergaris itu saya tulisi dengan uneg-uneg saya mengenai kondisi kelas yang beraroma sontek. Saya pun melakukan semacam confession alias pengakuan kalau saya tidak bisa menjawab pertanyaan ujiannya.

    Hihihi, aku juga pernah melakukan hal yg sama 😀

Sila Urun Tutur

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s